Ria Saptarika Turut Tancapkan Prasasti Di Pulau Nipah

Saturday, 12 July 2008 08:43
Expedisi Garis Depan Nusantara akhirnya menginjakkan kakinya di pulau NIpah sebagai salah satu pulau terdepan yang masuk dalam wilayah Batam. Sebagai wujud partisipasi dan semangat nasionalisme, Wakil Walikota Batam Ria Saptarika terlihat tidak ingin ketinggalan dalam acara yang dilaksanakan sempena 100 tahun kebangkitan bangsa ini. Sebuah kapal sergap dari LANAL dengan warna loreng dan kapal cepat pemko disiapkan untuk membawa rombongan expedisi, wartawan termasuk Koran Buruh dan juga rombongan Pemko Batam.
Dengan kecepatan sekitar 35knot lebih praktis membuat semua organ tubuh bergetar. Sebelum sampai ke Pulau Nipah rombongan melewati P. Pelampong, sebuah pulau yang masuk kedalam list pulau terdepan Nusantara, di Pulau ini tidak ada penghuninya.
Ketika kira-kira 2-3mil lagi sampai ke P. Nipah, sebuah fregate tetangga terlihat mendekat dan mengikuti dari belakang.

Suasana mendadak menjadi sedikit tegang. Kru Koran Buruh sibuk mengancungkan kepalan sementara seorang kru Lanal jadi sibuk hilir mudik disamping kapal. Lanal yang mengawal di kapal terlihat tegang. Seorang diantara mereka menyelinap di kamar depan – tempat senjata disimpan.

Untung tidak terjadi apa – apa. Setiba di Pulau Nipah Pak Teguh dari LANAL dan pak Manaf dari Marinir menyambut dengan hangat. Terlihat jauh di belakang satu regu pasukan Marinir yang bertugas mengawal pulau ini dengan senjata terkokang.
Setelah dibuka oleh pak Ria Saptarika, acara dilanjutkan dengan presentasi oleh kang Donny.

Mengejar waktu – langsung tanam prasasti, Pak Arpan, Pak Manaf, Pak Ria dan Pak Teguh bekerja sama. Pak Ria tak segan menyendok semen beserta dengan Pak Teguh dan Pak Manaf dibantu oleh Anggota Expedisi.

Setelah selesai, seluruh pejabat dan anggota team mengambil foto kenangan di Pulau yang luasnya sudah bertambah menjadi 4 hektar ini.

Dibelakang pos, disediakan barak tempat para marinir tinggal selama 4 bulan di pulau tanpa air ini. Setiap dua minggu sekali mereka bergiliran ke pulau sambu untuk mencuci baju dan mandi sekalian belanja untuk dua minggu. Sekeliling barak ini tandus dan mereka terpaksa menampung air hujan untuk minum.
Tak urung Pak Ria turut bersimpati dengan keadaan prajurit kita yang dengan kondisi minim, tetap setia menjaga di perbatasan. /Arief

Sumber: Koran Buruh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s