Kami Butuh Pulang Kampung

Jumat, 01-08-2008 | 00:00:00

BATAM, TRIBUN – Sekitar 30 warga yang berasal dari Sekupang mendatangi kantor Pemko Batam, Kamis (31/7). Mereka minta ke Pemko agar mengizinkan kapal KM Kelud kembali bersandar di Pelabuhan Beton Sekupang.

Mereka berkumpul di dekat pos pintu masuk halaman Pemko Batam dan hanya mengutus tiga orang perwakilan ke humas pemko. “Kami mohon kepada pemko agar kapal KM Kelud bisa berlayar kembali ke Batam. Apalagi menjelang lebaran, kami membutuhkan kapal itu untuk pulang kampung, kalau lewat dari Kijang akan memakan biaya yang lebih besar lagi,” papar mereka.

Wakil Wali Kota Batam, Ria Saptarika menyebut ketidakhadiran kapal Pelni ke Batam menjadi bahan instropeksi bagi mereka yang selama ini mengais rezeki di sana. Mestinya kalau mereka merasa mencari rezeki di tempat itu, harus intropeksi diri sehingga tidak terjadi keributan di kemudian hari.

Ria berjanji akan membawanya ke tingkat provinsi untuk dibahas. “Kita harus sadar penundaan kapal Pelni ke Batam bukan kebijakan kepala daerah di Batam, tapi kebijakan yang lebih tinggi bisa saja gubernur atau Pelni itu sendiri,” paparnya.

Namun ia akan melakukan langkah-langkah koordinasi dengan provinsi. ‘’Karena pemindahan pelabuhan itu antar kabupaten dan kota sehingga kebijakannya pun harus gubernur,” paparnya.

Ia menyebut perlu diambil tindakan cepat dengan menata dan memperbaiki pelabuhan, dan para porter agar legowo jangan mempertahankan kondisi saat ini. Harus santun dalam bekerja.

Seperti diberikatakan sebelumnya rute Kapal Pelni yang selama ini bersandar di Sekupang dipindah ke Tanjungpinang. Padahal kehadiran kapal Pelni sangat membantu masyarakat ekonomi lemah yang datang dan keluar dari Batam.

Kepindahan ini lantaran seringnya terjadi keributan di Pelabuhan Sekupang saat kapal itu sandar. Komisi I berencana memanggil pihak Pelni, ABK, porter, Bea Cukai, KPLP, dan KPPP untuk menanyakan apa sesungguhnya yang terjadi sehingga muncul keributan tersebut.

Kepala Disperindag Batam, Ahmad Hijazi minggu lalu menyebut kehadiran Pelni tidak akan berdampak secara ekonomi, karena semua kebutuhan sembako diangkut menggunakan kapal barang bukan kapal Pelni. “Kalau dipindah tak akan berpengaruh terhadap ekonomi Batam,” paparnya.

Sementara itu, Siswandi, Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Pelni cabang Batam saat dihubungi Tribun kemarin mengatakan belum tahu kapan keputusan KM Kelud singgah lagi di Batam.

“Kami belum tahu, belum terima kabar apapun dari pusat, mudah-mudahan masuk lagi. Kami di sini hanya operator saja, apapun keputusan pusat kami siap menerima dan menjalaninya,” ujar Siswandi.
Ketika dimintai komentarnya soal terhambatnya roda perekonomian di pelabuhan Beton Sekupang, pria asal Riau ini dengan tenang membantah pihaknya (Pelni) dipersalahkan. “Kalau situasinya seperti ini sekarang, jangan salahkan Pelni dong kalau berimbas ke terhambatnya roda perekonomian di Pelabuhan Beton,” pungkasnya. (hat/yah)

One thought on “Kami Butuh Pulang Kampung

  1. Moga bisa sandar lagi tapi tanpa keributan. Kemanan dan kenyamanan konsumen bisa diandalkan lagi.semoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s