Pro dan Kontra Pemindahan Rute Pelni

Jumat, 01 Agustus 2008
WALIKOTA Batam Drs Ahmad Dahlan dan Wakilnya Ir Ria Saptarika mengatakan bahwa tidak begitu khawatir dengan wacana pemindahan rute Km Kelud ke pelabuhan Kijang. Bahkan mereka berpendapat bahwa pemindahan rute tersebut justru akan membantu penyaringan kedatangan penduduk ke Batam. “Rencana ini akan membantu kita menyeleksi orang-orang yang datang ke Batam, selama inikan banyak yang datang ke Batam orang-orang unskill (tak punya kemampuan), ini menjadi referensilah bagi kita,” ujar Dahlan.

Meskipun begitu, ia merasa masih membutuhkan pembahasan dengan muspida lainnya, karena akan menghambat pengiriman kebutuhan sembako dan barang-barang lainnya ke Batam. Khusus untuk sayuran, ia menyebutkan tidak begitu menghawatirkannya, karena selama ini hanya 20 persen saja kebutuhan sayuran di Batam yang disuplai dari luar.

“Untuk kebutuhan sayuran ini saya coba bicarakan dengan Bupati Bintan untuk mensuplai ke Batam, saya juga akan bicarakan dengan provinsi,” ujarnya lagi.

Disinggung tentang nasib porter yang akan menganggur jika pelabuhan tersebut dipindahkan ke Kijang, Dahlan menjawab diplomatis. “Jika porternya memiliki kemampuan (skill), silahkan mengikuti bursa kerja Agustus nanti, selama ini mereka menjadi porterkan hanya karena belum ada peluang saja,” ujarnya menanggapi setengah bercanda.

Sementara itu, Wakil Walikota Batam Ria Saptarika mengatakan wacana pemindahan rute tersebut akan dibawa Pemko Batam dalam pembahasan dengan Provinsi Kepri dan Pelni di waktu mendatang.

Tetapi ia menyebutkan, dengan adanya kericuhan yang terjadi di pelabuhan Sekupang beberapa waktu lalu itu diharapkan bisa menjadi bahan untuk introspeksi bagi seluruh pihak terkait yang terlibat didalamnya. “Semuanya dirugikan, oleh karena itu kedepannya pelabuhan itu akan di tata dengan baik, sehingga hal ini tidak terjadi lagi,” ujar Ria mengakhiri.

Menuai Protes
Anggota DPRD Kota Batam Onward C. Siahaan menyatakan ketidak setujuannya tentang wacana pemindahan pelabuhan ke Kijang karena akan merugikan masyarakat kecil. Selain itu, rencana tersebut juga akan mempengaruhi arus perdagangan di Batam. “Masyarakat yang biasa menggunakan pelabuhan akan semakin dipersulit, saya harapkan pemerintah ariflah dalam hal ini,” ujar Onward.

Ia pun menyatakan keberatannya jika pemerintah menggunakan alasan rencana pemindahan pelabuhan tersebut untuk mengurangi arus kedatangan orang ke Batam, karena orang bisa datang melalui pelabuhan tikus.

“Pelabuhan itu sangat dibutuhkan, sebagai pulau, pelabuhan menjadi salah satu pintu masuk barang ke Batam, dan jika itu ditutup akan sangat mengganggu,” ujarnya.

Supriyatna (43), warga Batam asal Jakarta, mengingatkan pemerintah, khususnya walikota Batam tidak asal mengambil kebijakan soal keberadaan kapal milik PT Pelni. Dikatakan, jika Pemko Batam benar mengalihkan jalur KM Kelud ke Bintan, merupakan kesalahan besar karena yang dikorbankan justru masyarakat sendiri.

Menurut Supri (panggilan akrabnya), keamanan di Kota Batam merupakan tanggung jawab pemerintah, khususnya kepolisian. Jika tidak mampu mengamankan Pelabuhan Beton, saat KM Kelud berlabuh, berarti pemerintah yang perlu evaluasi diri. “Bukan malah mengalihkan kapal. Berarti sudah mundur kita 15 tahun,” katanya.

Untuk itu kata Supri, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk mengalihkan kapal Pelni, dengan alasan keamanan. “Coba kita pikir. Nanti, kalau di hotel-hotel terjadi kerusuhan, hotelnya yang dipindahkan. Berarti, jika kantor walikotanya yang sarat korupsi, kantornya juga dipindahkan? Jangan hanya karena seseorang yang sulit ditindak, malah masyarakat yang dikorbankan,” demikian dikatakan.

