Batam ‘Surga’ Penyelundup

Sabtu, 25 Oktober 2008
Pengawasan dan razia rutin yang dilakukan aparat keamanan dan Bea Cukai ternyata tidak menyiutkan nyali pelaku penyelundupan untuk memasok barang-barang ilegal ke Batam. Mulai dari barang-barang elektronik, narkoba, minyak solar, pakaian bekas hingga uang palsu. Pelaku bahkan semakin berani dan cangih dalam aksinya. Tidak heran, julukan Batam ‘surga’ penyelundup masih melekat di kota yang berbatasan langsung dengan Singapura ini.

Di tengah hiruk-pikuk masalah Free Trade Zone (FTZ) yang belum jelas wujudnya, Pemerintah kota (Pemko) Batam masih dihadapkan dengan masalah aksi penyelundupan barang-barang dari negara tertangga. Lalulintas sejumlah pelabuhan di Batam yang padat setiap hari masih dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk mencari keuntungan dengan memasukan barang-barang yang tidak memiliki izin dan surat-surat resmi ke Batam. Aksi penyelundup ini bukan hanya merugikan negara secara finansial tetapi juga melemahkan wibawa Pemko Batam yang selalu ‘dikibuli’ oleh para pelaku penyelundupan.

Apalagi dengan pemberlakuan Perpu Free Trade Zone (FTZ), Direktorat Bea dan Cukai (BC) ditenggarai bakal kerepotan untuk melakukan pengawasan karena bebasnya barang-barang keluar masuk ke Batam. Kondisi ini diperburuk dengan banyaknya pelabuhan ilegal alias pelabuhan tikus di Batam. Data yang dihimpun, sedikitnya tercatat sebanyak 64 titik pelabuhan tikus di Kota Batam. Dari 64 titik tersebut, termasuk diantaranya pelabuhan yang biasanya digunakan masyarakat untuk aktivitas perekonomian skala kecil. Seperti di Dapur 12, Sagulung, Kampung Bagan maupun di kawasan Sekupang. Kehadiran pelabuhan tikus ini tidak lain karena lemahnya pengawasan pemerintah sejak awal. Seharusnya, pemerintah tidak membenarkan adanya aktivitas masyarakat di pelabuhan selain pelabuhan resmi. Dengan begitu, tidak timbul yang namanya pelabuhan tikus tersebut.

Dalam pekan ini saja, aparat berhasil menggagalkan tiga kasus penyelundupan yang cukup besar yakni, penyelundupan solar dan minuman keras di Perairan Tanjung Sengkuang, Jumat (18/10). Solar dan minuman keras itu dibawa oleh kapal KM Duta Perdana GT 176 dan tidak dilengkapi dokumen ekspor-impor dan kepabeanan. Keesokan harinya juga kembali digagalkan penyelundupan
sekitar 700 ton solar ilegal yang diangkut tiga unit kapal masing-masing KM Lestari, KM Veni dan KM Fajar di Perairan Teluk Jodoh. Disusul kemudian penangkapan dua wanita muda Fb alias sl (17) dan Mn (26) berikut 249 butir pil ekstasi yang diselundupkan dari Malaysia melalui kapal ferry. Dalam melakukan operasinya, tersangka menjalin hubungan dengan pihak bandar di Batam yang selalu menghubungi bandar di Malaysia melalui handphone.

Belum lagi penyeludupan ribuan telepon seluler (handphone) berbagai merek melalui Pelabuhan Khusus (Pelsus) Harbour Bay, Batuampar yang dibawa ke Batam dengan menggunakan feri penumpang Wave Master. Serta sejumlah aksi penyelundupan daging, narkoba, pakaian bekas dan uang palsu bernilai ratusan juta.

Ketua Komisi III Ruslan Kasbulatov menilai penutupan pelabuhan tikus yang ada di Kota Batam dianggap sangat penting. Sejalan implementasi Free Trade Zone (FTZ), jika pelabuhan tikus tetap dibiarkan akan dikhawatirkan terjadinya tindak kejahatan seperti penyeludupan. Karena itu sejak awal, pemerintah pusat menekankan agar pemerintah daerah dapat menyikapi keberadaan pelabuhan-pelabuhan tikus yang ada.

