Ketika Pejabat dan Politisi Berpuisi

Sabtu, 08 Maret 2008
Sukhri dan Ricky Tak Mau Ketinggalan
Kamis (6/3). Angin malam yang berseliweran bertabrakan dengan pucuk-pucuk daun akasia yang memang tumbuh subur di area Komunitas Rumahitam. Beberapa helai daun jatuh, menghempas tenda ukuran 3 x 8 meter yang menutupi sebagian halaman rumah baca Raja Ali Kelana. Di teras Rumah Baca itu, seperangkat alat musik dan sound sistem sudah stand by. Kursi-kursi untuk tamu jemputan juga sudah siap. Satu per satu tamu undangan juga sudah mulai berdatangan sejak ba’da maghrib.
Acara Pentas Puisi Birokrat, Politisi dan Tokoh Masyarakat Batam pun siap digelar. Sayang, kendati penonton sudah tak sabar, acara terpaksa molor hingga pukul 10.00 Wib dari waktu yang dijadwalkan mulai pada 19.30.”Tampilnya para pejabat, politisi dan tokoh-tokoh masyarakat Batam pada Pentas Puisi ini, selain untuk menjalin komunikasi serta merangsang kepedulian mereka terhadap kehidupan berkesenian di Batam, juga sebagai bentuk apresiasi silaturahmi antara seniman dengan pejabat publik,” ujar Pimpinan Komunitas Rumahitam, Tarmizi sebelum acara dimulai..

Sekitar pukul 21.00 lebih, Wakil Walikota Batam tiba di lokasi. Tak lama berselang, anggota DPD RI Aida Ismeth Abdullah pun menyusul. Sebelumnya, halaman bermain anggota Rumah Hitam itu sudah ramai diisi oleh para pejabat serta tokoh masyarakat lain. Termasuklah istri Walikota Batam Hj Mariyana Ahmad Dahlan.

Acara pun bergegas dibuka dengan sedikit sambutan dari Tarmizi dan Ria Saptarika serta Aida Ismeth. Selanjutnya acara pembacaan puisi pun terlaksana. Tarmizi tampil sebagai pembuka. Lewat puisi “Sajak Rumah Hitam Musim Utara”, Tarmizi mencoba menyampaikan isi hatinya kepada para pejabat yang hadir.

”Rumah panggung sepanjang kampung, kini telah jadi beton tak berupa dalam minda kita yang purba….hari lalu, kau sempat bertanya tentang air pasang dan kita sama-sama menangkap udang. Kini, bakaunya telah ditebang dan udang kita hilang. Hutan bakau itu tlah jadi ladang birahi dari nafsu-nafsu liar tak terhalang…,” teriak lantang Tarmizi.

Selanjutnya, tampil Hj. Aida Ismeth Abdullah dengan pembacaan dua puisi berjudul Zaman dan Indonesia Menangis. Dengan suara melengking dan power yang cukup bertenaga, istri Gubernur Kepri ini tampil penuh ekspresif. Kegundahaan dan kegalauan hati Aida terhadap perkembangan zaman dewasa ini tersampaikan lewat bait-bait puisinya. Betapa risau ia dengan bahaya narkoba yang selalu mengintai generasi muda.

Begitu pun saat membacakan Indonesia Menangis. Aida yang juga anggota DPD ini berteriak lantang, kadang merintih pilu, menangisi kondisi negeri ini yang menurut catatannya sudah berada di ambang kekhawatiran.

Pertunjukkan berikut diisi oleh Komunitas Perkusi Melayu Pimpinan Taufiqurrahman, seniman musik senior di Batam. Lewat sentuhan tangan Taufiq, anggota komunitas yang terdiri dari anak-anak remaja itu tampil sungguh mempesona. Mengusung kolaborasi yang unik antara bebunyian tradisionil serta modern, apa yang disajikan ABG tersebut membuat malam berubah menjadi hangat dan bergemuruh. Perasaan seperti diaduk-aduk dan dibawa berkelana hinga menyeberang lautan.

Syair-syair yang diucapkan sang vokalis seakan hendak membawa penonton ke ranah Nagroe Aceh Darussalam yang penuh dengan air mata kepiluan.

Tidak ketinggalan, Kelompok Pemusik Jalanan (KPJ) juga ambil bagian. Dengan gaya “cuek jalanan” mereka tampil membawa dua lagu. Cukup impresif dan berhasil membuat suasana malam penuh kehangatan. Terlebih saat lirik-lirik ‘Panggilan dari Gungung” milik Iwan Fals mengudara. Seperti halnya Komunitas Perkusi Melayu, KPJ cukup sukses mendulang aplaus dari para penonton.

Ketenangan seorang Hj Maryana Ahmad Dahlan dalam membacakan puisi layak mendapat acungan jempol. Intonasi suara yang tegas serta artikulasi yang jelas, membuat “curahan hatinya” Kepada Raja Ali Haji, Sastrawan Pejuang dari Riau seakan berubah menjadi curahan hati semua penonton.
Kendati mengaku tak pandai membaca puisi, namun penampilan Ibu Walikota Batam ini sudah “mencuri perhatian” beberapa seniman Batam yang hadir malam itu.

Setelah Mariana Dahlan, berturut-turut tampil pula Maaz Ismail, Mardison (Ajudan Wawako), Ahmad Hijazi, serta tak ketinggalan para politisi, Sukhri Farial (PPP), Ricky Indrakari (PKS), Yanuar Dahlan (Golkar) dan tokoh perempuan Batam, Erna. Mereka-mereka ini, malam tersebut benar-benar mencoba berakrab-akrab ria dengan puisi, Ada yang tampil seadanya, tapi ada pula yang benar-benar nekat mencoba bertungkus lumus dengan pasukan kata-kata ajaib itu.

Sebagai kota industri, keberadaan para pelaku seni khususnya sastra dan puisi memang seperti oase di padang pasir. Kehadiran mereka mampu memberikan penyegaran-penyegaran baru pada otak yang seakan-akan tidak pernah berhenti berfikir di Batam ini. Lewat permainan kata-kata, para penyair dan sastrawan bisa membawa kita pada dunia petualangan yang penuh warna.

Oleh sebab itu, seperti yang dikatakan Tarmizi, tidak ada salahnya jika dengan terselenggaranya pentas puisi birokrat, politisi dan tokoh masyarakat Batam ini masyarakat Batam berharap tentang timbulnya sebuah “rasa peka nurani” di hati para pejabat/pemimpin dan tokoh-tokoh publik Batam terhadap segala permasalahan yang terjadi di Batam, terutama hal-hal yang menyangkut kepentingan masyarakat kecil yang kerap terpinggirkan oleh ganasnya pembangunan. Semoga saja! (sm/17)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s