Tidak hanya supri, puluhan ibu-ibu juga mendatangi kantor Pemko Batam memprotes wacana pemindahan pelabuhan kapal Pelni ke Kijang. Hal ini dinilai sangat memberatkan masyarakat miskin yang hendak pulang kampung ke kampung halamannya.

Puluhan ibu-ibu yang mengatasnamakan rakyat ini mendatangi kantor Pemko Batam untuk menyampaikan aspirasinya. Hartini, salah satu warga yang ditemui di halaman gedung Pemko Batam menyebutkan, rencana pemerintah akan memindahkan pelabuhan ini sangat merugikan masyarakat Batam berekonomi menengah ke bawah. Karena untuk pulang kampung, mereka harus ke Tanjung Pinang terlebih dahulu, sementara dari Tanjung Pinang ke Kijang juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit, belum lagi mereka harus mengeluarkan biaya tambahan jika tiket yang dituju sedang habis.

“Kami mohon perhatian pemerintah dalam hal ini, karena jika jadi dipindahkan, kami akan mengeluarkan biaya yang sangat banyak. Apalagi beberapa bulan lagi lebaran Idul Fitri, dan ada juga yang mau lebaran Natal,” keluh Hartini.

Singapura Tanya Walikota
Memasuki akhir Juli lalu, berita tentang penyanderaan Kapal KM Kelud di pelabuhan Sekupang menghiasai semua koran terbitan lokal maupun nasional. Kota Batam mendadak jadi buah bibir diseantero nusantara akibat terjadinya penyanderaan yang disertai saling lempar batu antara awak KM Kelud dengan sejumlah porter pelabuhan Sekupang.

Kericuhan yang terjadi di Pelabuhan Sekupang tersebut, ternyata juga menjadi perhatian bagi negara tetangga Singapura. Bahkan pemerintah Singapura sempat menanyakan masalah ini langsung ke walikota Batam Drs Ahmad Dahlan. “Singapura bertanya apa yang terjadi, saya bilang ini masalah kecil saja,” demikian cerita Dahlan.

Kekhawatiran negara tetangga Singapura memang tidak berlebihan sebab dalam waktu dekat ini mereka akan menggelar event tingkat dunia formula 1. Kesuksesan event ini nantinya tentunya sangat didukung oleh keamanan Batam dan daerah disekitarnya, sehingga pengunjung/penonton yang diperkirakan membludak nantinya dapat dialihkan ke Batam.

Memang, Pemko Batam saat ini sedang menggalakkan promosi Visit Batam Year 2010, namun bukan promosi seperti ini yang diharapkan untuk mengenalkan Batam ke khalayak ramai. Malahan tragedi penyanderaan ini dapat merusak citra Batam dimata wisatawan karena masih banyak aksi-aksi kekerasan di Kota Pulau berbentuk kalajengking ini. Lantaran itu juga mungkin muncul desakan untuk memindahkan tempat berlabuhnya Kapal Pelni dari Pelabuhan Sekupang ke pelabuhan Kijang, Bintan. Bagaimana asal muasal terjadinya tragedi penyanderaan ini dan bagaimana pula tanggapan dari sejumlah pihak terhadap wacana pemindahan ke Kijang. Berikut ulasannya.

Tanda-tanda akan terjadinya tragedi penyanderaan Kapal Pelni KM Kelud di Pelabuhan Batam selama 14,5 jam pada tanggal 12 Juli 2008 sebenarnya sudah terlihat sejak pertengahan bulan Mei 2008 yakni ketika Manager Operasional PT Pelni Cabang Batam, Suwandi dan Kepala Pelabuhan Beton Kustino nyaris diceburkan ke laut oleh puluhan porter yang diduga ‘kaki tangan’ salah seorang pengusaha ekspedisi.

Aksi ini terjadi ketika mereka mencoba menghalangi-halangi sejumlah porter yang memasukkan barang ke dalam kapal KM Kelud yang tengah bersandar di pelabuhan Beton Sekupang menuju Jakarta, Rabu siang (21/5) lalu. Upaya kedua pejabat yang berwenang di pelabuhan untuk mencegah agar barang tidak melebihi kapasitas muatan ternyata nyaris membuat mereka celaka.

