Gong Xi Fa Chai….

Minggu, 03 Pebruari 2008
Tahun baru Imlek 2559 sebentar lagi akan dirayakan oleh masyarakat Indonesia khususnya di Provinsi Kepulauan Riau yang memang banyak terdapat warga keturunan Tionghoa. Festival Naga dan Barongsai serta tradisi mercon dan kembang api bakal menjadi hiburan rakyat yang menarik.
Tradisi perayaan tahun baru Imlek telah diwariskan sejak ratusan tahun yang lalu. Perayaan Imlek yang konon dimulai dari daratan Tiongkok ini, di Indonesia telah ditetapkan pemerintah sebagai hari besar nasional sejak pemerintahan Presiden Abdulrahman Wahid (Gus Dur).More…Kini, suka cita menyambut ‘Tahun Tikus’ telah berkumandang di daerah-daerah yang banyak warga keturunan Tionghoa. Tak terkecuali di Batam. Kesibukan warga menyambut Imlek sudah terasa dengan warna merah yang mendominasi di pusat keramaian dan pusat perbelanjaan.Ada beberapa tradisi yang sudah turun-temurun dilakukan dalam merayakan Imlek. Di antaranya, hidangan Imlek, pakaian baru dan rapi, membakar petasan, saling mengunjungi dan memberi hormat serta tidak ketinggalan mengenai angpao.Di balik kemeriahan perayaan Imlek juga terselip rasa kebersamaan dan kepedulian dengan sesama. Seperti halnya umat Islam yang memberikan zakat fitrah kepada kaum miskin-papa, kalangan etnis Tionghoa yang hidupnya berkecukupan juga membagi-bagikan derma. Ini diberikan kepada fakir miskin tanpa mempertimbangkan agama dan suku.Tak lupa, setumpuk harapan dan asa pun digantungkan dalam pergantian Tahun Baru Imlek kali. Gong Xi Fa Chai. ***===============================

Imlek Antara Tradisi dan Spiritual

Waktu yang berlalu menjadi saksi sejarah yang pernah diukir oleh Cina yang menandakan bahwa etnis tersebut telah mengenal matematika jauh sebelum dibuatnya kalender Masehi. Hal itu terbukti dengan perayaan tahun baru Cina yang kerap disebut tahun baru Imlek.

7 Februari 2008 ini perayaan tahun baru Imlek memasuki tahun ke 5229 yang mana memiliki selisih sekitar 3221 tahun dengan tahun Masehi. Dibandingkan dengan tahun baru Islam yang mana pada 10 Januari 2008 lalu, tahun Hijriyah baru menginjak tahun ke 1429 H.

Mengulas soal Imlek, perayaan yang sering disebut sebagai perayaan tahun baru musim semi (di Cina) ini, dari sudut etimologi (sejarah kata) terdiri dari dua kata, yaitu Im yang berarti bulan, dan Lek yang berarti penanggalan.

Dengan demikian, Imlek berarti penanggalan yang dihitung berdasarkan peredaran bulan. Tentu ini berbeda dengan perhitungan penanggalan Yanglek/Masehi, yang dihitung berdasarkan peredaran matahari (yang berarti matahari).

Sejarah penanggalan Imlek, penggagasnya adalah Huang Di atau Kaisar Kuning yang memerintah (2698-2598 SM). Beliau disamping seorang Raja Agung, juga seorang Nabi dan sekarang disebut Bapak Ilmu Pengetahuan. Karena pada jamannya paling banyak menciptakan penemuan-penemuan baru dan peradaban dunia dimulai pada jaman itu.

Sistem penanggalan karya Huang Di ini, kemudian diterapkan oleh pendiri Dinasti Xia (2205-2197 SM) dengan Kaisar bernama Da Yu, yang juga merupakan salah satu Nabi dalam agama Khonghucu. Namun ketika Dinas Xia jatuh diganti Dinasti Shang (1766-1122 SM), Dinasti Shang penanggalannya diganti dengan sistem penanggalan Shang.

