Setuju Kolom Organisasi Dikosongkan

Thursday, 24 April 2008
Wakil Wali Kota Batam, Ria Saptarika mengatakan, kesetujuannya atas usulan Dewan perihal pengosongan kolom 34 tentang keaktifan pada organisasi/parpol/LSM di formulir data kependudukan.
“Kalau ini memberatkan, sudahlah. Kita setuju saja jika dikosongkan,” jelas Ria, penggagas bagian plus dari lembar validasi data kependudukan di Nagoya Hill, kemarin.Apakah kesetujuan ini ditujukan untuk menghapus isu Ria “bermain” demi partainya? Sebab dengan cara itu, pemantauan parpol warga dapat diketahui untuk suatu tujuan? Ria yang ditanyakan hal ini langsung “menantang” untuk membuktikannya.

“Kalau demi partai atau ada unsur bisnis, saya tidak akan sesemangat ini. Di situ kan tak hanya parpol. Kalau mau isi organisasi saja, silakan,” tegas Wakil Wali Kota yang diusung PKS ini.

Lebih baik, tegasnya, dirinya ditekan dan didesak supaya SIAK berjalan sebaik-baiknya. “Saya lebih baik di-push supaya masalah SIAK ini cepat selesai,” katanya sedikit terlihat sedih.

Kepada media, Ria juga meminta dukungannya terhadap SIAK. Ria mempersilahkan mengkritisi sekeras apapun selama tujuan akhirnya adalah selesainya SIAK. Misalnya kritikan yang mengatakan perangkat komputer kurang dan SDM terbatas.

Khusus penambahan komputer ini, sudah dilakukan Kecamatan Batam Kota. Dari tadinya dua unit komputer saja yang digunakan, sekarang menjadi tujuh. “Lima unit kita pinjam dari komputer kecamatan kita,” jelas Camat Batam Kota Dasrul Azwir.

Terkait lobi yang akan dilakukan untuk melonggarkan keharusan ber-KTP SIAK sebagai syarat memilih, juga disetujui Ria, mantan anggota DPRD Provinsi Kepri ini.

Hanya saja jika dibatalkan, dirinya tidak setuju. Pasalnya, data SIAK bukan hanya untuk menerbitkan KTP SIAK. Melainkan untuk data kependudukan online demi kelancaran urusan. “Coba kalau tidak punya data SIAK, pasti perlu pendataan penduduk khusus hanya untuk kepentingan pemilu,” ujarnya.

Terpisah, Kabag Humas Pemko Batam Yusfa Hendri yang juga mantan Camat Sekupang ini mengatakan, sebenarnya tahun 1997 lalu, sudah ada sistem administrasi manajemen kependudukan (Simduk). Sayangnya, saat tersandung sedikit masalah, Simduk pun menghilang. “Padahal dulu Kutai belajar dari Batam. Sekarang kebalik, meski belum SIAK, Simduk mereka bagus,” ucap Yusfa.

Jika dulu Batam tetap konsisten dengan SIMDUK, katanya menyesalkan, SIAK tentunya tak akan bermasalah dan makan waktu lama seperti saat ini. Dirinya menilai, jika kembali ke KTP kuning, kemunduran Batam sangat jauh. (ary)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s