Dongeng itu Punya Power

Minggu, 10 Februari 2008
Tije SH, Guru dan Pengelola Pendidikan Tije Club & School
Dunia pendidikan dari segala tingkatan di Batam terus mengalami peningkatan. Hal ini tak terlepas dari pengaruh globalisasi yang kian meningkat pesat, sehingga pengelola lembaga pendidikan di Batam terus meningkatkan mutu pendidikan mereka.Tije SH yang sudah akrab dengan anak-anak play grup dan TK di Batam ini juga terpanggil untuk meningkatkan mutu pendidikan di Batam yang dimulai sejak dini. “Batam yang bertetangga dengan Malaysia dan Singapura, mau tidak mau pendidikan kita di sini harus bisa bersaing dengan mereka,” kata Tije yang lebih akrab disapa Kak Tije oleh anaka-anak di Batam.
Tije yang anak-anak Batam mengenalnya dengan “Kak Seto” nya Batam ini, mengatakan berbagai hal positif bisa dilakukan untuk mencerdaskan anak sejak dini. “Di antaranya, dengan mutu pendidikan yang baik dan lingkungan belajar anak yang mendukung,” terang bapak satu anak yang mahir mendongeng ini.
Seperti apa konsep pendidikan yang baik dan bagaimana persaingan lembaga pendidikan usia dini di Batam? Berikut wawancara wartawan Batam Pos, Jamil Qasim dan Lilis Lishatini bersama Tije SH, guru dan pengelola pendidikan Tije Club & School di kawasan The Central Sukajadi, Batam.

Anda dikenal oleh anak-anak dengan mahir mendongeng?
Iya, waktu itu, saya mendapatkan seorang anak yang susah sekali diajarin. Diajarin yang baik-baik tidak mengerti, dimarahin tambah tidak mengerti. Dari situ, saya mencari satu metode yang paling baik buat anak ini, yakni dongeng dan sejumlah TK juga mengajarkan hal seperti itu. Ternyata dari dongeng itu bisa menyampaikan sesuatu. Saya mencoba dan ternyata bisa. Kemudian saya mencoba membaca buku-buku dan menceritakan kepada anak-anak dan setelah saya ceritakan dengan intonasi yang beragam akhirnya mengena ke mereka. Dongeng ini sebagai sarana untuk mendidik juga. Dongeng itu mempunyai power yang baik sekali, dan kita juga menikmati. Jadi ada timbal balik. Kadang-kadang saya membaca dongeng juga mendapat sesuatu dari isi dongeng itu. Itu membuat saya menarik untuk mendongeng. Mendongeng itu jauh lebih enak dari yang mendengarnya. Jadi saya lebih mengerti kenapa ada pendongeng nasional seperti Kak Seto dan lainnya. Saya yakin sekali dongeng itu sendiri ada sesuatu yang mereka dapatkan. Itu metode yang bagus untuk menyampaikan ke anak-anak.

Berapa banyak koleksi dongengnya?
Ada beberapa yang saya koleksi, tapi bukan dongeng yang khas Indonesia. Ada dongeng-dongeng yang ceritain oleh orang tua. Dan kadang-kadangan saya menggabungkan beberapa cerita dengan membuat cerita baru. Atau mengarang sendiri sesuai kondisi audensi, sehingga lebih mengena pada masalahnya.

Obsesinya?
Obsesi saya mudah-mudahan semua komunitas masyarakat di Batam ingin belajar kehidupan diri sendiri maupun lingkungan, karena terlalu muluk kalau saya katakan ingin seperti Kak Seto. Saya ingin ada satu komunitas kita bisa belajar bersama-sama dan saya juga bisa belajar.
Mengelola lembaga pendidikan apa karena hobi, bisa diceritakan?
Sebenarnya, cita-cita saya sejak awal adalah ingin menjadi lawyer tapi seiring perjalanannya waktu saya ikut psikotes tak tercapai. Akhirnya saya menjadi guru, saya pikir tidak nyambung, tapi tetap saya coba dan ternyata saya punya potensi di sini. Kemudian, dunia anak adalah dunia yang banyak mengajarkan saya. Jadi dari awal ini sudah menjadi hobi saya yang harus dijalani.

