Nyat Kadir, dari Ketua DPW PKB ke Dewan Pakar PKS

Sabtu, 30 Agustus 2008|20:47:37WIB

Hidup Adalah Pilihan

Mantan Ketua DPW PKB Kepri Nyat Kadir bikin heboh ranah politik di Kepri. Jelang pemilu legislatif, Mantan Wali Kota Batam ini lompat menjadi dewan pakar PKS. Apa yang dicari Nyat Kadir? Tak loyal, cari sensasi, ataukan membidik kursi gubernur? Simak petikan wawancara Batam Pos Jumat (29/8) lalu.

Kehebohan ini bermula pada Kamis (28/8). Kala itu, pria yang mendapat gelar Datuk Setia Amanah tersebut tampil memberikan testimoni usai pelantikan dan pengenalan dirinya kepada kader PKS di Sekretariat DPW PKS di Ruko Permata Niaga, Sukajadi.
Di depan para undangan termasuk kader teras PKS yang kini menjabat Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika, Nyat memulai orasi politiknya. Intinya dia banyak menyinggung alasannya mengundurkan diri dari PKB dan bergabung dengan PKS.
“Satu tragedi buat saya. Dua tahun lalu saya dipercaya Lukman Edy (sekjen PKB versi Muhaimin Iskandar) untuk bergabung dengan PKB. Tapi hari ini, Lukman Edy pula yang mengeluarkan surat pembekuan Nyat Kadir,” katanya memulai orasi.
Nyat kemudian membeberkan kisruh yang terjadi pada partai lamanya, sehingga membuatnya kecewa. “Saya keluar dari PKB pada Agustus dan saya telah bersurat kepada Gus Dur,” ungkapnya.
Kepindahan Nyat ke PKS ini menuai beragam tanya, duga, cibir hingga dukungan baik dari kawan maupun lawan. Ada yang bilang, kepindahan ini membuat karirnya menjadi antiklimaks. Karena menurut mereka, di partai ini Nyat sudah lama disiapkan untuk menjadi pemimpin. Awalnya masuk ke legislatif, baru kemudian ke kursi Gubernur Kepri.
Ada pula yang menganggap dapat menggembosi PKB, karena bagaimanapun, Nyat adalah tokoh masyarakat yang juga mantan Wali Kota Batam. Suka atau tidak dia sudah pernah berbuat bagi Batam dan masyarakatnya. Sehingga banyak orang yang merasa terhutang budi karena pernah dibantu olehnya.
Lain halnya dengan rekan-rekan lamanya di PKB. Orasi politik Nyat di panggung PKS membuat panas kuping. Menurut mereka, tak seharusnya Nyat berbicara seperti itu. Sebab, bagaimanapun PKB adalah partai yang dulu pernah ikut membesarkannya.
Selanjutnya mereka mewanti-wanti, agar Nyat tak lagi menjelek-jelekkan partai hijau berbintang sembilan itu. “Silakan kalau Pak Nyat mau pindah. Itu pilihan dia. Tapi tak usah jelek-jelekkan PKB,” jelas seorang petinggi partai itu.
Lalu apa jawab Nyat Kadir? Jumat (29/8) lalu, didampingi Hasyimah, istri tercinta, dia menjawab semua tudingan ini di rumah makan miliknya, kawasan Batam Centre. Sore itu, Nyat tampil cukup kasual. Mengenakan celana kain coklat, berbaju t-shirt abu-abu.

Apa benar Anda menjelek-jelekkan PKB?
Siapa bilang saya jelek-jelekkan PKB. Saya hanya berbicara fakta, toh tak saya ungkapkan juga fakta sudah terlihat, orang sudah pada tahu. Poin yang saya sorot di sini sebenarnya bukan PKB sebagai partai, namun para oknum pengelolanya, para pimpinan di pusat, bukan di daerah.
Soal (konflik) di daerah saya tak sorot. Karena (kekisruhan di daerah) ini akibat mereka di pusat. Saya tetap jaga agar di daerah tetap kondusif. Karena itulah saya tak nyalon (caleg), karena saya tak mau ada calon ganda atau konflik di daerah.

