Wawako Panen 800 Ekor Ikan Kerapu

Rabu, 22 Oktober 2008
Di Pulau Mubut
BATAM (BP) – Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika melalukan panen perdana ikan Kaerapu Macan dengan budidaya keramba jaring tancap (KJT), di Pulau Mubut, Kelurahan Karas, Kecamatan Galang, Selasa (21/10).
“Dengan waktu 9 bulan menunggu masa panen, akhirnya dihasilkan ikan dengan berat rata-rata 500 gram per ekor,” kata penanggungjawab lapangan KJT, Amir.
Amir menjelaskan, pada awalnya jumlah benih ikan Kerapu Macan yang ditabur berjumlah 1.200 ekor dengan berat masing-masing benih 30 gram, yang kemudian dimasukkan ke dalam KJT. Namun, selama masa budidaya, sekitar 20 persen dari jumlah benih yang ditabur, mengalami kematian karena penyakit dan faktor-faktor lainnya.
Amir mengatakan, jumlah ikan yang sudah layak dipanen masih berkisar 800 ekor, karena beratnya sudah memenuhi standar, jadi tidak rugi untuk menjualnya. “Ada sekitar 160 ikan yang belum bisa dipanen karena berat rata-ratanya masih 250 gram, yang kalau dijual, kita akan rugi,” jelas Amir.
Ikan-ikan yang dipanen tersebut, langsung dijual kepada para penampung ikan dari Malaysia. Harga jual ikan tersebut mencapai 20 dolar Singapura per kilogram. “Harga 20 dolar Singapura per kilo tersebut berlaku kalau ikan dalam keadaan hidup sampai di Malaysia,” imbuh Amir.
Wawako Ria Saptaria mengatakan, dilihat dari berhasilnya program budidaya KJT di daerah tersebut, membuktikan bahwa daerah perairan di Batam sangat berpotensi di bidang perikanan, khususnya Kecamatan Galang.
“Apalagi daerah ini termasuk ke dalam kawasan konservasi dari coremap Batam. Yang mana daerah tersebut merupakan daerah laut yang dilindungi, khususnya terumbu karang, sehingga sangat mendukung untuk dijadikan tempat budidaya ikan,” terangnya.
Namun, sebagian warga banyak yang mengeluh, karena tangkapan ikan yang mereka produksi selalu menurun setiap tahunnya, hal ini kemungkinan terjadi akibat limbah dari transportasi bauksit dari Kabupaten Bintan.
“Walaupun bauksit itu beoperasi di Bintan, namun arus laut membawa limbah tersebut mengalir ke perairan Mubut yang mengakibatkan sedimentasi dan berubahnya warna jaring tangkap, sehingga ikan-ikan tidak mau masuk ke dalam jaring tersebut,” aku Amir.
Menanggapi hal tersebut, Ria menjelaskan Pemko akan segera mengkomunikasikan masalah tersebut kepada Pemkab Bintan agar segera mengalokasikan jalur transportasi bauksit tersebut. Shingga tidak mengganggu proses perikanan, baik tangkap maupun budidaya, apalagi daerah tersebut sangat dekat dengan daerah perlindungan laut (DPL). (cr4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s