24 Tahun Pemko Membangun Batam

Jumat, 28 Desember 2007
Tanam Pohon hingga Pesta Rakyat
SUDAH 24 tahun Pemerintah Kota (Pemko) Batam hadir, tepatnya pada 24 Desember. Tak ada hingar bingar perayaan. Namun, rangkaian kegiatan menyambut ulang tahun ke-24 itu bertumpuk. Mulai dari penanaman pohon hingga pesta rakyat.Batam awalnya hanya sebuah kecamatan di bawah Kabupaten Kepri. Lalu, pada 24 Desember 1983 berdasarkan peraturan pemerintah (PP) Nomor 34 Tahun 1983, Batam resmi menjadi kota administratif. Kecamatan yang dibawahi baru tiga, yakni Belakangpadang, Batam Barat, dan Batam Timur.

Motivasi dibentuknya Batam menjadi kota administratif saat itu cukup sederhana. Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan sebagai akibat berkembangnya Batam menjadi daerah industri dan perdagangan, alih kapal, penumpukan dan basis logistik serta pariwisata.

Kelak, 24 tahun kemudian, Batam bergerak lebih cepat dibandingkan kabupaten induknya. Batam kini sudah menjadi salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional, seiring dengan visi besarnya.

Bergerak lagi jauh ke belakang, ke abad-abad lampau, Batam diperkirakan sudah ditempati oleh penduduk aslinya, orang-orang Melayu, orang selat atau orang laut pada zaman Kerajaan Temasek di penghujung tahun 1300. Malah, dari catatan lainnya, Batam diperkirakan sudah dihuni oleh orang laut sejak tahun 231.
Asal mula nama Batam sendiri, belum ada literatur yang menjelaskannya dengan pasti.

Satu-satunya sumber yang dengan jelas menyebut Batam adalah Traktat London di tahun 1824. Lalu, pada masa jayanya Kerajaan Malaka, Batam berada di bawah kekuasaan Laksamana Hang Tuah. Setelah Malaka jatuh, kekuasaan atas kawasan Pulau Batam dipegang Laksamana Hang Nadim yang berkedudukan di Bintan.

Saat Kerajaan Riau Lingga hadir, dan munculnya jabatan Yang Dipertuan Muda Riau, Pulau Batam dan pulau-pulau di sekitarnya berada di bawah kekuasaan Yang Dipertuan Muda Riau, sampai berakhirnya Kerajaan Melayu Riau tahun 1911.

Kembali pada Kota Madya Batam di tahun 1983, Wali Kota Madya pertamanya adalah Ir HR Rahman Draman yang menjabat dari tahun 1983 – tahun 1989. Oktober 1989 hingga tahun 1999, Drs RA Aziz ditunjuk sebagai Wali Kota Madya Batam yang kedua. Tahun 1999, berdasarkan Undang Undang Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi, dan Kota Batam, status Batam resmi menjadi Kota Batam.

Caretaker Wali Kota yang ditunjuk adalah Nazief Soesila Dharma. Najib menjadi caretaker sampai tahun 2001. Dari 2001 hingga 2005, Batam dipimpin oleh duet Wali Kota Nyat Kadir dan Wakil Wali Kota Asman Abnur. Manan Sasmita, menjadi penjabat Wali Kota Batam selama satu tahun. Lalu, dalam pemilihan kepala daerah Batam Februari 2006, untuk pertama kalinya Batam memiliki Wali Kota yang dipilih langsung oleh masyarakat. Pasangan Ahmad Dahlan dan Ria Saptarika menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batam dengan masa bakti tahun 2006 – tahun 2011.

Berdasarkan UU Nomor 53 Tahun 1999 itu, Batam yang awalnya hanya terdiri dari tiga kecamatan mekar menjadi delapan kecamatan. Yakni Kecamatan Batuampar, Nongsa, Galang, Seibeduk, Bulang, Belakangpadang, Sekupang, dan Lubukbaja.

Beberapa tahun kemudian, Batam terus mekar hingga kini menjadi 12 kecamatan. Empat kecamatan terakhir itu adalah Kecamatan Bengkong pemekaran Kecamatan Batuampar, Kecamatan Batuaji dan Kecamatan Sagulung pemekaran Kecamatan Seibeduk dan Kecamatan Batam Kota yang merupakan pemekaran Kecamatan Nongsa.

Mengungkap sejarah Pemko Batam, rasanya juga tak lengkap kalau tak mengikutsertakan peran Otorita Batam (OB) di dalamnya. Karena berdasarkan UU Nomor 53 Tahun 1999 itu, dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan Pemko mengikutsertakan OB. Bersama OB, Pemko Batam ingin seperti perahu bermesin dua. Sehingga deru pembangunan Batam kencang berlari, menjadikan Batam kota modern dengan tanpa meninggalkan nilai-nilai agama dan kearifan lokal.

Selama 24 tahun membangun, Pemko Batam terus bekerja keras mewujudkan visinya menjadi bandar dunia madani dan lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional. Berbagai kerja dan program dicanangkan untuk menggapai impian itu. Realisasinya, bisa kita lihat dengan munculnya sarana dan prasarana yang cukup lengkap di Kota Batam ini. Hotel berbintang cukup banyak, mal dan pelabuhan-pelabuhan, kawasan wisata, sarana ibadah, fasilitas pendidikan, taman dan lain-lain.

Tahun ini, pertumbuhan ekonomi Batam secara keseluruhan relatif stabil. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Batam, pertumbuhan ekonomi Batam di tahun ini berada di level yang hampir sama dengan tahun lalu, yakni sekitar 7,2 persen hingga 7,4 persen. Sektor industri manufaktur masih menjadi andalan Batam dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi dengan sumbangsih sekitar 62-65 persen. Sektor perdagangan, hotel dan restoran, berada di tempat berikutnya dengan donasi sekitar 20-22 persen.

Agustus silam, Batam bersama Bintan dan Karimun sudah ditetapkan sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas atau biasa kita sebut free trade zone (FTZ). FTZ bisa disebut sebuah kesempatan, sekaligus tantangan terbesar Pemko Batam bagaimana mewujudkan visinya untuk menjadikan Batam sebagai bandar dunia madani dan lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional. (dari berbagai sumber)

Advertisements

One thought on “24 Tahun Pemko Membangun Batam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s