Tampilkan 14 Grup Seni dan Paguyuban

Minggu, 09 November 2008

BATAM (BP) – Hari kedua penyelenggaraan Kenduri Seni Melayu dimeriahkan parade budaya yang menampilkan 14 grup seni dan paguyuban di depan Hotel Nagoya Plasa. Acara ini mampu menyedot perhatian warga yang kebetulan lewat di sana. Bahkan sejumlah wisatawan mancanegara pun rela berpanas-panasan menyaksikan atraksi seni budaya nusantara ini.

Sayangnya, atraksi itu hanya dipusatkan di satu titik jalan saja, sehingga untuk menyaksikannya, warga harus rela berdiri memadati sekitar pentas dan di seberang trotoar jalan.

Atraksi dibuka Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika dan langsung disambut hormat oleh mayoret marching band Bahana Barelang Batam. Disambut kemudian dengan arak-arakan Melayu Kota Batam persembahan sanggar seni Nurnilam, Pantai Pasir, Sri Batam, dan Keris Permata Sari.
Salah satu seni khas Melayu yang diangkat rombongan adalah Tari Jogi. Tari yang mengungkapkan keceriaan perempuan Melayu pesisir pantai, terutama ketika menunggu sang suami pulang dari melaut. Dalam lenggok lemah gemulai, mereka menari, bersenda dan bercengkrama. “Dengan senyum berlesung pipit, derai ceria penuh pesona,” ujar pembawa acara Samson Rambah Pasir.

Tak lama setelah itu, penonton pun kian ramai. Bahkan tak lagi di trotoar, tapi sudah mulai turun ke jalan. Mereka ingin menyaksikan penampilan selanjutnya yang dipersembahkan Ikatan Keluarga Besar Sumatera Utara (Ikabsu) Kota Batam, yaitu tari Tortor dan Gondang. Penampilan ini sesekali ditingkahi dengan komentar dari duo pembawa acara, Samson dan Sakban Albochari yang menerangkan maksud dan kapan biasanya tarian ini digelar oleh warga Sumatera Utara.

Menyusul kemudian persembahan paguyuban warga Sumatera Barat dengan Randai, sebuah seni teater tradisi Mingakabau. Cuplikan cerita yang diangkat dalam parade ini adalah lakon “Rambun Pamenan”. Menceritakan seorang raja, Rajo Angek Garang yang dikalahkan seorang pemuda Rambun Pamenan yang memilik ibu Puti Lindung Bulan. Penyebabnya, Rajo Angek Garang yang terkenal lalim, menyiksa Puti Lindung Bulan karena Puti menolak untuk dinikahi.

Usai dipukau dengan tampilan dan cerita pengantar dari pembawa acara, atraksi dilanjutkan dengan penampilan grup Seruling Mas Kota Batam dengan seni kuda kepang tirta kencana. Menyusul reog dari Ponorogo yang mengundang antusias penonton. Bahkan penonton yang mungkin berasal dari daerah Ponorogo yang berdiri di belakang Batam Pos, tak henti-hentinya menjelaskan kepada rekan di sebelahnya bagaimana lazimnya reog ditampilkan.

Selain lima atraksi ini, ada pula atraksi dari Bali, NTB, NTT, Maluku, Bawean dan Tionghoa. Pembawa acara yang adalah staf Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Batam ini, selain menerangkan atraksi yang sednag berlangsung, juga memberi imbauan kepada penonotn untuk cinta seni budaya bangsa dan melestarikannya. “Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Kalau tidak kita siapa lagi,” ucap mereka bersahutan.

Sebelumnya, pada Jumat malam, juga diselenggarakan pementasan tarian dari berbagai daerah. Sanggar Sri Setaman yang mewakili Batam bersama sanggar Elang Perkasa tampil memikat saat menampilkan tarian Cik Puan Kembang. Ratusan penonton pun bertepuk tengan.

Empat penari pria dan empat penari perempuan membawakan tarian Cik Puan Kembang, itu dengan apik. Seorang penari perempuan berdiri di punggung dua penari laki-laki. Sementara lima penari lainnya melakukan gerakan menyembah dan menghormati penari yang jadi simbol Cik Puan Kembang itu.

Tarian ini, mengisahkan seorang pemimpin wanita yang cantik jelita. Ia dipuja rakyatnya, sekaligus dibenci oleh sebagian yang lain. Namun, Cik Puan Kembang tak peduli. Karena baginya, menyejahterakan rakyatlah yang nomor satu.

Tari Cik Puan Kembang jadi penutup rangkaian tarian daerah, Sabtu malam itu. Sebelumnya, sejumlah daerah juga menampilkan tarian terbaiknya. Dari Bangka Belitung misalnya, menampilkan tari Tanggok Sahang yang dibawakan oleh sanggar seni Kite. Lampung menampilkan tari Melinting.

Tak kalah memukau adalah penampilan sanggar Megad dari Lingga. Tujuh penari dari Lingga itu membawakan tarian Zapin Tudung Gemulai. Layaknya, tarian zapin, gerakan-gerakan penarinya rancak dan mendayu. Bedanya, dibandingkan zapin yang lain, tari Zapin Tudung Gemulai lebih lembut.

Penari perempuannya lebih banyak menutupi wajahnya dengan selendang warna pelangi seperti gadis yang malu-malu. Ini karena tarian tersebut menggambarkan norma-norma kesopanan di Lingga yang terus dijaga. Sepanjang tarian, penari perempuan dan prianya sama sekali tak berdekatan.

Selain penampilan tarian kontemporer itu, pentas seni KSM juga dimeriahkan dua pesulap dari Bandung. Juga ada pembagian door prize kepada dua penonton yang bisa menjawab pertanyaan panitia. (ary/med)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s