Dipindahkan, Tunggu Evaluasi dan Master Plan

Dipindahkan, Tunggu Evaluasi dan Master Plan
Minggu, 21 Desember 2008

Untuk pemindahan pangkalan bus bandara ke tempat yang lebih strategis membutuhkan waktu. Hal itu diungkapkan Kepala Bandara International Hang Nadim Razali Abu Bakar melalui bagian humas bandara, Hendra di pelataran parkir bandara, Selasa lalu.
Hendra mengatakan sebelum terjadi pemindahan pangkalan bus bandara tersebut, sebelumnya pihak Damri harus terlebih dahulu melakukan evaluasi. Misalnya, mengapa penumpangnya sedikit dan lainnya.
Menurut Hendra evaluasi akan berlangsung selama tiga bulan sejak bus itu beroperasi 5 Desember lalu. Hendra juga mengatakan yang melakukan evaluasi itu bukan dari pihaknya. Karna itu bukan bus bandara. Untuk itu yang berhak melakukan adalah Dishub atau Damri. Apapun yang menjadi hasil evaluasi itu, akan dibicarakan kembali oleh Dishub dengan IPTB.
“Apakah bus bandaranya ditinjau ulang atau seperti apa itu urusan mereka. Kita tidak boleh mencampuri terlalu jauh, itu internal mereka. Karena sebelumnya mereka yang membuat kesepakatan,” katanya.
Menurut Hendra, jauhnya pangkalan bus dari pintu kedatangan juga merupakan salah satu kesepakatan Dishub dengan IPTB. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan pihak bandara. Dalam situasi ini menurut Hendra, pihak bandara hanya sebagai penyedia fasilitas atau tempat saja.
Pada intinya pihak bandara membutuhkan angkutan alternatif selain taksi. Agar penumpang yang tidak mampu menggunakan taksi punya pilihan lain. “Bandara sangat terima kasih dengan adanya bus Damri ini. Mekanismenya seperti apa kita serahkan ke masing-masing pengelola angkutan,” katanya.
Hendra mengatakan jika pihak Damri butuh space untuk informasi keberadaan bus bandara akan mereka sediakan. Pada prinsipnya bisa dibicarakan. “Kalau Damri ingin ini diketahui masyarakat kita siapkan space…Kalau ada pengalihan halte selama tidak ada masalah kita akan carikan solusinya,” katanya.
Sementara Mahedi, Kabid Angkutan Darat Dishub Kota Batam mengakui penentuan lokasi pangkalan bus bandara bukan kewenangan Dishub melainkan kepala bandara. “Sepanjang uji coba ini kepala bandara yang menyediakan tempatnya (pangkalan), karena itu memang kewenangan beliau,” ujarnya.
Dalam hal ini pihak Dishub hanya mengarahkan agar bus angkutan menuju bandara ada. Karena itu salah satu persyaratan bandara international. Terkait masih minimnya jumlah penumpang bus pihak Dishub berjanji akan melakukan evaluasi.
Namun dia juga berharap pihak bandara dapat membantu. Tentunya pihak bandara juga tahu bahwa kondisi penumpang bus bandara tidak banyak. Tapi yang jelas menurut Mahedi, pangkalan bus bandara jauh dari pintu kedatangan memang kurang tepat.
Karena bandara dibawah otoritas kepala bandara, seharusnya persoalan pangkalan ini bisa diselesaikan dengan mudah. “Kan tinggal mindahin saja ke tempat yang cocok. Kalau soal persaingan itu masyarakat kan sudah punya pilihan masing-masing,” katanya.
Wakil Wali Kota Batam, Ria Saptarika juga berjanji akan melakukan evaluasi. Apakah dengan evaluasi ini kerjasama yang telah disepakati akan direvisi masing-masing pihak. “Aduan masyarakat mustahil kita diamkan,” katanya.
Tapi yang jelas kehadiran bus bandara menunjukkan Batam sebuah kemajuan. Sesuatu yang baru menurutnya wajar menemui hambatan. “Kita akan perbaiki secara bertahap supaya nanti benar-benar efektif,” ujarnya.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Batam, M Zilzal menyayangkan sikap pemerintah Batam yang menuruti desakan sekelompok orang. Akibatnya penumpang “tersiksa” karena berjalan jauh menuju pangkalan. Ia berharap pemerintah secepatnya bisa mengubah sistem itu.
Zilzal berpendapat bus bandara harus diberikan kesempatan mendapat penumpang sama seperti taksi. Sehingga terjadi persaingan terbuka akan tercipta dan proyek bus bandara juga tidak sia-sia.
Anggota DPRD Kota Batam Irwansyah menambahkan pihak taksi juga tidak perlu merasa tersaingi. Karena semuanya sudah punya segmen masing-masing. Jadi walaupun tarif bus Damri Rp15 ribu belum tentu semua penumpang yang turun dari pesawat menggunakannya.
“Bus bandara kan melayani hanya di jalan protokol, tidak masuk sampai ke perumahan seperti taksi. Jadi setiap angkutan sudah punya segmen tersediri,” katanya.
Irwansyah mengatakan program Damri harus diteruskan karena membantu masyarakat banyak. Hanya untuk mekanismenya pihak Dishub semestinya bisa mengaturnya. Ia mengusulkan bus tidak perlu ngetem di terminal kedatangan, cukup tempatkan satu petugas Damri mengatur di atas.
Begitu penumpang sudah kumpul, bus tinggal diminta naik untuk mengangkut penumpang. “Kalau menaikkan penumpang dibawah ini namanya proyek setengah hati,” sarannya. (ray)

