Banyak Pemimpin Tidak Amanah

Banyak Pemimpin Tidak Amanah
Senin, 17 Maret 2008
SEKUPANG – Menteri Pemuda dan Olahraga Adyaksa Dault mengemukakan bahwa banyak pemimpin di negeri ini tidak amanah dan tidak bijak dalam mengelola bangsa. Ini tercermin dari rakyat semakin miskin akibat praktek korupsi. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat, kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan mulai itu hilang. Ini semua karena praktek korupsi,” katanya dalam safari dakwah PKS, Minggu (17/3) di lapangan Sei Harapan, Sekupang.Menurut Adyaksa para pemimpin tidak amanah itu banyak di temukan di berbagai lembaga pemerintahan, baik itu legislatif, eksekuting maupun yudikatif.

Selain itu kata Adyaksa, terpuruknya bangsa ini juga karena pemimpin negeri yang alergi jika dikritik. Itu semua kemungkinan terkait dengan perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia sebelum menjadi sebuah bangsa.

Dimana pada saat itu ungkapnya, terdapat 20 kerajaan besar nusantara seperti Sriwijaya, Majapahit, Singosari, Mataram dan sebagainya. Dari sekian banyak kerajaan-kerajaan yang ada tersebut, tak seorangpun berani untuk mengkritik raja-raja. Akibatnya, kesewenang-wenangan para raja saat itu, tak mencuat kepermukaan, jika pun ada pasti segera diasingkan.

“Tidak ada cerita buruk tentang kerajaan-kerajaan, semuanya baik. Sejarah itu pun terwarisi pada bangsa Indonesia hingga kini. Meski para pemuda sempat juga melalui gerakan reformasinya tahun 1998 lalu menggulingkan kekuasaan pemimpin yang tak suka dikritik (feodal) di era orde baru,” kata Adyaksa yang juga merupakan kader PKS.

Selain membahas hilangnya hikmah dan kebijakan yang mengakibatkan para pemimpin tak suka dikritik dan gemar korupsi. Adyaksa juga menyampaikan pesan buku karangan Prof Konichi. Dalam buku tersebut kata Adyaksa, rusaknya tatanan kehidupan suatu bangsa diakibatkan oleh adanya industri, investasi, individualistis dan informasi.

“Sebagai contoh, saat saya naik lift di lantai yang tingginya 30 di Jakarta, ketika saya menyapa orang yang bertemu dengan saya, maka tak satu pun yang mau menjawab. Inilah bukti masyarakat lebih mengedepankan sikap individualisme ketimbang bersosial. Jika kita tidak bisa mengendalikan diri dan justru terbawa oleh perkembangan empat sektor tersebut. Bisa dipastikan penyakit seperti kegilaan karena kebencian dan kegilaan karena kesenangan dapat dijumpai dalam kehidupan masyarakat. ” ujar Adyaksa.

Dalam sambutannya dihadapan ribuan kader PKS se Kota Batam dan Kepri, sesekali dia berbalas pantun dengan pembawa acara (mc) safari dakwah. Tak pelak suasana acara bertambah hangat kendati kondisi cuaca memang sudah terik. Turut hadir Presiden PKS Tifatul Sembiring, Walikota Batam Ria Saptarika, Ketua DPD PKS Kepri Wildan Hadi Purnama.

Untuk meluruskan cita-cita mulia para pendiri bangsa Indonesia se-abad yang lalu tersebut. Melalui pembentukan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ungkap Adyaksa PKS, dibangun untuk menjawab keadaan negeri yang sudah terpuruk saat ini, melalui pengkaderan calon pemimpin-pemimpin yang amanah.

“PKS dibentuk bukan berorientasi pada tujuan dan hasilnya, akan tetapi pada prosesnya,” tandas Adyaksa seraya mengangkat tangan mengucapkan kalimah takbir. (sm/th)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s