Tos 3000 Harus Ditertibkan

Selasa, 11 November 2008

* Penyebab Sepinya Pasar Induk

BATAMCENTRE – Salah satu penyebab sepinya Pasar Induk adalah masih beroperasinya Pasar Tos 3000, Nagoya. Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pasar, Koperasi dan UKM (PMPK-UKM), Dinas Perhubungan serta Satpol PP dinilai kurang serius menertibkan pasar tersebut.

Pengakuan itu disampaikan Wakil Walikota Batam Ria Saptarika yang dikonfirmasi di ruang kerjanya, Senin (10/11). Dikatakan, akibat belum maksimalnya ketiga instansi tersebut dalam menangani penertiban pasar Tos 3000 berimplikasi pada sepinya kawasan Pasar Induk. “Ketiga dinas tersebut belum bekerja secara maksimal untuk menertibkan kawasan pasar di Tos 3000 sehingga menyebabkan pasar induk sepi,” ujarnya.

Namun kata Ria, bukan hanya faktor itu yang mengakibatkan pasar induk sepi. Minimnnya lahan untuk tempat parkir juga membuat pengunjung enggan berbelanja. Demikian juga faktor ketiadaan distributor di pasar milik Pemko Batam itu, mengakibatkan harga lebih mahal dibanding pasar lainnya.
Ia menyebutkan pasar induk bukan hanya ditinggalkan pembeli, tetapi juga para pedagang. Penyebabnya, berdagang di pasar induk tidak lagi menjanjikan.

Ria mengungkapkan Pemko Batam pernah mengusulkan kepada PT Goden Tirta Asia (GTA) untuk menghadirkan distributor di pasar induk. Pemko telah mengusulkan agar pengelola Pasar Samarinda mengalihkan sebagaian distributor ke pasar induk. Namun usulan tersebut belum terealisasi. “Pemerintah sudah merencanakan agar sebagian distributor atau grosir yang ada di pasar Samarinda pindah ke pasar induk. Namun karena ada pertimbangan matematis antara pengelola pasar induk dan pengelola pasar Samarinda, hal itu belum terealisasi” ujarnya.

Sebenarnya kata Ria, permasalahan pasar induk bukan hanya tanggung jawab Pemko. Otorita Batam (OB) juga harus mencari solusi agar pasar induk bisa bergairah kembali. Alasannya, yang mempunyai konsep awal tentang Pasar Induk adalah pihak OB bukan Pemko Batam.

Direktur Operasional GTA Rustam Bangun mengatakan sepinnya pengunjung serta larinya para pedagang dari Pasar Induk disebabkan pemerintah yang tidak konsisten. Dikatakan, jika Dinas Perhubungan, Satpol PP Serta Dinas PMPK-UKM dan Pasar menerapkan peraturan secara konsisten, pasar induk tidak akan sepi. “Pedagang dan pembeli pasar induk banyak yang lari ke Tos 3000, padahal di sana mereka berjualan di pinggir-pingggir jalan. Ini kan aneh. Padahal, jangankan berdagang, untuk parkir saja tidak boeh di situ,” katanya.

Lebih parah lagi katanya, Dinas PMPK-UKM malah memberikan izin sementara kepada para pedagang. Walaupun diatur jam bukanya, tetapi secara tidak langsung merupakan upaya melegalkan yang ilegal,” ujar Rustam.

Menurutnya, jika pasar Tos 3000 dipergunakan sebagai mana pungsinya serta mengembalikan para pedagang ke Pasar Induk, dapat dipastikan akan bergairah kembali. Seperti dua kali penertiban yang dilakukan Satpol PP pada tahun 2007, terbukti pasar induk jadi ramai. “Namun, karena tidak adanya pengawasan dari pemerintah, maka para pedagang kembali lari ke Tos 3000,” tuturnya.
Rustam mengatakan untuk penertiban kedua dari 16-26 Oktober tahun 2007, pihaknya GTA telah mengalokasikan Rp250 juta untuk operasional tim gabungan. “Kita pernah menganggarkan penertiban pedagang di Tos 3000 sebesar Rp250 juta, namun karena pemerintah tidak konsisten, pedagang kembai menjamur,” ucapnya.

Para Pedagang Stres

Muhti, pedagang bumbu yang masih bertahan di Pasar Induk mengaku stres akibat kondisi pasar yang kian hari sepi pengunjung. Dikatakan, aktifitas di pasar tersebut sepertinya tidak ada lagi.
Menurutnya, berjualan di pasar bermasalah itu tidak bisa lagi menguntungkan. Malah sebaliknya, para pedagang sering nombok. Ia sendiri tetap bertahan karena tidak tau lagi kemana berjualan. Jika ingin pindah, ia tidak mampu menyewa tempat.

Minah, yang sudah 3 tahun berjualan telor di pasar induk juga merasakan hal yang sama dengan Muhti. Dikatakan, telor dagangannya hanya dijual kepada sesama pedagang. “Saya berjualan telor bukan kepada konsumen, tetapi kepada para pedagang,” ujar Minah.
Ia juga mengaku selalu membayar Rp5 ribu per hari, namun tidak pernah ada perubahan. (sm/23)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s