Jika pelabuhan tikus tidak ditutup saat implementasi FTZ tegas Ruslan, akan mengakibatkan kerugian negara. Sebab, akan terjadi aksi penyeludupan barang-barang yang masuk ke Kota Batam ke daerah pabean lainnya di Indonesia. Sementara barang yang masuk ke Kota Batam akan bebas pajak.

“Aksi-aksi penyeludupan itu nantinya yang akan memanfaatkan keberadaan pelabuhan tikus. Jika pemerintah tetap membiarkannya, maka kekhawatiran pemerintah pusat akan terjadi. Aksi penyeludupan akan marak nantinya saat FTZ. Karena itu kita berharap ada sikap tegas dari pemerintah untuk mendukung pelaksanaan FTZ ini juga,” kata Ruslan.

Ruslan juga menegaskan, pihak BC dalam melakukan razia atau pengawasan jangan bertindak hangat-hangat tahi ayam. Hanya sibuk jika ada pemeriksaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tetapi cuek ketika tidak ada pemeriksaan. “Bea cukai jangan hangat-hangat tahi ayam, sibuk aja ketika ada KPK tetapi tidak ada aksi ketika tak ada pemeriksaan,” tegas Ruslan.

Senada dengan Ruslan, Direktorat Jenderal Bea Cukai Departemen Keuangan RI Teguh Indrayana juga menilai, masalah penyeludupan sebagai persoalan serius yang harus cepat diatasi oleh pemerintah Batam. Sebab, pengawasan oleh BC tidak hanya di wilayah-wilayah tertentu saja, tetapi all island (Pulau Batam secara keseluruhan).

“Pelabuhan tikus yang di Batam, sangat luar biasa. Dan yang menjadi kekhawatiran kita adalah aksi penyeludupan. Bagaimana pengawasan yang bisa dilakukan pemerintah daerah, menyikapi persoalan itu,” ujar saat berkunjung ke Batam beberapa waktu lalu.

Sementara Walikota Batam Ahmad Dahlan menyatakan, penutupan pelabuhan tikus menjadi salah satu komitmen Pemko Batam dalam mensukseskan FTZ di Batam. Dan untuk itu, Dinas Perhubungan telah melakukan survei dan melakukan pengawasan di sejumlah titik yang selama ini ditenggarai sebagai tempat penyelundup masuk.

“Yang menjadi kendala pemerintah pusat dalam pelaksanaan FTZ saat ini adalah keberadaan pelabuhan tikus di Batam, untuk itu kita sudah melakukan upaya untuk mengatasinya,” ujar Ahmad Dahlan.

Nah, untuk menutup pelabuhan-pelabuhan tikus tersebut dibutuhkan komitmen pemerintah. Pelaksanaannya tergantung dari pemerintah selaku eksekutor. Jika serius, maka bisa dilaksanakan sesegera mungkin.

Mulai dari Solar, Miras Hingga Uang
Beraneka jenis barang-barang yang tidak dilengkapi dokumen ekspor-impor dan kepabeanan diduga setiap hari wara-wiri masuk ke Batam. Penangkapan yang dilakukan aparat keamanan dan petugas BC diduga hanya sebagian kecil saja. Sebagian besar barang-barang ilegal itu berhasil diselundupkan melalui puluhan pelabuhan tikus yang tersebar di sejumlah titik di Batam.

Seperti penyeludupan sebanyak 700 ton minyak solar yang digagalkan Polda Kepri dari tiga unit kapal masing-masing KM Lestari, KM Veni dan KM Fajar di Perairan Teluk Jodoh, Sabtu (19/10). Dan penangkapan penyelundupan solar dan minuman keras di Perairan Tanjung Sengkuang. Namun

Menurut keterangan para ABK yang berhasil ditangkap, kapal KM Lestari dan KM Fajar Timur berfungsi sebagai pengangkut minyak solar dari Tug Boat penjual Solar ke KM Veni yang berfungsi sebagai penampung selanjutnya menjual kepada kapal tanker pembeli Solar.