Ketika Dinasti Shang runtuh dan diganti oleh Dinasti Zhou (1122-475 SM) sistem penanggalan juga diganti dengan sistem penanggalan Zhou. Sejak Dinasti Zhou jatuh, terjadilah jaman perang berlangsung sekitar 254 tahun. Setelah itu baru mulailah berdiri Dinasti Qin (221-207 SM) dengan Kaisar bernama Qin Shi Huang dan sistem penanggalannya dirubah lagi. Jadi boleh dikatakan di daratan Tiongkok pernah memakai 4 macam sistem penanggalan dari jaman Dinasti Xia sampai dengan Dinasti Qin.

Nabi Khonghucu yang hidup pada tahun (551-479 SM), hidup pada masa Dinasti Zhou (1122-475 SM). Waktu itu Nabi melihat masyarakat mayoritas hidup dari pertanian, maka sistem penanggalan Dinasti Xia-lah yang paling baik dan cocok. Karena awal tahun barunya jatuh pada awal musim semi, sehingga dapat digunakan sebagai pedoman dalam pertanian.

Saat itu Nabi Khonghucu menyarankan agar negara kembali menggunakan kalender Dinasti Xia, namun nasihat bijak itu tidak digubris pemerintahan waktu itu. Maka Nabi bersabda dalam Sabda Suci XV : 11 berbunyi. “Pakailah penanggalan Dinasti Xia”. Dan sabda tersebut disosialisasikan oleh para murid-muridnya.

Setelah runtuhnya Dinasti Qin, berdirilah Dinasti Han (206 SM- 220 M) oleh Kaisar Han Wu Di (140-86 SM), tepatnya tahun 104 SM, sistem penanggalan Xia diresmikan sebagai penanggalan Negara dan tetap digunakan hingga saat ini.

Untuk menghormati Nabi Khonghucu, penentuan perhitungan tahun pertamanya dihitung sejak tahun kelahiran Nabi Khonghucu dan Agama Khonghucu ditetapkan sebagai agama Negara (state religion) Cina.

Tetapi pada kenyataanya, sistem penanggalan Imlek ini tidak hanya digunakan di Cina, namun merambah ke negara-negara lainnya. Dalam kehidupan keagamaan di antara umatnya di Jepang, Korea, Vietnm, Taiwan, Burma, dan negara lainnya meskipun dengan nama yang diucapkan berbeda, tetapi merayakan hari tahun barunya sama.

Bahkan di lingkungan agama Budha Sekte Mahayana yang berkembang di kawasan Asia Timur juga menggunakan penanggalan Imlek guna menentukan hari-hari suci keagamaannya.

Berbeda dengan semua itu, bagi penganut Budha Maitreya, peringatan tahun baru Imlek dirayakan bukan hanya sekedar perayaan tahun baru biasa, hari itu merupakan hari kelahiran suci Budha Maitreya. Sehingga perayaannya digabungkan antara perayaan tahun baru dan kelahiran Budha Maitreya.

Tidak Sekedar Mengikuti Tradisi

Disebutkan Pandita Liyas Masri, yang merupakan salah satu pandita di Maha Vihara Duta Maitreya Sei Panas Batam, perayaan imlek bukan sekedar perayaan yang mengikuti tradisi belaka, melainkan dirayakan dengan penuh semangat dengan memegang teguh empat sikap.

Sikap pertama adalah, merayakan dengan suka cita dan berpandangan jauh ke depan, tidak hanya berpikiran sesaat tanpa mempertimbangkan hari esok yang akan dilalui.

Sikap kedua, dirayakan sesuai dengan kemampuan perekonomian keluarga, dan tidak melakukan dengan kemewahan-kemewahan yang hanya akan menimbulkan berbagai masalah dikemudian hari. Sikap ketiga adalah menghormati makhluk hidup (hewan,red) dengan tidak menyakitinya dihari kelahiran Budha Maitreya.

