Mulai Rajin Jemput Bola ke Masyarakat

Selasa, 26 Pebruari 2008USAI dilantik sebagai wali kota dan wakil wali kota Batam, Drs Ahmad Dahlan dan Ria Saptarika memilih berjalan kaki menuju Kantor Wali Kota yang berjarak sekitar 100 meter dari Gedung DPRD Batam. Keduanya menolak naik mobil dinas yang sudah disediakan protokoler Pemko.

Mengkoordinasi kekuatan internal memang menjadi tugas pertama Dahlan-Ria. Keduanya menginginkan perubahan kinerja pegawai negeri sipil (PNS) sehingga lebih disiplin dan profesional.

Sejak saat itu, Dahlan-Ria mewajibkan setiap kepala dinas membuat laporan harian kepadanya. Ketentuannya, minimal ada dua kepala dinas yang menyampaikan laporan tugas dan kegiatan setiap hari.

“Kami kan tidak melihat individu, tapi melihat ke kinerjanya,” tegas Ria Saptarika, waktu itu mengenai kemungkinan pergantian kabinet kepada dinasnya.

Duet pemimpin ini memang tidak terburu-buru merombak atau mengganti pejabat-pejabat pembantu. Terlihat ada kesan hati-hati dari kedua pejabat itu ditambah keinginan untuk berusaha menggejot kemampuan para pembantunya.

Namun, pada saat itu Dahlan-Ria sudah dihadapkan pada permasalahan klasik di Batam yaitu kondisi lingkungan yang kotor dan persoalan banjir yang tak kunjung tuntas. Bahkan, pada di waktu bersamaan Batam mendapat predikat sebagai kota terkotor dari tim penilai piala Adipura pemerintah.

Masalah lain adalah sektor investasi yang cederung menurun. Dahlan-Ria pun menyatakan akan berusaha maksimal untuk mengembalikan citra Batam sebagai kawasan ekonomi berdaya saing tinggi di wilayah Asia Pasifik.

“Kami punya tekad menjadikan Batam benar-benar sebagai pusat ekonomi Asia Pasifik. Itulah yang jadi harapan besar pemerintah pusat ketika Batam dikembangkan sejak awal dekade 1970 dengan kucuran investasi miliaran dolar AS,” kata Dahlan.

Dengan cepat dia mulai menjemput bola. Dahlan rajin menggelar pertemuan dengan berbagai komponen masyarakat untuk menyerap aspirasi langsung. Upaya tersebut juga untuk mengidentifikasi langsung berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Batam.

Pertemuan dilakukan mulai dengan organisasi paguyuban, kalangan pekerja, kelompok pengusaha, sampai kepada para guru. Tidak jarang, dalam pertemuan-pertemuan itu Dahlan-Ria harus mendapatkan kritikan pedas mengenai kondisi Batam.

Namun Dahlan terus mencatat setiap permasalah yang disampaikan. Bahkan dia mengikutsertakan seluruh kepala dinas dalam pertemuan-pertemuan itu agar ikut menyimak dan kemudian bersama-sama membahas solusi terhadap persoalan yang muncul.

Dahlan mengaku dirinya sangat menyadari bahwa dalam konteks demokrasi, semua komponen harus bisa saling mengisi, mendukung, serta memberi solusi bagi upaya besar menjadikan Batam sesuai harapan.

Namun, dari awal Dahlan sudah membuat hipotesa bahwa satu dari penyebab timbulnya beragam masalah sosial di Batam seperti masalah kebersihan, kriminalitas, dan prilaku kurang tertib adalah kurangnya kesadaran dan rasa memiliki.
Menurutnya, masih banyak masyarakat menganggap Batam hanya tempat mencari rezeki untuk selanjutnya ditinggalkan pulang kampung. Banyak yang belum beranggapan Batam sebagai tempat membina kehidupan yang lebih baik di masa depan.

“Batam ini kota harapan mengubah nasib bagi beragam orang yang datang dari berbagai daerah. Ini yang penting sekali mendapat perhatian bagaimana memanfaatkan kekuatan mereka untuk bersama-sama mengubah dan membangun nasib Batam kelak,” ungkapnya.(rudi alhasan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s