Kehidupan Hinterland

Jumat, 28 Maret 2008
Pada berita headline halaman 9 koran ini edisi Kamis (27/3) dimuat secuil kondisi riil kehidupan masyarakat di hinterland (pinggiran) Kota Batam. Beberapa orang murid Sekolah Dasar (SD) yang pulang dari sekolah menyetop mobil dinas Wakil Walikota Batam, Ir H Ria Saptarika. Saat itu mobil Ria melaju dari arah Jembatan Barelang menuju Pulau Rempang. Murid SD itu minta tumpangan kepada Ria yang akan melakukan kunjungan dinas ke kawasan Rempang. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa mobil yang mereka minta tumpangi itu adalah mobil orang nomor dua di Kota Batam. Jika saja ‘bocah-bocah’ itu tahu siapa yang berada di dalam mobil tersebut, mungkin mereka tak berani berbuat begitu.Di samping itu, bagi murid-murid SD tersebut juga tidak menjadi hal penting, mengenai pemilik atau orang yang berada di dalam mobil. Bagi mereka yang perlu adalah mendapat tumpangan. Dari pada harus menunggu angkutan umum berjam-jam lamanya. Apalagi tumpangan yang didapat gratis, sehingga mereka juga bisa berhemat.

Kita bisa bayangkan, bagaimana berkecamuknya perasaan murid SD tersebut setelah mereka semua mengetahui bahwa mobil yang mereka stop dan tumpangi ternyata adalah mobil seorang Wakil Walikota Batam yang selama ini namanya sudah seriang mereka dengar.

Bagi Wawako Ria Saptarika, peristiwa kecil tersebut bisa saja menjadi sebuah pengalaman menarik sekaligus bahan renungan dan masukkan tentang kondisi riil kehidupan masyarakat hinterland sesungguhnya. Jika harus menunggu laporan dari bawahannya tentang kondisi transporstasi masyarakat, barangkali sangat kecil kemungkinan Ria akan mendapatkan laporan yang konkrit dan apa adanya, seperti yang disaksikannya sendiri.

Memang begitulah, para pelajar di hinterland dan daerah pulau-pulau di sekeliling wilayah perkotaan Kota Batam. Setiap hari mereka dibenturkan dengan persoalan keterbatasan sarana transportasi. Dan banyak lagi permasalahan lain yang mereka hadapi. Namun dengan tekad bulat ingin melakukan sebuah perubahan, berbagai kendala itu tak ada pilihan, harus mereka lawan.

Bagi mereka yang tinggal dan bersekolah di Pulau Rempang dan Galang, mau pergi dan pulang sekolah, mereka sering minta tumpangan kepada siapa saja. Terdakang numpang dengan sepeda motor, terkadang mobil truk lorry, sedan, dan bahkan mungkin mobil pejabat yang mereka sama sekali dengan pejabat itu. Hal itu dibuktikan dengan keberanian murid SD menyetop mobil dinas Wakil Walikota Batam.

Lalu bagi mereka yang tinggal di pulau-pulau kecil dan terpisah antara pulau tempat sekolah mereka berdiri dengan rumah mereka, maka terpaksa pergi dan pulang sekolah menumpang sampan atau perahu. Ada juga diantara mereka yang langsung berangkat menggunakan perahu dayung sendirian.

Masih untung kehidupan di daerah hinterland dan di pulau-pulau masih kental dengan suasana kekeluargaan. Yang minta tumpangan tidak merasa sungkan, demikian juga dengan yang memberikan tumpangan.

Tidak hanya bagi Ria Saptarika, tapi juga bagi Walikota Batam, unsur SKPD dan jajaran DPRD Kota Batam harus mencatat, bahwa ternyata sejauh ini masih banyak persoalan keterbatasan sarana yang dihadapi mayarakat hinterland. **

One thought on “Kehidupan Hinterland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s