“Kelahiran Maitreya adalah untuk kebahagiaan bagi seluruh makhluk hidup, pesan Maitreya adalah makhluk hidup itu tidak ada yang tersakiti dihari kelahirannya, jadi rayakan dengan tanpa menyakiti makhluk hidup itu, dengan cara menikmati jamuan vegetarian,” ujar Pandita yang kerap disapa Pandita Liyas ini. Sikap terakhir yang harus dilakukan adalah bhakti puja dengan cara memuja para dewa dengan sesajian yang vegetarian.

“Harapan Maitreya adalah semua makhluk berbahagia ditahun kelahirannya, maka makanlah makanan yang vegetarian, dengan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, vegetarian tidak hanya memakan sayur dan buah-buahan, melainkan sayur dan buah-buahan itu telah diolah dengan resep-resep yang sederhana dan enak di makan,” tandasnya.(sm/04)
——————————-

Imlek dan Sistim Penanggalan Lunar

Perayaan Imlek di Indonesia baru berlangsung semarak dan dilakukan secara terbuka pasca reformasi 1998 silam. Imlek dapat dirayakan karena reformasi dan Presiden KH Abdurrahman Wahid menerbitkan Kepres No 6 Tahun 2000 yang intinya mencabut Inpres No 14 Tahun 1967 yang menghimbau kegiatan seni budaya, adat istiadat, aksara China di Indonesia diselenggarakan secara kekeluargaan dan di tempat ibadah.

Inpres No 14/1967 dampaknya sangat besar, karena aparat birokrat menafsirkannya sebagai larangan. Contohnya, seni budaya Barongsai dan Liong (naga) dilarang dipertontonkan kepada masyarakat. Kenyataannya, seni budaya Barongsai maupun Liong bukan hanya kepunyaan masyarakat Tionghoa, tetapi digemari semua elemen bangsa.

Di mata Ketua PSMTI kepri, Eddy Hussy, sejarah Imlek dari jaman dulu hingga sekarang sama. Imlek merupakan hari dimana seluruh warga Tionghoa diseantero dunia menyambut pergantian tahun berdasarkan penanggalan sistem lunar (Yin li). Tradisi perayaan Imlek diwarisi ribuan tahun yang lalu yakni sejak 2698 SM sampai sekarang.

Telah mengakar dalam hati sanubari masyarakat Tionghoa dimanapun, baik yang di daratan maupun diluar Tiongkok seperti Korea, Jepang, Malaysia, Singapore, Amerika, Australia maupun Indonesia. Di tahun 2008 M ini, warga Tionghoa di seluruh dunia akan siap meninggalkan tahun 2558 dan menyongsong tahun baru 2559.

“Makna Imlek di tahun Tikus kali ini masih sama seperti tahun tahun sebelumnya. Intimya, kita berdo’a memohon kepada Sang Maha Kuasa untuk diberikan keselamatan dan Rizki yang lebih baik dibanding tahun lalu,” ujar Eddy saat dihubungi via ponselnya.

Rayakan Jauh dari Kemewahan

Dalam Imlek tahun ini, PSMTI sengaja tidak menggelar acara besar-besaran. PSMTI berencana mengumpulkan seluruh anggotanya untuk merayakan Imlek bersama di Harbour Bay pada tanggal 20 Februari mendatang.

Eddy mengungkapkan, jika perayaan tahun ini sengaja jauh dari kemewahan. Hal ini merupakan salah satu wujud kepedulian PSMTI terhadap situasi Indonesia yang banyak dialanda bencana alam di beberapa daerah, kerusuhan, dan masalah besar lainnya.

“Kita (PSMTI) sangat prihatin dengan kondisi Indonesia yang banyak dilanda bencana dan masalah. Untuk tahun ini, kita sengaja merayakan Imlek dengan kesederhanaan sebagai wujud keprihatinan terhadap bangsa,” tuturnya.

Di akhir pembicaraan, Eddy juga sempat mengungkapkan agar FTZ segera di sahkan oleh pemerintah pusat. Karena dengan disahkannya FTZ, hal itu sangat berpengaruh terhadap roda perekonomian khusunya di Batam.