Apa tak takut mendapat kecaman dan protes dari orang-orang PKB sendiri?
Silakan kalau mereka tak terima. Sekali lagi, di sini saya hanya berbicara fakta yang sebelumnya sudah diketahui masyarakat.
Namun sejauh ini hubungan dengan rekan-rekan di PKB, secara persahabatan tetap. Cuma sekarang kita beda haluan. Saya tak mempermasalahkan mereka (pindah) ke mana. Karena mereka sudah terlanjur. Sudah kadung. Mau ke mana lagi. Ya silakan saja.
Tapi, kalau saya (memilih) mengambil jalan lebih cepat lebih bagus saya keluar dari arena konflik ini karena tak menguntungkan. Apalagi dari pengamatan saya saat itu, hingga tanggal 16 Agustus konflik ini tak akan berhenti, karena kedua kubu tak mau islah
Jelang saya pulang ke Batam, Gus Dur memastikan tak akan terjadi islah, karena (menurutnya) yang jujur tak akan bersatu dengan tidak jujur. Nah, begitu juga dari pihak Muhaimin. Saat berbincang di mobilnya, juga di bulan Agustus ini, juga tak ada tanda-tanda mau islah. Karena menurut Muhaimin tawaran (pihak Gus Dur) tak masuk akal. Seperti, agarYenny tetap jadi sekjen.
***

Sebagaimana catatan koran ini, konflik yang paling mengguncang PKB ini bermula ketika Gus Dur memecat Muhaimin Iskandar sebagai ketua umum PKB. Muhaimin adalah ketua umum hasil muktamar luar biasa (MLB) Semarang.
Melalui MLB Parung, Bogor, Gus Dur membentuk pengurus baru dengan mengangkat Ali Masykur Musa sebagai ketua umum, dan Yenny Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau Yenny Wahid sebagai sekjen. Gus Dur tetap sebagai ketua Dewan Syuro.
Kubu Muhaimin tak mau ketinggalan. Dia pun menggelar MLB Ancol dan membentuk kepengurusan baru dengan mengangkat Lukman Edy, yang juga menteri PDT tersebut, sebagai sekjen-nya.
Konflik kian runyam, ketika Dep Kum Ham dan MA hanya mengakui PKB Muhaimin sebagai partai sah untuk ikut pemilu 2009 mendatang. Pertarungan kian alot, gugat-menggugat terjadi, hingga akhirnya pemerintah mengeluarkan pernyataan bahwa hanya mengakui muktamar Semarang. Artinya, kepengurusan PKB kembali ke masa-masa sebelum konflik terjadi.
Namun, tetap saja ini tak mengubah keadaan, karena syaratnya harus islah dan membentuk kepengurusan bersama, sementara kedua kubu tetap tak mau bersatu dan jalan sendiri-sendiri.
Hal inilah yang merembet ke daerah. Banyak kader yang tak hadir pada MLB Muhaimin di Ancol, dianggap sebagai loyalis Gus Dur sehingga dicopot dan diganti loyalis Muhaimin.
Parahnya formasi ulang ini terjadi ketika detik-detik akhir penyusunan calon legislatif, sehingga idem ditto, loyalis Gus Dur yang sebelumnya banyak mengisi urutan atas (nomor jadi) sebagai caleg untuk berlaga di pemilu 2009, banyak lengser, didepak, tercoret atau apapun istilahnya, berganti orang-orang loyalis Muhaimin.
Banyak di antara mereka yang protes, bagaimanapun mereka telah banyak berkorban di PKB. Namun, tetap saja mereka tak bisa berbuat apa-apa. Tajamnya coretan pena “LE”, demikian Lukman Edy disapa, tetap berlaku. Orang-orang yang dicurigai loyalis Gus Dur hilang dari daftar celeg. Meski tetap masuk, itupun dapat nomor paling buncit cit cit.
Langkah akhir, banyak pengurus teras PKB di daerah harus lompat ke partai lain. Kecewa dan lelah sudah menumpuk. Situasi ini pulalah yang terjadi di Kepri. Loyalis Muhaimin “in”, Gus Dur “out”
***

Karena itukah Anda memilih PKS. Apa yang Anda cari di sini?
Alasan utama saya bergabung ke PKS, karena saya nilai memiliki kesamaan visi dengan saya. Sehingga di PKS saya bisa menyalurkan ide, gagasan dan saran-saran, karena tujuan partai ini juga mewujudkan masyarakat madani yang adil dan sejahtera dalam lingkup NKRI.
Di balik semua itu, yang jelas saya mau mencari kegiatan atau aktivitas supaya tak vakum, sehingga potensi yang ada di diri saya dalam rangka pengabdian pada masyarakat tak terbuang percuma.