Perbuatan sejumlah porter tersebut memang sudah keterlaluan, karena mereka merupakan petugas resmi dari instansi yang berwenang, tapi tidak berkutik ketika melakukan tugasnya. Menariknya lagi, pihak KPPP juga tidak dapat bernuat banyak setelah menerima laporan resmi dari kedua pejabat tersebut. Alasan klasiknya karena KPPP tengah kekurangan personil.

Menurut Manager Operasional PT Pelni Cabang Batam, Suwandi, pelarangan membawa barang selain barang bawaan normal penumpang (over bagasi) ke dalam kapal penumpang milik PT Pelni telah sesuai instruksi dari Direktur Usaha PT Pelni Pusat tentang Sosialisasi Pemberhentian Muatan Barang Over Bagasi. Dalam surat bernomor 2222 tertanggal 6 Mei 2008 tersebut, menginstruksikan Kantor Cabang dan Nahkoda kapal penumpang PT Pelni di seluruh Indonesia termasuk di Batam untuk melarang aksi pemuatan barang over bagasi mulai tanggal 20 Mei 2008. Sebab dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan para penumpang kapal.

Ditempat terpisah, Kepala Pelabuhan Beton Kustino mengaku tak sanggup menangani keberingasan pemuda yang mengangkut barang tersebut. Bahkan dirinya sempat diancam akan diceburkan ke laut.”Saya mau diceburkan ke laut. Lihat saja, kalau ada penumpang yang ke cemplung ke dalam laut karena ulah ilegal mereka, kami tak bertanggungjawab lagi. Yang jelas kita sudah melarang mereka mengangkut barang sesuai permintaan PT Pelni,” tegas Kustino kepada wartawan.

Sementara Kapolsek KPPP AKP Furqon saat dikonfirmasi wartawan di kantornya membenarkan perihal permohonan pengamanan PT Pelni Batam tersebut. Dikatakan pihaknya tidak hanya terfokus mengamankan aksi ilegal barang over bagasi itu, namun juga pengamanan penumpang yang lebih diutamakan. “Kita sudah minta bantuan personil tambahan dari Poltabes, namun tugas kita kan bukan cuma melarang barang over bagasi itu aja,” kata AKP Furqon mengelak.

Sekitar tiga minggu berlalu, ternyata insiden yang lebih besar meledak, tepatnya tanggal 12 Juli 2008 dengan terjadinya penyederaan Kapal Pelni KM Kelud oleh penumpangnya di Pelabuhan Batam. Akibatnya kapal telat masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok, sehingga ribuan calon panumpang telantar. Keterlambatan ini membuat penumpang emosi, karena kapal yang seharusnya tiba Kamis sore baru sampai Jumat pagi.

Kasus penyanderaan bermula saat KM Kelud akan berangkat dari Pelabuhan Sekupang Batam, Rabu siang. Saat itu kapal sudah siap berangkat karena surat izin berlayar (SIB) sudah dipegang nakhoda. Begitu juga seluruh penumpang dan barang kargo baik kargo palka atau petikemas sudah di atas kapal.

Namun setelah barang kargo berupa keramik dimasukkan, ada salah satu penumpang oknum polisi yang memprotes dan meminta muatan kembali diturunkan. Pasalnya, kondisi kapal saat itu sudah miring dikhawatirkan kapal bisa terbalik.

Sedangkan penumpang lain yang ikut terprovokasi seorang oknum anggota Polri tersebut ikut memaksa nakhoda tidak dulu menjalankan kapalnya. Keributan pun terjadi antara puluhan penumpang dengan sejumlah porter di Pelabuhan yang menolak menurunkan lagi barang yang sudah diangkut ke atas kapal. Kondisi makin panas, dan akhirnya oknum polisi yang memprovokasi sempat dikeroyok oleh sejumlah porter.Untuk menghindari aksi massa yang lebih brutal akhirnya pihak Pelabuhan Batam menurunkan sebagian muatan kargo yang berada di palka.

Pelni Hentikan Operasi
Paska insiden tersebut, Kepala Cabang PT Pelni Kota Batam Jony Siregar mengatakan akan menghentikan pengoperasian KM Kelud hingga 31 Juli. Ia tidak menyebutkan alasan mengapa pelayaran dihentikan, apakah karena kerusuhan atau karena kapal yang naik dok.