Kenapa tertarik mengelola lembaga pendidikan anak?
Tertarik mengelola dunia pendidikan karena saya merasa pendidikan itu mengubah karakter, mengajarkan moral kepada anak-anak. Utama pada anak-anak yang usia dini. Di situ saya tertarik. Karena kalau hanya mentransper ilmu saja, bukan tugas seseorang guru. Jadi guru itu mendidik. Kata pendidikan yang pernah saya dengar adalah memang bisa membentuk karakter anak-anak. Tentunya, untuk mengubah karakter anak-anak yang tepat itu dimulai sejak dini.

Keunggulan pendidikan yang ditawarkan?
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar sekolah itu bermutu. Pengelola sekolah itu (Tije club, red), harus mengerti betuh ilmu yang harus diajarkan. Jadi ilmu yang diajarkan kepada anak-anak harus benar-benar. Kualitasnya harus bagus yakni ilmunya. Setelah itu, yang terpenting adalah dedikasinya.
Sebagai pengelola sekolah, dedikasi yang tinggi terhadap ilmu maupun terhadap anak didik. Kemudian, baru kreativitas untuk memaket sebuah sistem pembelajaran poin plus. Kalau belajar kompensional, sifatnya hanya teoritis. Bagaimana menggabungkan teoritis dan praktik? Itu akan jadi unggul.

Persaingan pengelola lembaga pendidikan anak-anak di Batam seperti apa?
Memang kalau dilihat cara pandang sebagian masyarakat Batam, pendidikan adalah bisnis. Jadi berbondong-bondong orang mendirikan sekolah, dan memandang sekolah ini sebagai bisnis mereka.
Ini saya melihat sebagai cara pandang yang salah kaprah. Jadi saya melihatnya ada dua cara, ada sisi mencari profit dan ada sisi lain yakni sosial. Tapi orang bisa mengartikan lebih fokus pada sisi profit. Karena itu sekolah jadi lebih mahal.
Saya dengar-dengar dan melihat sekolah swasta di Batam jauh lebih mahal, karena itu ada sekolompok orang lebih mementingkan ke profit. dari pada sosialnya.

Kongkretnya menghadapi kompetisi itu?
Bagi saya, kompetisi itu tetap ada. Hanya saja ketika saya lebih konsen kepada pendidikannya ini akan membuat masyarakat bisa menilai. Bukan hanya berkompetisi dalam artian untuk mendapatkan profit, tapi saya merasa jika murid saya banyak berarti mutu saya bagus. Kalau saya menghadapi kompetisi itu mungkin dari konsen di sisi pendidikannya saja. Saya yakin nanti masyarakat yang bisa menilai.

Yang bagus seperti apa?
Pendidikan yang bagus adalah pendidikan yang dilakukan untuk mencerdaskan kehidupan manusia. Karena pendidikan sebagian orang hanya untuk sebuah nilai, titel dan lain-lain. Pendidikan yang bagus adalah anak diajarkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan dirinya sendiri. Umpanya, mereka sudah menamatkan semua jenjang pendidikan, dia bisa menciptakan lapangan pekerjaan dari pendidikan yang mereka peroleh, bukan semacam nilai rangking satu, dua, tiga, titel daa sebagainya. Tapi dia mampu tidak, dengan titel yang banyak bisa bermanfaat bagi kehidupan dirinya pribadi atau bagi kehidupan di lingkungan mereka. Itu harus jadi satu sistem dari tingkat yang paling rendah sampai tingkat yang paling tinggi.
Pendidikan itu harus dibentuk bagi manusia untuk kehidupannya secara keseluruhan, bukan untuk nilai. Pendidikan itu dibentuk untuk memanusiakan manusia.