Lalu apa kerja Anda di PKS?
Saya tawarkan saran-saran, bagaimana mewujudkan masyarakat madani yang dulu saya gaungkan saat jadi wali kota. Program ini juga telah menjadi visi Batam. Bahkan saat saya jadi calon gubernur.
Intinya saya utamakan saran dan usul berdasarkan fakta di lapangan. Misalnya saya melihat apa yang kurang di masyarakat, selanjutnya saya tampung, lalu saya sampaikan pada partai ini. Tujuannya agar PKS bekerja keras mendorong terwujudnya masyarakat madani.

Bukankah semua ini juga bisa Anda dilakukan di partai lama Anda?
Tidak. Dulu saya merasa pengembangan diri sebagai politikus dan pemimpin partai yang saya miliki stagnan, karena terus-menerus dibayangi konflik.

Ketika konflik Gus Dur dan Muhaimin berkecamuk. Apa yang Anda lakukan?
Sebenarnya, sebagai ketua DPW, saya (bersama rekan-rekan lain) ikut terlibat dalam upaya-upaya meredam konflik (antara Gus Dur dan Muhaimin). Karena kami ini kelompok tengah, yang berupaya agar PKB tidak hancur. Bukan ada maksud lain dengan ngeblok sana ngeblok sini.
Selama konflik ini saya terus-terusan berangkat ke Jakarta. Kadang juga keliling menghadiri berbagai pertemuan. Ada pertemuan di Medan, di Tulung Agung (Jawa Timur). Pokoknya mutar terus, satu bulan bisa dua kali kumpul dengan teman-teman.
Setiap kali ada isu MLB, kita selalu datang ke Gus Dur dan membujuknya agar jangan selalu menggelar MLB, karena sudah sangat dekat pemilu dan ini merugikan citra PKB di masyarakat. Beberapa kawan-kawan lain juga menjumpai Yenny. Dan minta agar mencari jalan terbaik. Itu saja urusan kita.

Hasilnya bagaimana?
Saya malah dicurigai pro Gus Dur lah, pro Muhaimin lah. Itu kan hanya kecurigaan dari kelompok Muhaimin dan Yenny saja.
Jadi (saya) cukup lelah dan tidak berkembang. Pikiran membesarkan partai tersedot habis dalam konflik ini. Karena kita punya misi agar jangan sampai Gus Dur dan Muhaimin pecah. Tapi dalam perjalanannya malah belok-belok.

Dulu DPP PKB banyak memuji keberhasilan PKB Kepri karena paling cepat melakukan konsolidasi?
Oh ya. Tapi itu ketika konflik belum muncul. Tapi setelah muncul, kita malah kebingungan, bimbang dan ragu-ragu melangkah untuk melaksanakan aktivitas. Khawatir terbuang percuma.

Respon masyarakat sendiri bagaimana?
Syukurlah, secara umum responnya sangat bagus. Saya menerima SMS dan telepon yang mengatakan bahwa (pindah) itu pilihan yang tepat. Saya tak tahu ini kenapa (mereka mengatakan seperti itu). Barangkali PKS lebih dikenal dan gerakan-gerakannya sebagai partai profesional, peduli dan bersih lebih jelas. Atau barangkali, mereka merespon kepindahan saya (ke PKS) ini menguntungkan posisi saya.

Tapi ada juga yang bilang bahwa Anda hanya cari sensasi, juga gara-gara dicoret jadi caleg dan dilengserkan oleh L E?
Tak…. Saya sudah puluhan kali ngomong, saya tak berminat jadi caleg dari PKB maupun partai lain. Sedari awal saya katakan, bahwa lebih baik saya ngurus partai.
Sebenarnya apa susahnya jika saya mau jadi caleg. Karena banyak tawaran dari teman-teman di partai lain. Tawaran ini langsung dari pusat, saya diminta duduk di DPR RI, karena mereka tak punya calon ke sana.
Mereka yakin bahwa saya bisa melenggang ke DPR RI, karena uji publik waktu saya menjadi kandidat gubernur membuktikan, bahwa suara (pemilih) saya mendekati 180 ribuan. Jadi, tak terlalu sulit bagi saya untuk membangkitkan romantisme ke DPR.