“Kita berdo’a agar FTZ segera disahkan bukan pada saat Imlek ini saja. Sebelumnya, kami seluruh pengusaha di Batam berharap agar FTZ segera di sahkan oleh pemerintah,” ucap Eddy.(sm/id)
——————————–

Imlek Saatnya untuk Berbagi

Sebagaimana lazimnya pada perayaan Imlek 2008 ini, Ketua PSMTI Tanjungpinang dan Bintan, Jenny berpendapat, Hari Raya Imlek merupakan hari yang paling berbahagia bagi seluruh masyarakat keturunan Tionghoa di seluruh Indonesia.

Tahun baru China 2559 kali ini, bertepatan dengan tahun Tikus Emas. Bagi Jenny, tahun ini akan membawa nasib baik bagi orang-orang yang berjiwa cekatan dalam melakukan sesuatu, seperti halnya sifat tikus yang pintar, cepat dan susah diikuti geraknya.

“Tikus memang identik dengan koruptor. Tapi dalam tahun Tikus Emas ini, bukan itu yang dimaksud. Tahun ini, hannya orang-orang yang pandai, cerdas dan gesit yang akan banyak berhasil. Sementara, yang lambat akan semakin tertinggal jauh,” pungkas Jenny.

Dia mengisahkan hal yang biasa dilakukannya disaat Imlek adalah membantu orang-oang, tetangga atau siapa saja yang ekonominya lemah, seperti pendistribusian bantuan berupa paket sembako, baik melalui organisasi PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Thionghoa Indonesia) maupaun secara pribadi.

“Saya mau bahagia yang saya rasakan di hari Imelk ini dan dirasakan juga oleh orang-orang yang ekonomina lemah. Kasihan mereka, dan mereka semua masih butuh bantuan dari orang-orang yang dermawan. Dan saya selalu merasa kalau Imlek adalah waktu yang tepat untuk saling berbagi dengan orang-orang yang susah itu,” kata Jenny.

Berdasarkan yang dia ketahui, orang yang lahir pada sio tikus, akan menuai keberhasilan di tahun ini.(sm/as/bs)
————————————

PSMTI Karimun Ajak Tampil Sederhana

Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kabupaten Karimun

Effendi Wirwanto SH, menghimbau kepada segenap warga Tionghoa di Karimun untuk merayakannya tahun baru Imlek kali ini dilakukan dengan sederhana tanpa ada perayaan yang terkesan galmor.

Pernyataan tersebut ditekankan Effendi kepada warga tionghoa Karimun mengingat tingkat perekonomian di Tanjungbalai Karimun sampai saat ini terkesan menurun.

“Saya menghimbau agar seluruh masyarakat keturunan Tiongkok (Tionghoa) agar dalam perayaan tahun baru Imlek 2008 yang bertepatan dengan shio tikus bisa dilaksanakan secara sederhana,” katanya.

Dalam perayaan tahun baru Imlek 2008 ini yang dilihat bukanlah kemegahannya atau kemewahannya, melaikan rasa kebersamaan, patriotisme dan nasionalisme antar sesama masyarakat Tionghoa serta masyarakat selain Tionghoa.

Maka dari itu melalui Shio tikus ini, tambah Effendi, hendaknya dapat meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan serta kebersamaan dalam membangkitkan kemajuan warga Tionghoa di dunia perantauan.

“Pada shio tikus ini saya mengharapakan agar seluruh warga Tionghoa yang ada di diperantauan untuk dapat meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan serta kebersamaan dalam membangkitkan kemajuan warga Tionghoa di perantauan,” ungkapnya.

Tidak terlepas dari itu, Effendi juga tidak lupa mengucapkan terima kasih, baik terhadap pemerintah pusat maupun pemrintah kabupaten yang telah memberikan kebebasan terhadap warga Tionghoa yang berada di Indonesia mengenalkan adat istiadatnya.

