Mimpi di Negeri Ecek-ecek

Minggu, 28 Oktober 2007Oleh: Hoesnizar Hood
hoesnizarhood@yahoo.com.sg

Alamat email ini sudah di proteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihat alamat email ini
Pernah dengar kata “ecek-ecek”? Tak perlulah saya jelaskan artinya. Nanti tak sempat pula kita bersembang-sembang sekedar mendengar jual temberang saya yang semakin tak jelas ini. Kalau kita orang Melayu atau sudah berdiam lama di negeri Melayu ini saya yakin kita semua paham maknanya. Tapi entahlah bagi orang Batam disana tu, karena saya dengar ada pula Dinas Kependudukannya membuat blanko isian pendataan yang memisahkan berbagai-bagai Melayu pada suku Melayu yang tinggal sejemput itu. Ada Melayu Lingga, ada Melayu Riau, ada Melayu Palembang, ada Melayu Betawi dan lain-lain sebagainya. Entah darimana kawan si pembuat blanko itu dapat ilham untuk berbuat seperti itu. Kalau Melayu ya Melayu sajalah, jangan ditengok pula lagi asal-usulnya.
Orang bersuku-suku itu karena kesadaran budayanya, karena kesepahaman akal budinya dan tentulah identitas bahasa yang dipakainya. Dan disini tentulah orang Melayu dan bahasa Melayu diuntungkan karena dari bahasanyalah adanya bahasa Indobnesia yang dipakai sebagai bahasa pemersatu kita seperti sekarang ini.
Tiba-tiba kawan saya Mahmud yang setia itu sudah ada di depan mata saya. Ternyata ia juga membawa berita yang sama, tentang hal ihwal Melayu yang terkotak-kotak itu. “Sudahlah Melayunya tak seberapa disitu, dibagi-bagi pula dengan berbagai-bagai asal-usul yang tak menentu” keluh Mahmud keapada saya. Saya sudah kehabisan tenaga hendak menjawabnya. Tau-tau sajalah Mahmud itu. Silap kita menjawab, kita pula ditekingnya. Saya hanya berpikir mungkin yang menggagas itu sedang deman setelah hari raya lewat ini. Demam karena terlalu banyak minum air kaleng yang beraneka warna. Karena bagi Mahmud, kalau saja mau ditelusuri susur galuh kemelayuannya, mungkin saja sukunya adalah suku Melayu Arab atau Melayu Cina. Tambah bingung lagikan?
“Tak usah bingung-bingung, belajar aja lagi tentang Melayu dan kemelayuan baru nanti akan mendapat jawabannya”, taking Mahmud kepada saya. Nah-kan…” Jangan cuma bisa bikin blanko yang datanya ecek-ecek nanti jadi kepala dinas ecek-ecek yang menghasilkan hasil yang ecek-ecek pula.

