Oleh-oleh Jamaah Haji Batam dari Tanah Suci

Jumat, 28 Desember 2007
Melihat Ibu Semangat Ibadah, Bapak Pilih Masak
Menyenangkan bisa mendapat oleh-oleh pengalaman dari orang yang baru saja pulang dari berpergian jauh. Ini pulalah yang dibagi beberapa Jamaah Haji (JH) Batam kepada Batam Pos saat kedatangan mereka di Asrama Haji Batam Centre, kemarin. Peluk cium menyambut kedatangan JH kelompok terbang (kloter) II Batam yang tiba di Asrama Haji tepat pukul 13.30 WIB kemarin. Dari sela-sela JH yang turun dari bus, terlihat wajah-wajah penuh kerinduan. Mata mereka mencari-cari dimana sanak saudara yang datang menjemput.

Di antara tubuh-tubuh yang kebanyakan mengenakan pakaian berwaran hijau muda itu, terlihat juga beberapa wajah yang akrab di warga Batam. Di antaranya Wakil Walikota (Wawako) Batam Ria Saptarika, Sekretaris Dewan Kota Batam Guntur Sakti, Ketua DPRD Kepri Nur Syafriadi, dan Camat Batam Kota Said Khaidar.

Entah disengaja atau tidak, mereka ini tidak mengenakan pakaian seragam JH embarkasi Batam. Ria Saptarika misalnya, mengenakan gamis putih dilapis rompi abu-abu. Guntur, tampil dalam balutan setelan gamis krem lengkap kopiah yang menutup kepalanya yang baru saja digunduli. Tak kalah berbeda, adalah Nur dan Said. Keduanya mengenakan gamis serba putih. Nur melapisi kopiahnya dengan selendang segitiga putih, sedangkan Said, menggelungkannya sehingga menjadi sebuah sorban. “Hallo, apa kabar,” kata Said menyapa.

Sambil sesekali batuk, ia mengaku masih belum bisa bercerita banyak karena batuk.
Namun dengan wajah sumringah, ia mengatakan kalau ada kesempatan lagi, ingin kembali
ke Mekah. Banyak hal-hal sepele yang di sana terasa sangat menyenangkan. Terutama berjalan kaki menuju mesjid untuk melakukan salat berjamaah.

“Sulit dijelaskan. Semua menyenangkan. Batuk memang. Siapa sih yang tidak batuk di sana selain onta?” katanya berkelakar dan langsung terbatuk-batuk.

Karena dipanggil seseorang, ia meminta diri untuk kemudian pergi ke arah yang memanggilnya. Saat itu, panitia sedang mengumumkan infak yang telah terkumpul untuk membangun rumah sakit haji yang peletakan batu pertamanya akan dilakukan dalam tahun ini.

Di tengah kerumunan orang-orang yang hadir, Guntur yang sebelumnya diminta menuturkan pengalamannya selama di Tanah Haram, menepi. Dengan pengucapan yang tenang, mantan Kabag Humas Pemko Batam ini menceritakan sekilas pengalamannya.

Awalnya, cerita Guntur, ia juga merasakan apa yang banyak diceritakan orang-orang mengenai keberangkatan haji. Semua informasi yang mereka peroleh mengatakan, di Tanah Suci nanti, Allah akan membuka dan menunjukkan balasan terhadap apa-apa yang dilakukan sebelum berangkat. Misalnya, akan ditampar orang jika sebelum berangkat suka menampar orang. “Saya sempat khawatir karena saya merasa banyak salah,” katanya mencoba melawan suara-suara pengumuman dari pengeras suara di aula kedatangan siang itu.

Ternyata, katanya, semua itu tidak terbukti. Kuncinya, kata Guntur, adalah berusaha sekeras tenaga untuk selalu ikhlas. “Alhamdulillah semua kekhawatiran tadi tidak terbukti,” katanya nyata tampak senang.

Dalam menajalankan ibadah haji, satu lagi kuncinya adalah menjaga fisik tetap kuat dan bugar. Sebab perjalanan dari maktab (tempat tinggal) ke mesjid, lumayan jauh. Di masa Arbain 8 hari, ia membuktikan sendiri nasehat yang menganjurkan untuk berangkat haji di waktu muda.

Uniknya, kata Guntur, yang didampingi JH lain di sampingnya, dalam keberangkatan kali ini, JH sangat kompak. Saking kompaknya, dan mendukung semangat kaum ibu beribadah, kaum bapak di kloter ini rela memasak makanan rombongan sehari-hari. “Kalau sudah siap (masakannya), kita calling ibu-ibu dan mereka datang makan ke tempat kita,” katanya tertawa.

Setelah makan, barulah kaum ibu membersihkan semua peralatan masak berikut piring dan gelasnya. “Tapi kita senang. Apalagi jauh dari kerjaan,” katanya lagi-lagi tertawa.

Tak jauh berbeda, Ria juga mengakui menikmati “pembagian tugas” ini. Bahkan ia yang biasanya bergelut dengan pemerintahan ini, rela memasak empal daging onta untuk JH lain. “Syukurlah enak,” katanya tak menutupi rasa senangnya.

Selain pengalaman memasak ini, Ria dan istri juga mendapat kenikmatan yang menharu birukan keduanya. Di tengah desakan jemaah lain, ia dan istri sempat mencium hajar aswat. “Dan kami tidak harus kena sikut dulu baru bisa menciumnya,” katanya yang terlihat sedikit lebih gemuk dari sebelum berangkat ini.

Dalam ceramah di perjalanan, cerita Ria, ia membuta komitmen bersama yang lain. Komitmen yang akan mereka terapkan sesampai di tanah air ini ditulis dalam secarik kertas.

Ditanya komitmennya sendiri, Ria mengaku, sebagai hamba Tuhan, ia bertekad meningkatkan ibadah dengan berusaha sesering mungkin salat berjamaah dan mengefektifkan salat subuh keliling dari satu mesjid/musala ke mesjid/musala lain. “Sebagai pimpinan, saya akan berusaha meningkatkan kinerja saya di Pem-ko,” paparnya.(cr6)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s