Disamping itu ia juga berpesan kepada seluruh warga Tionghoa khususnya yang ada di Karimun agar dapat menjaga kepercayaan yang diberikan pemerintah dalam memperkenalkan adat istiadat Tionghoa, serta dapat membantu memberikan rasa aman dan nyaman dalam perayaan tahun baru Imlek tahun 2008.(sm/12)
——————————–

Imlek Perayaan Pesta Para Petani Cina

Menurut ketua pengurus Vihara Budi Bhakti, Rudi Tan, Imlek atau Sin Tjia adalah sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani di Cina yang biasanya jatuh pada tanggal satu di bulan pertama di awal tahun baru.

Perayaan ini juga berkaitan dengan pesta para petani untuk menyambut musim semi. Perayaan ini dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama. Acaranya meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta, dan perayaan Cap Go Meh.

Tujuan dari persembahyangan ini adalah sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun mendatang mendapat rezeki lebih banyak, untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga.

“Pada setiap perayaan Imlek, kita memohon do’a agar kehidupan tahun ini lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Baik itu rezeki, keselamatan dan hal lainnya,” ujar Rudi yang ditemui di Vihara beberapa waktu lalu.

Menjelang peringatan Imlek tanggal 7 Februari 2008 ini, masih ada yang mempertanyakan apakah Imlek itu perayaan agama atau budaya. Rudi Tan menjelaskan bahwa perayaan Imlek adalah sebuah tradisi masyarakat Tionghoa yang telah membudaya. Perayaan Imlek tidak membedakan agama maupun asal usulnya, akan tetapi tradisi yang mewujudkan silaturahmi keluarga, kerabat, teman, dan tetangga.

Jembatan bagi orang yang beragama menyatakan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan doa dan harapan mendapat perlindungan dari Sang Pencipta, Panjang Umur, Rezeki Melimpah, Kesehatan dan Sukses selalu.

Jadi tidak heran di Tiongkok bahwa perayaan Imlek dilakukan oleh umat Islam, Kristen, Katolik, Budha dan agama lainnya, bahkan orang yang tidak beragama (atheis) pun merayakannya, karena Tiongkok adalah negara komunis.

“Jika dikatakan Imlek perayaan agama atau tahun baru sebuah agama, menurut saya itu keliru. Tapi boleh-boleh saja karena keyakinan seseorang umat yang beragama sepanjang tidak mengklaim Imlek adalah miliknya,” papar Rudi.

Lebih lanjut, Rudi mengungkapkan jika perayaan Imlek berasal dari kebudayaan petani. Imlek merupakan tahun baru masyarakat Tionghoa yang ditandai dengan penanggalan berdasarkan sistem lunar (Yin li) yaitu sistem penanggalan berdasarkan peredaran bulan. Jadi tidak ada hubungannya dengan kepercayaan dan ajaran agama apapun. Sistem ini berbeda dengan sistem solar, yaitu penanggalan Masehi yang berdasarkan peredaran matahari Yang Li.

Dalam kehidupan masyarakat di Tiongkok, sistem lunar lebih cocok bagi para petani, sebab pada setiap tanggal 15 Imlek, rembulan akan bulat dan setiap rembulan bulat, air laut akan pasang. Oleh karena bertani sangat bergantung pada kondisi alam, maka kalender lunar menjadi kebutuhan para petani. Sampai sekarang petani di Tiongkok mempergunakan penanggalan Imlek guna menyambut datangnya musim semi yang membahagiakan mereka.

“Saat Imlek, tradisinya menyiapkan segala bentuk persembahannya berupa berbagai jenis makanan. Idealnya, pada setiap acara sembahyang Imlek disajikan minimal 12 macam masakan dan 12 macam kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12,” kata pria yang sangat dikenal di kalangan pengusaha Batam.

Di Cina, hidangan yang wajib adalah mie panjang umur (siu mi) dan arak. Di Indonesia, hidangan yang dipilih biasanya hidangan yang mempunyai arti “kemakmuran,” “panjang umur,” “keselamatan,” atau “kebahagiaan,” dan merupakan hidangan kesukaan para leluhur.