Meski sudah melakukan aktivitas penyelundupan berbulan-bulan, anehnya para ABK mengaku tidak mengetahui siapa pemilik kapal dan Solar termasuk berapa kapasitas bunker penampung solar pada ketiga kapal tersebut. Mereka juga tidak mengetahui berapa ton solar yang dijual ke setiap kapal pada setiap kali penjualan. Bahkan mereka juga tidak mengetahui siapa nahkoda ketiga kapal pengangkut dan penjual minyak ilegal.

Angga mengatakan, sepengetahuan dia ketiga kapal telah beroperasi selama kurang lebih tiga bulan namun demikian ABK kapal lainnya mengaku baru bekerja dibawah satu setengah bulan.
Sementara Anto mengaku hanya mengetahui sosok bernama Samhudi yang seminggu sekali turun ke kapal bersama ketiga nahkoda kapal. Setiap Samhudi turun ke lokasi baru aktivitas mereka berjalan yakni pengangkutan solar dari Tug Boat dan kegiatan penampungan serta penjualan ke kapal pembeli.

Menurut pengakuan mereka, seminggu sekali baru berlangsung transaksi pengangkutan, penampungan dan penjualan minyak solar. Mereka hanya melaksanakan pekerjaan namun demikian tidak mengetahui berapa banyak solar pada setiap pengangkutan dari Tug Boat dan penjualan ke kapal lain. Angga mengaku setiap bulan mereka menerima gaji sebesar Rp1 juta.

Sementara kapal KM Duta Perdana GT 176 yang ditangkap TNI AL di Perairan Tanjung Sengkuang
Heru Setoko, Kepala Bidang Bimbingan Kepatutan Layanan dan Informasi (Kabid BKLI KPU BC Tipe B),disinyalir sering melakukan kegiatan penyelundupan itu mengangkut sekitar 100 Ton. Aktivits mereka telah merugikan negara sekitar Rp1 miliar.

Selain Solar, seminggu sebelumnya BC juga mengamankan penyelundupan Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) atau minuman keras jenis Wine sebanyak 300 karton masing-masing karton berisi 12 botol asal Singapura, Sabtu (11/10) di Pelabuhan Beton Sekupang. Mikol tersebut dibawa KM Budi Jasa 17 tanpa dilengkapi dokumen

Penyelundupan uang
Kemudian, Tang Teng Meng (44) ditangkap petugas Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KPPP) Harbor Bay, Kamis (16/10) saat akan menyelundupkan uang sebanyak Rp100 juta ke Singapura. Dari tangan tersangka, polisi menemukan uang pecahan Rp100 ribu berjumlah Rp100 juta dengan menggunakan kertas koran tanpa dimasukan ke dalam tas. Saat dicegat polisi, pelaku hendak naik ke dalam kapal verry yang akan berangkat ke Singapura.

Tertangkapnya pelaku penyelundupan yang sudah lama menjadi target operasi aparat kepolisian tersebut, berawal dari kecurigaan aparat terhadap pelaku dengan membawa barang yang dibungkus dengan menggunakan kertas koran. Setelah diperiksa, ditemukan uang rupiah melebih batas ketentuan hendak dibawa ke luar negeri tanpa dilengkapi dengan dokumen. Menurut UU yang ada, apabila membawa uang diatas Rp100 juta ke luar negeri, maka harus ada ijin dari Bank Indonesia (BI). Pelaku sudah lama menjadi target operasi aparat kepolisian.

Ada Jaringan Mafia Bermain ?
‘Aktor intelektual’ diduga berada di balik aksi penyelundupan yang masih terus berlangsung di Kota Batam. Pelaku sepertinya sudah membungkus rapi aksi ilegal ini dengan melibatkan oknum-oknum terkait sehingga sulit untuk dilacar. Hal ini terendus dari pengakuan sementara para ABK dan pelaku yang berhasil ditangkap yang umumnya ‘tutup mulut’ dan bahkan tidak tahu kepada siapa pemilik kapal. Mereka juga tidak mengetahui berapa ton solar yang dijual ke setiap kapal pada setiap kali penjualan. Lebih aneh lagi, para ABK juga tidak tau siapa nahkoda ketiga kapal tempatnya bekerja.