Kesan pendidikan ekslusif?
Kalau ekslusif sih saya tidak terlalu spesifik. Lalu, kenapa Tije Club membuat lembaga pendidikan begitu megah, apa itu sebaga daya tarik agar orang-orang kaya mau masuk ke Tije Club? Nggak. Saya berangkat dari awal kenapa Tije Club saya pilih jadi club, tempat saya pilih yang bagus, suasana saya pilih yang bagus dan nyaman di dalamnya, karena setelah beberapa kali saya ke negeri jiran, saya coba bandingkan apa yang harus dilakukan terhadap anak-anak di Kota Batam ini yang kebetulan berdekatan dengan negara tetangga. Ternyata, di sana (luar negeri, red) mereka menghargai pendidikan bukan hanya ilmunya saja tapi bagaimana lingkungannya yang nyaman.
Saya agak prihatin bukan berarti saya tidak setuju dengan kondisi belajar yang sederhana. Saya agak prihatin anak kita selalu belajar dalam keadaan semua serba sangat sederhana. Kenapa tidak, kalau kita mampu, menyediakan suasana yang lebih lux, bukan dalam arti mencari suatu kemewahan namun lux dalam belajar dalam suasana rapi, bersih dan tertata. Itu membuat mereka jauh lebih nyaman untuk belajar.
Dan saya lihat Batam yang dekat dengan negeri jiran yang pendidikannya lebih maju dari pada negara kita, sehingga kita jangan berpikiran kenapa harus pakai AC atau yang lain sebagainya. Kalau kita mampu kenapa kita tidak biasakan hal yang demikian itu.
Jadi nantinya, anak-anak kita bisa bersaing dengan mereka yang sudah lebih dulu maju. Dan anak-anak kita juga mampu bercerita bahwa ketika sekolah di TK tidak kalah soal bangunannya, tidak kalah suasananya dari TK yang di Singapura atau di Malaysia. Saya akan buat lingkungan sekolah, yang akan membuat anak-anak tidak akan minder yang kebetulan di antara mereka ada pindah sekolah ke luar negeri, karena di negara kita juga sudah ada lingkungan sekolah yang demikian. Sekolah yang bukan mewah, tapi lebih tertata dan rapi.
Kalau ekslusif, saya tidak pernah membatasi siapapun yang masuk sekolah ke Tije Club. Jadi termasuk pengelola sekolah yang tidak membedakan yang kaya dan miskin, atau sengaja saya pasang tarif tinggi agar yang kaya saja bisa sekolah di sini. Saya akumulasikan biaya operasional dan pengembangan pendidikan berikutnya, dan membandingkan sejumlah sekolah yang lebih mahal. Agar saya sebagai pengelola tidak terlalu berat dan sekolah ini bisa jalan, kemudian saya mengambil jalan tengahnya.

Penilaian Anda pada lembaga pendidikan TK di Batam?
Perkembangan pendidikan TK di Batam cukup baik. Sekarang karena kompetisi itu tadi dan banyak orang mengerti pentingnya pendidikan usia dini, sehingga positifnya buat saya adalah banyak sekolah-sekolah yang didirikan dengan metode-metode yang mengikuti zaman. Banyak kegiatan-kegiatan atraktif yang dilakukan, misalnya ada wisata belajar dengan mengunjungi instansi dan lembaga. Sehingga anak-anak sejak dini sudah tahu. Ini suatu hal yang positif. Termasuk lembagan pendidikan di pulau-pulau programnya juga sudah mulai mengikuti perkembangan yang ada.
Saya berkeinginan membuat anak Batam yang memiliki sistem pendidikan yang sesuai dengan zamannya sekarang, tidak lagi seperti zaman kita dahulu. Menurut saya, Kota Batam layaklah dijadikan Yogyanya pendidikan anak-anak dari pulau-pulau yang lain, seperti yang pernah diutarakan Pak Ria Saptarika (Wakil Wali Kota Batam, red).

Impian yang belum terwujud?
Saya ingin punya satu sekolah yang khasnya lingkungan tapi bukan alam, seperti lingkungan Kota Batam yang nuansa pulau. Jadi satu sekolah yang khas sekali dengan Batam, saya bisa ajarin anak ke pantai, saya bisa mengajari anak di sampan kecil cara menangkap ikan.
Jadi sekolah alam khas Batam. Misalnya, kalau di Jakarta ada sekolah yang dikelola presenter Dik Doank dan sekolah alam yang ada di Bogor. Mereka punya kebun sendiri dan lain-lain. Jadi intinya satu sekolah yang tipikal khas Batam, dunia baharinya lebih banyak. ***

BIODATA
N a m a : Tije SH
Tempat/Tgl Lahir : Meral Karimun, 7 Desember 1974
Alamat : The Central Sukajadi
Pekerjaan : Guru dan Pengelola Sekolah Tije Club & School
Pendidikan : 1. SD Yayasan Bakti Tugas Meral Karimun
2. SMP Santo Yusup Tanjungbalai Karimun
3. SMA Don Bosco Padang
4. Sarjana Universitas Parahyangan Bandung
5.Mahasiswa S2 UGM Yogyakarta
Istri : Debora El Dadali SH
Anak : Adeo Dato A Suo Tempo Isalah Hang
Riwayat Pekerjaan : 1. LBH ‘’Pengayoman” Bandung
2. Koordinator Sekolah Tije Club & School
3. Ketua Umum Yayasan Warga Hainan Batam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s