Kue-kue yang dihidangkan biasanya lebih manis daripada biasanya. Diharapkan, kehidupan di tahun mendatang menjadi lebih manis. Di samping itu dihidangkan pula kue lapis sebagai perlambang rezeki yang berlapis-lapis.

Kue mangkok dan kue keranjang juga merupakan makanan yang wajib dihidangkan pada waktu persembahyangan menyambut datangnya tahun baru Imlek. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.

“Ada juga makanan yang dihindari dan tidak dihidangkan, misalnya bubur. Bubur tidak dihidangkan karena makanan ini melambangkan kemiskinan,” tutur pria separuh baya ini sambil menghisap sebatang rokok.

Dalam kesempatan itu, Rudi juga mengungkapkan jika pada Imlek tahun ini ia berharp agar FTZ segera disahkan oleh pemerintah pusat. Hal itu berkaitan dengan semakin terpuruknya roda perekonomian di Batam dan sekitarnya.

“Saya berdo’a supaya pemerintah secepatnya mensahkan FTZ di Batam. Karena banyak pengusaha yang sudah mengeluh dengan diberlakukannya PP 63. Do’a lain yang saya panjatkan adalah semoga Indonesia di tahun Tikus ini terhindar dari segala bencana alam yang tahun sebelumnya banyak melanda di beberapa daerah,” pungkas Rudi Tan mengakhiri pembicaraan.(sm/id)
————————-

Pemko Hormati Perayaan Imlek di Batam

SEBAGAI kepala daerah di Kota Batam yang mewakili seluruh masyarakat Kota Batam di luar agama Budha, Wakil Walikota Batam Ria Saptarika menyatakan Pemerintah Kota (Pemko) Batam sangat menghormati perayaan Imlek tahun 2008 ini. Sebab, agama Kong Hucu bagi masyarakat Budha sudah diakui dan menjadi agama resmi di Indonesia. Dan sebagai pemerintah, tentunya wajib untuk menghormati hari besar tersebut.

Karena ketika masyarakat Islam ataupun masyarakat Kristiani sedang merayakan hari besar agamanya, masyarakat Budha juga mampu memunculkan sikap hormatnya. Sehingga diharapkan bagi masyarakat lainnya di Kota Batam, rasa saling menghormati sesama agama dapat terwjud. Tidak hanya dari pemerintah saja.

Ria mengaku, dirinya tidak pernah berkunjung ke rumah teman-temannya yang beragama Budha. Baik sewaktu masih menjabat di DPRD Provinsi Kepri, maupun ketika sudah menjabat sebagai Wakil Walikota Batam. Hanya saja ketika sudah berada di tempat kerja, dirinya baru mengucapkan selamat hari raya.

“Pemko sangat menghormati perayaan Imlek di Kota Batam. Karena kita juga tahu dan masyarakat Budha juga pasti memahami, bagaimana perayaan yang mereka jalani dapat dilaksanakan dengan baik. Tanpa harus terjadinya kekacauan ataupun suasan yang tidak kondusif. Meskipun sedang merayakan hari raya, dapat juga menjaga saling menghormati dengan masyarakat lainnya,” ujar Ria.

Dalam kesempatan itu Ria mengatakan, masyarakat Budha yang selalu identik dengan perayaan Barongsai sewaktu merayakan Imlek, menjadi moment yang bagus jika mampu ditangkap Pemko Batam untuk dijadikan sebagai event tahunan di Kota Batam. Karena diyakini bahwa pertunjukkan Barongsai ini mampu menarik minat para wisatawan.

“Belum ditangkap saja sama pemerintah. Tentunya juga untuk menjadikan event tahunan bisa terwujud secara bertahap. Secara perlahan akan kita gaungkan, dengan melibatkan Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Batam terhadap pertunjukkan Barongsai oleh masyarakat Budha. Saya mewakili Pemko Batam tak lupa mengucapkan selamat menyambut Hari Raya Imlek,” ungkap Ria.