Seperti aksi perdagangan solar ilegal yang diungkap Polda Kepri di Perairan Teluk Jodoh,Perdagangan solar ini diduga dilakukan oleh jaringan mafia yang sepak terjangnya tertata rapi.

Ranto (43), mantan ABK tug boat, menduga kuat keterlibatan jaringan mafia dalam perdagangan tersebut. Selama menjadi ABK, ia sering berhadapan dengan ABK dari kapal-kapal yang menjual solar secara ‘kencingan’. Dikatakan, nakhoda tug boat atau kapal-kapal lainnya tertarik membeli solar versi kencingan karena harganya relatif murah. Selain itu, ada kalanya, solar yang dijual bersifat borong-borongan dengan harga per drum.

“Kalau lagi nasib baik, kita bisa membeli dengan harga asal jadi, seperti obral di pasar. Itu biasanya, terjadi bila penjual merasa terancam. Dari pada dibuang ke laut, lebih baik diobral,” katanya.

Lebih jauh diungkapkan, pernah ditawari bekerja di kapal penjual solar. Dikatakan, saat itu ia ditawari gaji yang sangat tinggi dengan syarat tidak bisa membocorkan siapa pemilik serta otak di balik perdagangan itu. “Artinya, kita hanya dijadikan kambing hitam. Setelah berpikir panjang, saya menolak tawaran itu,” kenangnya.

Jadi kata Ranto, tidak benar jika gaji ABK sebesar Rp1 juta seperti yang pengkuan tersangka. Menurutnya, itu merupakan bagian dari skenario para gembong yang terlibat dalam jaringan mafia itu. “Sangat diterima akal, jika mereka mengaku digaji antara Rp5 juta sampai Rp10 juta, akan terbongkarlah keuntungan mereka yang sangat besar. Dengan menyebutkan gaji Rp1 juta, seolah-olah bisnis ilegal itu tidak beruntung besar. Logika saja, mana ada lagi gaji ABK Rp1 juta, apalagi bisnis ilegal. Bohong itu,” katanya mengungkapkan. (sm/as)

Pemko Terus Minimalisir Penyelundupan
Sebagai kota yang berbatasan langsung dengan negara asing tentunnya Kota Batam rawan dari praktek penyelundupan. Seperti penyelundupan barang-barang elektronik handphone, laptop, BBM, makanan bahkan mobil mewah. Namun, upaya Pemko untuk memutus rantai penyelundupan belum maksimal hasilnya.

Menanggapi hal ini Wakil Walikota Batam Ria Saptarika beralasan, banyaknnya penyelundupan yang diungkap, menandakan keberhasilan aparat keamanan.

“Banyaknnya kasus penyelundupan yang diungkap, menandakan keberhasilan aparat keamanan. Namun Banyaknnya pelabuhan tikus serta dekatnnya posisi Batam dengan negara-negara tetangga membuat tingkat kerawanan penyelundupan lebih tinggi dibandingkan kota-kota lainnya di Indonesia,” ujar Wakil Walikota Batam Ria Saptarika Kepada Sijori Mandiri usai membuka Rumah Hitam Art Festival, Jumat (24/10).

Ria mengatakan, bahwa kota-kota lain di Indonesia mengalami kerawanan dalam penyelundupan. Namun tingkat kerawanannya berbeda dengan kota-kota perbatasan, seperti halnya Kota Batam yang berbatasan dengan Singapura dan Malaysia.

“Permasalahan penyelundupan ini sering dibahas di tingkat Muspida Kota Batam. Bahkan lintas Muspida seperti lembaga-lembaga pelabuhan, untuk mengamankan pelabuhan-pelabuhan tikus yang seringkali digunakan para penyelundup. Karena kurangnya tingkat pengamannannya, namun ke depannya pelabuhan tikus yang ada di Kota Batam akan lebih diperketat supaya bisa diminimalisir tingkat penyelundupan,” ujar Wawako.

Ria menambahkan, bukan hanya penyelundupan barang saja yang menjadi perhatian aparat keamanan tetapi penyelundupan kasus traficking juga menjadi perhatian dari pemerintah serta aparat keamanan.

One thought on “Batam ‘Surga’ Penyelundup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s