3 thoughts on “Dipindahkan, Tunggu Evaluasi dan Master Plan

  1. Hanya terjadi di Batam, pemkot bisa tunduk dan takut terhadap taxi bandara. Jangan2 ada pejabat pemkot yang jadi becking taxi bandara..
    ——-
    Hi Didi,
    Terimakasih atas penyampaian uneg2 nya.
    Saya kira itu tidak benar, walaupun kami sangat setuju dengan keberadaan Bus Bandara tsb dan kami juga memahami bahwa itu merupakan salah satu persyaratan sebuah keberadaan Airport.

    Tapi bukankan kita harus arif dalam rangka menerapkan sesuatu dengan menganut asas win-win…
    Anda tentu tahu bahwa mereka juga para pengemudi taxi adalah warga masyarat batam yg mencari nafkah disana dan butuh didengar juga.

    Masih mending mereka mau menerima itu dan faham kondisi itu kalau mereka bersi keras dan menolak 100% dan sekali lagi mereka juga Warga Batam.

    Disisi lain kami juga memahami kondisi masyarakat pengguna jasa Bus yg sanagt kesulitan dengan jarak jalan kaki yg cukup jauh itu, makanya jawabnya adalah kita evaluasi secara bertahap.

    Semoga ada solusi terbaik bagi semua setelah adanya evaluasi itu.

    Demikain harap maklum.
    Thanks & Wassalam
    Ria

  2. Memang supir2 taxi itu juga warga batam. Tapi mereka itu hanya segolongan kecil dari warga batam. Tapi jelas sekali dari pernyataan anda di atas “Masih mending mereka mau menerima itu dan faham kondisi itu kalau mereka bersikeras dan menolak 100% dan sekali lagi mereka juga Warga Batam”, menunjukkan bahwa anda takut dan kalah wibawa dengan segolongan kecil dari warga batam. Padahal sudah sangat sering warga batam yang lain (yang notabene jauh lebih banyak daripada semua supir taxi bandara) menerima perlakuan buruk dari para supir bandara. Mengapa anda dan aparat pemkot masih terus membela sekelompok warga batam yang punya nama buruk dan juga memburukkan citra batam sendiri??
    Tapi yah, inilah bedanya, Kalo saya yang pegawai swasta selalu dituntut untuk customer-oriented dan problem-solving-oriented. Kalo pegawai negeri gimana, procedure-oriented atau pemilu-oriented??
    Padahal contoh solusi yang bagus gak kurang, bisa lihat di bandara sukarno hatta.
    ———–
    Hi Mas Didi, Terimakasih atas masukannya
    Saya kira keinginan anda tidak ada salahnya dan yg terjadi saat ini bukanlah karena dasar takut terhadap pengemudi Taxi, lebih kepada ber empati kepada mereka dan berusaha untuk win-win solution, tapi itu mukan final, kami siap mengevaluasinya dari aktu ke waktu, contohnya masukan anda ini juga kadi bahan pertimbangan kami.

    Thanks & Wassalam
    Ria

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s