Minta Toko Tak Tutup Lama

WAKIL Walikota Batam Ria Saptarika, tidak hanya mengucapkan selamat menyambut Hari Raya Imlek bagi umat Budha yang sebentar lagi bagi mereka yang merayakannya. Tetapi di saat kegembiraan bagi umat Budha itu, Ria tidak lupa memberikan pesan dan kesan kepada mereka yang merayakannya.

Wakil Walikota Batam berharap, perayaan Imlek yang jatuh pada 7 Februari 2008 mendatang tidak akan sampai membuat lama toko-toko yang ada di Kota Batam tutup total. Terutama toko-toko yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Seperti kebutuhan sembako, maupun kebutuhan lainnya. Mengingat, mayoritas para pedagang di Kota Batam penganut agama Budha.

Jika memang toko akan tutup selama empat hari seperti perayaan sebelum-sebelumnya, Ria mengharapkan pada perayaan Imlek tahun 2008 ini hanya tutup dua hari saja. Jangan sampai masyarakat Kota Batam di luar agama Budha menjadi kesulitan.

“Satu yang saya minta, tutup tokonya jangan lama-lama. Kalau bisa dua hari saja. Kasihan masyarakat lainnya yang tiba-tiba membutuhkan sesuatu, sementara toko pada tutup,” jawab Ria tertawa saat dimintai komentarnya soal perayaan Imlek di Kota Batam akhir pekan kemarin.

Permintaan, usulan dan saran yang disampaikan Ria ini ternyata tidak lepas dari pengalaman pribadinya beberapa tahun yang lalu saat perayaan Imlek di Kota Batam. Dimana saat itu, toko tutup total sekitar satu minggu lamanya.

Dan secara kebetulan saat itu, Ria yang bertempat tinggal di kawasan Tiban ingin membeli keperluan yang cukup penting. Namun saat dirinya berkeliling mencari barang yang dimaksud tidak dijumpainya, dikarenakan toko di kawasan Tiban tutup total. Bahkan ketika mengelilingi kawasan Nagoya, hasil yang diperolehnya juga sama.

“Kasihan juga masyarakat ketika membutuhan sesuatu. Apalagi kita melihat di Batam kan pedagang itu mayoritas masyarakat Budha. Ketika mereka sedang merayakan hari besar, tentunya mereka ingin libur. Sementara kita masyarakat yang lain, membutuhkan jasa mereka yang biasanya menjual barang keperluan kita,” ungkap Ria dengan tersenyum. (sm/ra)

================

Tradisi Imlek Di Lingkungan Anggota DPRD Kota Batam

Danir Tan (Anggota Komisi III DPRD Kota Batam)
– Perayaan Imlek dalam Perbedaan Keyakinan

Meskipun Danir Tan telah menganut agama Islam, namun ia menganggap perayaan imlek sebagai perayaan tahun baru kaumnya yang keturunan Cina. Menurutnya, perayaan Imlek tidak hanya diperuntukan bagi penganut agama Konghucu, melainkan untuk seluruh keturunan Cina semenjak kerajaan Huang Di atau Kaisar Kuning yang memerintah (2698-2598 SM).

Bagi Danir, setiap tahunnya saat malam perayaan tahun baru Imlek, ia akan bertandang kerumah orangtuanya untuk berkumpul dengan sanak keluarga yang lain. Selayaknya malam Idul Fitri, dimalam itu merupakan malam ajang silaturahmi dengan sanak keluarga sembari bermaaf-maafan.

“Dalam keluarga besar saya tidak semuanya muslim, jadi malam itu adalah malam berkumpul seluruh keluarga dan saling bermaaf-maafan dan juga saling tukar Angpao dan memberi Angpao kepada anak saudara,” terangnya.

Ikan Dingkis

Menyinggung kekhasan perayaan imlek dalam keluarga besar Danir, menurutnya adalah kukus ikan Dingkis dengan daun bawang. ikan Dingkis merupakan ikan yang hanya bisa didapatkan sekali dalam setahun, yakni saat perayaan Imlek. Karena ikan tersebut hanya akan muncul ditengah lautan menjelang perayaan imlek. Namun, bagi keluarga besarnya, seolah telah menjadi tradisi bahwa ikan tersebut telah tersajikan pada malam perayaan imlek.