Alhasil tak jadi Bandar dunia Madani jadi Bandar dunia “Madati” (Madat = Narkoba). Kalau sudah begitu nanti Batam jadi kota ecek-ecek. Tanjungpinang, Karimun, Natuna dan Lingga jadi ecek-ecek. Akhirnya Kepulauan Riau jadi negeri ecek-ecek juga. Karena tak jelas kemelayuannya. Sama mungkin kita pikir dulu orang cuma ecek-ecek saja bisa bikin pabrik narkoba. Betul tak? Eh, tak taunya sekarang mata kita terbeliak ternyata pabrik itu adalah tetangga. Dan sekali produksi jumlahnya lebih besar dari dana APBD di beberapa kabupaten kita.
“Tak jelas!”, teriak Mahmud. Saya rasapun demikian karena apa lagi yang mau dijelaskan. Kita memang hidup di zaman yang serba tak jelas. Zaman abu-abu yang susah ditebak warnanya. Kadang-kadang karena melihat segala macam hal yang terjadi, berpikirpun kita merasa tak merdeka. Misalnya begini, semua orang tau dia adalah seorang yang bersalah, tapi dia mengaku mati-matian bahwa dia tak pernah salah, kemudian ada yang bilang pula bahwa ia tak bisa dipersalahkan. Jadi siapa sebenarnya yang salah. “Dan karena keadaan itu pula kita harus merasa bersalah?”, ujar Mahmud dengan geram. Saya hanya menjawabnya dengan diam. Karena saya pikir diam adalah jawaban yang paling baik. Diam adalah obat paling mujarab. Diam adalah senjata pamungkas bila ingin selamat. Lho?
“Kita diam saja Tok, apapun yang dilakukan oleh orang lain, kita diam saja. Biarkan saja mereka berbuat sesuka hati mereka. Sesuka kepala otak mereka yang mereka anggap didalam isinya paling berlinyang itu. Karena percuma, kalau kita menjawab atau mungkin kita setengah berteriak kita pasti akan dituduh sebagai pembangkang yang katanya punya kepentingan pribadi, ditunggangi pihak ketiga, ada unsur sentimen, barisan sakit hati, gila kekuasaan atau apalah hantu belau lain namanya. Kita biarkan saja kalau ada yang membuat sejarah mengaku pejuang, terus bikin organisasi, terus musyawarah, terus jadi pemimpin, biar saja. wong kita punya catatan dan tau semuanya kok!”.
“Semuanya berjalan dengan cepat ye, Tok”, Mahmud agak tertunduk. Dia menghempaskan pantatnya ke sebatang kayu yang disusun mirip kursi panjang itu. “Semuannya berjalan dengan cepat sekali”. Orang-orang yang dulu kelihatannya bodoh sekarang sudah menjadi tokoh. Kawan-kawan yang dulu paling sibuk berdemonstrasi sekarang sudah jadi pegawai negeri. Sekelompok orator yang paling dimusuhi oleh koruptor sekarang sudah jadi kontraktor. Ada yang cuma baik dan dekat dengan wartawan sekarang malah sudah diakui sebagai budayawan. Ada yang cuma hobi pakai dasi sekarang sudah jadi politisi. Dan tentu kini ada yang sudah jadi pejabat dan karena mereka sudah jadi pejabat tak usahlah diberitahu apa saja sebelumnya yang pernah mereka buat.
Tiba-tiba tubuhnya terguncang-guncang ke kiri dan ke kanan. Angin berdesis. Sebuah helicopter membawanya mendekati awan dan dibawah ia melihat pulau-pulau negerinya bagai manikam yang bersinar. Dia melihat hasil pembangunan yang dilakukannya sebagai sebuah komitmen terhadap janji yang ia katakan dulu. Ia melihat orang-orang ngebut di atas jembatan Batam-Bintan dengan Mercy atau Jaguar. Ia melihat sebuah stadion olah raga di Dompak sedang mempertandingkan liga sepak bola se-Asia Tenggara. Ia melihat dibalik jendela-jendela kaca ruangan yang dingin para pegawai bekerja dengan giat digedung pemerintahan yang 99 tingkat.
Ia melihat anak-anak nelayan sedang bermain jet ski, mereka membuat tikungan tajam dan airnya membasahi wajah-wajah kawannya. Ayah dan ibu mereka menyusuri pantai berboncengan dengan Harley Davidson setelah menjual hasil tangkapan. Para petani sedang berjongget dangdut dibawah rimbun pepohonan yang subur. “Oh, negeriku yang sejahtera”. Helikopter itu sesekali meninggi dan merendah diantara bangunan hotel yang mewah disebuah kawasan wisata terpadu. Tentu kawan terpadu tanpa permainan judi yang sejak kecil Mahmud selalu diingatkan oleh ayahnya bahwa judi…menjanjikan kemenangan…bohong! Seperti lirik lagu Rhoma Irama yang ia suka.
Sebuah gedung pemuda yang didam-idamkan juga berdiri megah dihuni oleh pemuda-pemuda yang bukan hanya bisa meneriakkan Sumpah Pemuda selama 28 Jam. Tapi tau makna bertanah air satu, berbangsa satu dan tentu menunjung bahasa persatuan yang asalnya dari negeri kita ini.
Mahmud ingin saja menitikkan air mata. Akhirnya ia berhasil juga membangun negeri ini. Sebuah keberhasilan dengan kebersamaan. Ia mengelus-ngelus dadanya melihat keseluruh penjuru di bawah sana. Kemudian ia mengerutkan dahinya. Sungguh ia tak menemukan ada sebuah gedung kesenian karena tak seorang stafnya yang mengerti bahwa kesenian itu apa. Tak ada gedung lembaga adat karena terlalu banyak suku didalam suku Melayu yang mengalir dalam dalam dirinya. Ia kecewa, ia berpikir keras. Ia berharap sekali semua ini mimpi, hingga nanti jika terbangun ia tak kecewa.***

Sumber:Batampos 

One thought on “Mimpi di Negeri Ecek-ecek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s