Dikatakan, mulai tanggal 1 Agustus 2008 mendatang pihaknya menunggu instruksi dari Pelni Pusat untuk melanjutkan operasiinal kapal. “Yang pasti, saat ini, Pelni Batam tidak melayani pembelian tiket kapal baik ke Belawan maupun ke Jakarta,”ujarnya waktu itu.

Joni juga membantah jika penghentian pelayaran itu karena kapal naik dok (untuk perbaikan). “Tidak-tidak. Kapal tidak naik dok sperti yang diomongi orang,” katanya.

Dialihkan ke Kijang
Penghentian sementara operasional KM Kelud terus berkembang hingga muncul wacana pengalihan jalur KM Kelud ke Pelabuhan Kijang Tanjungpinang.

Walikota Batam, Drs Ahmad Dahlan juga turut andil mewacanakan menutup Pelabuhan Beton Sekupang (PBS) dan mengalihkan jalur pelayaran PT Pelni ke Tanjungpinang sebagai bentuk antisipasi Pemerintah Kota (Pemko) Batam mengatasi lonjakan jumlah penduduk.

Meski demikian walikota berjanji akan melakukan kajian lebih mendalam menyangkut untung ruginya. Selain memperhatikan lonjakan arus pendatang, kekhawatiran sebagian kalangan, akan terjadi lonjakan harga, juga perlu ditelusuri. “Akan tetapi kalau itu yang terbaik buat Kota Batam, tidak mengapa. Karena dampak positifnya, kita dapat mengendalikan penduduk yang akan datang ke Batam,” katanya lagi.

Polemik seputar pemindahan rute KM Kelud ini akhirnya berhenti juga setelah kemarin, PT Pelni menyampaikan bahwa akan kembali singgah di pelabuhan Beton Sekupang pada Sabtu (9/8) mendatang.

Kabar gembira ini tentunya disambut suka cita oleh orang-orang yang mengais rezeki di pelabuhan, seperti porter dan pedagang kaki lima maupun asongan. “Ya kita mengucapkan terimakasih sama Pelni. Yang pasti kami akan lebih tertib,” janji salah seorang perwakilan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKMB) yang sehari-hari bekerja di pelabuhan Benton Sekupang.

Akankan insiden Juli 2008 menjadi pelajaran bagi semua pihak yang berkepentingan di pelabuhan Beton Sekupang, sehingga tercipta suasana pelabuhan yang aman dan nyaman. Ataukan sebaliknya, benih-benih pertikaian yang sarat dengan kepentingan akan terus tumbuh berkembang, sehingga menjadi bom waktu yang akan meledak sewaktu-waktu. Hanya waktu yang akan menjawab. (tim)

One thought on “Pro dan Kontra Pemindahan Rute Pelni

  1. sebagai negara kepulauan, Batam adalah salah satu pulau dari beribu pulau yang ada di Indonesia. Pembangunan suatu daerah akan maju bila didukung dengan transportasi yang baik. PELNI adalah salah satu perusahan pelayaran milik negara sehingga trayek kapal PELNI ditentukan oleh negara untuk menghubungkan antar pulau. tidak memilih pelayaran kurus atau pelayaran gemuk yang artinya tdk memilih trayek yang merugi atau yang untung yang penting harus dilayari demi kepentingan nasional. Dari misi dan visi PELNI jelas bahwa pelayaran tersebut adalah perintah. dengan situasi yang dialami Batam tidak hanya PELNI yang memikirkan karena dipelabuhan ada beberapa instansi terkait yang mendukung transportasi laut. Pelayaran ke Batam dengan kapal PELNI merupakan pelayaran yang disubsidi pemerintah pusat karena pelayaran dari Jakarta dan Belawan menuju Batam masih merugi. masalah keributan di pelabuahn Batam merupakan masalah kita bersama untuk mengamankan dan masalah pengangguran di Batam tidak semata mata karena penumpang yang diangkut oleh kapal PELNI karena, bila dibandingkan dengan penumpang pesawat masih lebih besar yang diangkut oleh pesawat dari pada kapal PELNI. bila dihitung dalam satu bulan yang hanya 8 kali kunjungan yang rata rata turun 1000 orang sedangakan pesawat lebih banyak. PELNI tidak membatasi penumpang antara yang kaya dan yang miskin, antara pengangguran dan yang sudah bekerja, yang penting hak penumpang sama bila telah memiliki tiket kapal PELNI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s