Pengawasan Dinas Pariwisata Lemah

Sabtu, 05 Juli 2008|06:29:05WIB

Monalisa Tak Punya Izin Panti Pijat

BATAM (BP) – Pemerintah tidak pernah memberikan izin usaha panti pijat kepada CV Monalisa selalu pengelola Panti Pijat Monalisa, yang tiga hari lalu terbukti memperdagangkan sejumlah perempuan sebagai pekerja seks. Izin yang diberikan pemerintah melalui Dinas Pariwisata hanya izin usaha karaoke. Karena itu, Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika menilai, salah satu penyebab maraknya penyimpangan izin usaha hiburan hingga mengarah ke prostitusi karena tidak adanya pengawasan dari Dinas Pariwisata sebagai pemberi izin.

“Harusnya Dispar dan satpol PP rutin merazia. Apalagi sudah ada perda,” ucap Ria Saptarika ditemui di ruang kerjanya, kemarin.
Kepala Bidang Sarana dan Objek Wisata, Dinas Pariwisata Marzuki mengakui pengwasan terhadap objek jasa hiburan selama ini sangat lemah. Selama ini, kata Marzuki, mereka hanya mengimbau secara persuasif kepada pengusaha jasa hiburan, supaya saling menangani fungsi masing-masing dan memberi mereka penyuluhan tentang hukum.
Marzuki mengakui CV Monalisa telah menyalahgunakan dan melanggar izin usaha yang diberikan Disparbud, “Mereka cukup berani menjadikan tempat tersebut menjadi tempat prostitusi dan perdagangan manusia,” ucap Marzuki.
Ia menambahkan, CV Monalisa sebagai jasa rekreasi hiburan khusus di bidang karaoke, terdaftar dengan nomor 71/556/ITUP/JRHK/8/V/2007 sejak tanggal 22 Mei 2007, atas nama pemilik Akam. Sementara sampai saat ini, sudah lebih dari satu bulan, izin pendirian belum diperpanjang. “Monalisa ini pernah mengajukan izin mendirikan usaha panti pijat, namun dalam masa pengurusan persyaratan yang kita kasih, selanjutnya mereka tidak pernah konfirmasi lagi,” tambah Marzuki.
Sanksi dan tindakan yang akan diberikan kepada panti pijat “plus-plus” satu ini adalah mencabut izin pendirian tempat hiburan tersebut secara otomatis dan tidak akan pernah dikasih izin lagi, karena hal ini telah melanggar Perda Kota Batam Nomor 3 Tahun 2003.
Di Batam sampai bulan Juni 2008 ada sekitar 40 jumlah panti pijat dan mandi uap yang telah terdaftar resmi di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kota Batam.Hal ini dapat dilihat dari rekapitulasi perkembangan penerbitan izin usaha jasa sarana pariwisata.

Modus Lama
Praktik perdagangan manusia bukan kejadian baru lagi. Modusnya pun selalu sama, yakni pelaku menjanjikan korban pekerjaan yang layak, namun kenyataannya malah dipekerjakan sebagai PSK. Itulah yang dialami Yu (21), salah satu dari lima korban korban yang berhasil diamankan polisi dari Panti Pijat Monalisa.
Kelimanya kini ditampung sementara di Unit Renata Poltabes Barelang. Ya (21), yang berhasil diwawancarai, kemarin, buka-bukaan. Wanita asal Rancakalong, Bandung, Jawa Barat ini mengisahkan awal ia meninggalkan kampung halaman sampai bisa bekerja sebagai pelayan seks di Monalisa.
Cerita pilu Ya bermula saat ia dan keluarganya didatangi seorang pemuda yang mengaku bernama Yanto. “Ia datang ke rumah dan bilang ke bapak kalau saya bisa bekerja di Batam sebagai pelayan di kafe,” cerita Ya.
Tawaran ini langsung disambut keluarga Ya. Maklum, ayahnya hanya sebagai petani biasa sementara sang ibu tak punya penghasilan apa-apa. Ekonomi keluarga serba pas-pasan. Ya yang sudah bercerai dengan sang suami sejak lima bulan lalu itu, tak punya pilihan lain. Ia mengiyakan permintaan orangtuanya untuk bekerja di Batam.
Orangtua Ya juga tak punya beban apa-apa untuk melepas putrinya itu. Pasalnya, Yanto tak meminta sesenpun uang sebagai syarat Ya bisa bekerja di Batam. “Yanto tak minta uang. Saya dibiayai dia ke Batam,” kata wanita yang hanya tamat sekolah dasar ini.
Bermodal harapan, Ya akhirnya meninggalkan orangtua, saudara dan kampung halamannya, 30 Juni lalu. Ia hanya diantar Yanto sampai ke bandara di Bandung. Setelah itu, Ya dilepas sendiri. Sampai di Batam, ia dijemput oleh Jaya (bagian keamanan di Monalisa yang kini diamankan polisi).
Ya tiba malam dan akhirnya sampai di Monalisa. “Malamnya disuruh istirahat dulu, besoknya baru bekerja,” ujarnya.
Siangnya, hari kedua di Monalisa, Ya diminta mendampingi tamu. Awalnya, hanya sebatas melayani obrolan pria hidung belang tersebut. Namun, selepas petang, oleh “mami”, Ya diminta untuk menemani tamu pria tersebut semalam suntuk alias dibooking. Ya kaget bukan main. Ia tak menyangka jika pekerjaannya ternyata menjadi pelayan seks. “Mau nolak tak bisa. Kami takut,” katanya.
Dengan terpaksa, Ya akhirnya merelakan tubuhnya dijamah. Ia dibooking mulai pukul setengah delapan malam hingga setengah delapan pagi, keesokan harinya. Hari pertamanya bekerja sebagai pramuria, Ya mengaku ditiduri oleh pria asal Malaysia. Ia diberi tips Rp200 ribu, di luar dari tarif yang dikenakan sang mami.
Itulah pengalaman pahit yang dirasakan Ya. Namun, ia sedikit beruntung dibanding PSK lainnya di Monalisa. Ya belum sempat jadi langganan para pria hidung belum hingga polisi mengendus kasus ini. Walau baru sekali, namun Ya mengaku itu terus membekas di hatinya, yang tak akan pernah dilupakannya seumur hidup. “Saya mau pulang kampung saja,” harapnya.
Mengenai modus pelaku, Kapolsek Batuampar AKP Didik Erfianto melalui Kanit Reskrim Ipda Gunarto mengatakan, saat merekrut korban dari kampung halaman, pelaku mengatakan, jika Rp1 juta dari penghasilan korban nantinya akan dipotong sebagai pengganti biaya transportasi dari Bandung sampai Batam.
Namun, sampai di Batam kontrak kerja berubah. Uang yang harus diganti korban ke pengelola “panti pijat” Monalisa meningkat menjadi Rp6 juta.
Hingga saat ini, pihak kepolisian Batuampar masih terus melakukan pengembangan. Polisi masih memburu Cecep, perantara jual beli manusia itu dan Semi, sang pengelola “panti pijat”. (why/cr5/cr4/ary)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s