Konon menurut cerita yang pernah didengarnya, ikan tersebut dikukus dengan daun bawang karena mengandung arti menyimpan. Menyimpan dalam hal ini tentunya adalah menyimpan kebaikan, yang bisa diartikan sebagai lambang menyimpan kekayaan. Disamping itu, yang tidak kalah pentingnya adalah memberikan jeruk kepada sanak keluarga sebagai bentuk do’a dan pengharapan kepada orang tersebut.

“Malam perayaan itu biasanya ngumpul, tapi keesokannya saya biasa mengundang teman-teman di lingkungan pekerjaan untuk turut merayakannya,” ujarnya.

Namun hal yang menjadi sebuah tradisi yang tak pernah tinggal dalam perayaan imlek adalah bagi-bagi Angpao untuk anak saudara-daudara. Di malam ini keceriaan akan sangat kental terasa, karena seluruh anggota keluarga bersuka cita menyambutnya. Akan tetapi yang menjadi catatan yang menyedihkan adalah jika salah satu pasangan dalam keluarga tersebut tidak memiliki anak atau keturunan, maka dampaknya akan sangat terasa.

“Kalau tidak memiliki anak, dimalam bagi-bagi angpao ini akan sangat terasa, karena kita tentunya menyaksikan anak saudara dikasi angpao oleh saudara lainnya atau dari orang tua kita, namun anak kita tidak ada, sehingga berkah dari mereka untuk anak kita tidak ada,” terangnya. (sm/04)

=======================================

Asmin Patros, (Anggota Komisi II DPRD Kota Batam)
-Makan Mie Hokkian Malam Imlek

Makanan yang paling wajib dalam keluarga besar Asmin Patros saat menyambut malam Imlek adalah penyajian Mie Hokkien di rumah orang tuannya. Uniknya mie ini hanya disajikan sekali dalam setahun disamping penyajian kukus, goreng atau steam ikan Dingkis.

“Hokkian Mie adalah menu wajib dalam keluarga kami, mi ini disajikan khusus oleh ibu untuk anak-anaknya, ini sudah menjadi tradisi semenjak nenek moyang kami yang terdahulu, dan resepnya juga diwariskan turun temurun,” ungkapnya.

Dijelaskannya, tahun imlek yang tahun ini jatuh pada tanggal 7 Februari, maka pada malam sebelumnya ia bersama saudarannya yang lain akan berkumpul di rumah orang tuanya. Disana seluruh keluarga dijamu makan. Sebelumnya dari rumah masing-masing hanya mencicipi sedikit makanan, karena akan makan di rumah orang tuanya. Dimalam perayaan tersebut, seluruhnya akan bergadang hingga pertukaran malam.

Pagi-pagi sekali, saudara-saudara akan pulang ke rumah masing masing untuk membereskan rumah, mandi dan bertukar pakaian. Selanjutnya kembali lagi kerumah orang tua untuk meminta maaf dan saling bersalaman dengan seluruh sanak keluarga.

“Tak jauh beda dengan perayaan Idul Fitri, pagi Imlek itu kami juga saling maaf-memaafkan dan sungkem kepada orang tua,” ungkapnya. Dan tak ketinggalan memberikan Angpao kepada anak saudara, dan khusus kami yang telah berkeluarga memberikan Angpao keapa orangtua tambahnya.

Selama perayaan Imlek tersebut menurut Asmin, setiap malamnya ia akan selalu berada di kediaman orangtuannya untuk berkumpul dengan keluarganya yang lain. Sementara disiang harinya adalah aktivitas bebas untuk seluruh kalangan. “Disiang hari biasanya saya mengadakan acara jamuan untuk rekan-rekan bisnis, sebagai penyambung silaturahmi di tahun baru,” ujarnya.(sm/04)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s