Tersandung Kolom Suku Bangsa

Selasa, 30 Oktober 2007
Blanko Kependudukan Bakal Ditarik
BATAM (BP) – Pemerintah Kota Batam sedang mempertimbangkan untuk menarik kembali formulir biodata kependudukan Kota Batam 2007 yang sudah terlanjur dibagikan ke masyarakat. Pasalnya, pemilahan istilah Melayu ke dalam beberapa kelompok seperti tertera dalam blanko tersebut, menuai banyak kritik. “Saya sudah mendengar kalau poin suku bangsa itu jadi perdebatan. Tapi, hingga kini, belum ada sikap (penolakan) resmi yang disampaikan kepada kami,” kata Wali Kota Batam Ahmad Dahlan ditemui setelah memimpin upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Dataran Engku Putri, Senin (29/10).
Di salah satu kolom, yakni kolom Data Lainnya, poin 47 tentang Suku Bangsa, masyarakat diminta mengisi. Pilihannya beragam, mulai dari Aceh, Lampung, Jawa, Sunda, Melayu dan lainnya. Namun khusus Melayu, dipisahkan ke dalam beberapa kelompok. Tertulis: Melayu Betawi, Melayu Deli, Melayu Kalimantan, Melayu Pelambang, Melayu Lingga/Kepri dan Melayu Siak/Riau.
Ahmad Dahlan menuturkan, pencantuman ragam Melayu dalam kolom suku bangsa itu, semata agar Pemko mendapatkan data yang lebih spesifik. Data akurat, lanjut dia, akan sangat membantu Pemko dalam mengambil kebijakan maupun penyelesaian suatu permasalahan di masyarakat.
Meski data suku bangsa itu cukup berarti bagi Pemko, namun Dahlan bersedia meninjau kembali kolom-kolom isian dalam formulir tersebut. Katanya, Pemko tak ingin meresahkan masyarakat. Ditanya, apakah formulir itu akan ditarik dari peredaran? Tanpa banyak fikir Dahlan berujar. “Kemungkinan ditarik, ada”.
LAM: Melayu Itu Satu
Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Batam Imran AZ menilai, poin 47 yang tercantum dalam formulir biodata kependudukan Kota Batam 2007 itu, merupakan salah satu bentuk pemilahan-milahan suku Melayu.
Menurutnya, masyarakat Bumi Segantang Lada ini tidak mengenal sebutan Melayu Palembang, Melayu Lingga/Kepri dan Melayu Siak/Riau. “Dari dulu, Melayu itu ya cuma satu,” kata Imran sambil mengacungkan jari telunjuknya membentuk angka satu.
Meski belum membuat penyataan secara resmi, ia mengimbau agar Pemko Batam segera menarik kembali formulir tersebut dari masyarakat. Mengenai dana yang sudah terlanjur dikucurkan untuk mencetak formulir biodata kependudukan sebanyak 300 ribu eksemplar, Imran menegaskan itu menjadi tanggungjawab Pemko.
Dalam kasus ini, kata dia, kerugian dana tak seberapa jika dibandingkan efek yang ditimbulkannya dari poin pertanyaan tersebut.
Jika tak ada aral, kata Imran, Selasa (30/10) ini, pihaknya akan menggelar pertemuan dengan Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika untuk membicarakan masalah tersebut. Selain LAM, beberapa tokoh Melayu di Batam juga sempat menyuarakan keberatannya atas pemilah-milahan Melayu. (ros)

Sumber:Batampos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s