Ada juga yang bilang, kepindahan Anda ke PKS untuk menjadikannya perahu ke Kepri 1?
(Kali ini Nyat tersenyum simpul)
Saya rasa itu terlalu jauh. Tapi silakan saja orang menafsirkan sesuai kerangka fikir masing-masing, itu hak mereka di alam demokrasi ini. Tapi sebenarnya saya ingin berbuat dulu, sesuai dengan tahapan yang ada.
Pokoknya kita lihat dululah situasinya. Karena bisa saja semua ini nanti terjadi. Tapi itu terlalu jauh, masih sekitar dua tahun lagi kalau kita mau bicara pemilihan gubenur Kepri. Silakan menafsir tapi saya ingin berbuat dulu. (ref)

Dimarahi Datuk

Dimarahi oleh datuk sendiri, menjadi pengalaman yang tak terlupakan oleh Nyat, di masa mudanya. Saat itu, sedang berlangsung pemilihan kepala desa (kades) di kampungnya, Panggak Laut, Daik. Nyat di usianya sekitar 20 tahun menjadi tim sukses bapaknya.
Bapaknya adalah orang yang direstui oleh Tok Bathin, demikian sebutan Nyat untuk datuknya, untuk menjadi kades. Tok Bathin sendiri pada masa itu masih memegang jabatan sebagai kades.
“Tetapi bapak saya tidak mau menjadi kades, dengan alasan ekonomi tidak memungkinkan. Saat itu akhirnya saya justru jadi tim sukses yang misinya agar bapak saya tidak jadi kades,” kenangnya, tertawa.
Pada saat yang sama, Nyat juga menjadi tim sukses pamannya, Abdurrahman, tetapi tidak disetujui oleh sang datuk.
Karena ketahuan, sang datuk pun murka pada Nyat.
“Datuk sangat marah, dia angkat kursi dan hampir dilemparkan pada saya,” kata Nyat.
Untuk menghindari kemarahan sang datuk, Nyat akhirnya kabur dari kampung untuk waktu yang cukup lama. Kenangan itu menurut Nyat tak akan terhapus dari ingatannya. Selain ingat akan pada kemarahan sang datuk, kenangan itu juga merupakan kisah mula Nyat mengenal dunia perpolitikan.
Nyat muda juga pernah terlibat sebagai kader Golkar di kampungnya. Saat itu tengah berlangsung pemilihan umum (Pemilu) dan dia berperan mengurus kepentingan partai yang menaunginya. Kejadian itu, menurutnya Nyat menjadi referensi politiknya di masa depan.
Terbukti pengalaman itu mengantarnya duduk sebagai Wali Kota Batam pada tahun 2001 dan sempat bertarung sebagai kandidat Gubernur Kepri, tahun 2005 lalu. (hsl)

————–

Nama : Drs H Nyat Kadir
Tempat/Tgl Lahir : Panggak Laut / Daik Lingga
Pekerjaan/Jabatan : Mantan Wali Kota Batam 2001-2005

Pendidikan : Sekolah Rakyat Panggak Laut (1962)
SMP Daik (1965)
: SPG II Daerah di Daik (1967)
: Sekolah Pendidikan Guru di Tanjungpinang (1975)
: Universitas Riau (1984)

Istri : Hasyimah
Anak 1. Konny Julian Setiawan
2. Ahsan Sajri
3. Muchsin Sajri

Riwayat Pekerjaan : 1. Guru (1967 – 1980)
2. Kepala Urusan Kepegawaian P dan K Kabupaten Kepri (1984 – 1991)
3. Kepala Biro Umum Sekretariat Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Tanjungpinang Kabupaten Kepulauan Riau (1985-1991)
4. Dosen luar biasa Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Tanjungpinang Kabupaten Kepri (1985-1991)
5. Kepala Cabang Dinas P dan K Provinsi Dati I Riau di Batam (1991-2000)
6. Kepala Dinas P dan K Batam (2000-2001)
7. Wali Kota Batam (2001-2005)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s