Dari Mengojek hingga Jual Keripik

Written by anto
Rabu, 24 Desember 2008
Banyak Cara Melawan Krisis

Dari Mengojek hingga Jual KeripikKECEMASAN terhadap krisis ekonomi dunia sudah mulai terasa. Kendati belum ada pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran, tetapi sejumlah pekerja di banyak industri di Batam sudah mulai menjerit.

Over time atau lembur yang selama ini bisa menambah pundi-pundi, kini mulai dihapus karena menyusutnya orderan.

Asal ada kemauan, ternyata masih banyak hal yang bisa dilakukan.

Anto adalah pekerja yang langsung dihantam oleh badai krisis ekonomi dunia. Perusahaan elektronik tempat ia bekerja sudah mulai menghapus lembur akibat turunnya order.

Biasanya, dari overtime ia terima, setidaknya sebulan, di luar gaji, ia masih menerima tambahan sekitar Rp 600 ribu.

Tentu saja Anto akan menghadapi persoalan ini dalam delapan bulan ke depan karena kontraknya habis Agustus 2009. Karena itu, ia pun harus memutar otak agar istri dan anak perempuannya yang masih berusia 4 tahun bisa makan.

Mengirit pengeluaran seketat mungkin sudah ia lakukan. Bahkan, mengojek pun ia lakoni untuk menambah isi saku. Dari mengojek itu, ia bisa mendapatkan Rp 30-40 ribu per bulan. Namun karena hal itu harus dilakukannya malam hari, tenaganya terkuras habis. Padahal, pagi harinya ia masih harus bekerja.

“Tetapi demi anak dan istri, saya tak peduli. Saya harus lebih giat bekerja. Banyak kebutuhan yang harus saya penuhi seperti harus membayar kredit motor, sewa kontrakan dan susu untuk anak saya. Saya enjoy saja menghadapinya,” kata Anto.

Enjoy atau santai memang salah satu hal yang bisa membuat semuanya bisa terlewati. Apalagi Anto mengaku lelahnya hilang begitu melihat anak dan istrinya sepulang kerja. “Mereka adalah motivasi buat saya. Saya akan melakukan yang terbaik untuk mereka,” kata Anto.

Bila Anto mencari sampingan dengan motornya, Nanik istrinya juga tidak tinggal diam. Ia rela menjadi tukang cuci dan setrika di rumah tetangga setiap hari. Sehari, ia bisa melakukan itu di dua rumah dari pagi ihingga sore. Untungnya, anaknya juga tidak rewel dan bisa bergaul di rumah majikan tempat ia bekerja. Dari hasil itu, sebulannya Nanik bisa memperoleh Rp 600 ribu.

Bagi sepasang suami istri ini, lagu “Badai Pasti Berlalu” adalah keyakinan yang terus mereka pelihara. Mereka yakin, rezeki selalu datang tanpa diduga asal mau bekerja keras. Buktinya, Nanik kini juga mendapat order membuat kue-kue Natal, kemampuan yang selama ini jarang muncul.

Lain lagi yang dilakukan Andi, seorang pekerja shipyard di Tanjunguncang. Saat ini ia hanya bekerja empat hari seminggu karena tidak ada lagi over time. Selain biaya hidup sehari-hari, ayah satu anak yang tinggal di Batam Centre ini juga harus memikirkan cicilan motor dan rumahnya.

Usaha sampingan yang dilakukannya saat ini adalah dengan membantu membayarkan listrik, air hingga cicilan kredit motor dan elektronik tetangganya ke bank atau ke perusahaan leasing.

“Saya terus terang saja kepada tetangga bahwa saya saat ini butuh uang. Mereka mengerti dan mau membantu. Kini, ada sekitar 50 rumah yang saya bantu urusan pembayarannya. Saya mendapat Rp 1.000 untuk setiap kuitansi,” katanya. Dari sini, Andri mendapat tambahan penghasilan sekitar Rp 300 ribu per bulan.

Tidak hanya itu, Andri bahkan menyediakan diri untuk menjadi jasa berbelanja kebutuhan sembako tetangganya ke Pasar Jodoh pada tiga hari libur, Jumat sampai Minggu. Ia tidak mengambil untung sepeser pun, tetapi mendapat uang jasa dari tetangganya.

“Mereka percaya pada saya dan saya juga tidak mau main-main dengan uang orang. Mereka beri saya seikhlasnya. Bahkan, kadang mereka juga memberi lauk untuk keluarga saya,” kata Andri.

Cerita Ina atau Marina lain lagi. Bersama empat temannya di Batuaji, ia membuka usaha keripik ubi dan gorengan untuk dimasukkan ke warung-warung. Karena mereka bekerja beda shift, bisa gantian. “Keripik mentahnya kami pesan dari Bukittinggi, pada saudara saya. Kami juga bikin bakwan risoles atau makanan lain.

Hasilnya, lumayan lah untuk tambahan beli lipstik,” katanya sambil tertawa.

Motivasi memang menjadi hal yang penting untuk pekerja menghadapi beban hidup mereka saat ini. Apalagi bila motivasi itu datangnya dari perusahaan. Seperti PT AIT di Mukakuning, misalnya, yang mendorong koperasi karyawan yang membuka kantin di perusahaan itu. Sejumlah perusahaan lain juga melakukan yang sama dan koperasi ini merupakan alternatif yang paling menarik.

Menurut sebuah perusahaan distributor barang harian, saat ini koperasi menjadi trend karena banyak koperasi karyawan yang datang membeli langsung ke distributor.

Dan ternyata, harganya jauh lebih murah dibanding karyawan belanja di toko atau supwer market.

“Kami memang memberi harga khusus karena biasanya koperasi itu membeli dengan cash. Apalagi kalau ada merek yang sedang promosi, mereka bisa dapat bonus-bonus produk dari perusahaan,” katanya.

Siapkan kredit
Antisipasi PHK juga sudah dipikirkan oleh Pemko Batam. Untuk tahun 2009, Pemko telah menganggarkan Rp 2 miliar untuk masyarakat, terutama para pekerja korban PHK yang ingin membuka usaha mikro dan kecil.

Pinjaman bisa diajukan melalui Dinas UKM dan Koperasi Kota Batam.

Menurut Kepala Dinas UKM dan Koperasi Kota Batam Febrialin, Pemko telah menggandeng Bank Riau untuk penyaluran maupun pembayaran cicilannya. Bunganya sangat rendah, 6 persen per tahun.

“Untuk bisa mendapatkan pinjaman itu, kami tetap memerlukan jaminan dari calon debitur. Tetapi bentuknya bisa surat-surat berharga atau gerobak jualan mereka sendiri,” kata Febrialin pada Tribun, Selasa (23/12).

Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika mengungkapkan, tidak hanya para korban PHK yang perlu mendapatkan solusi, tetapi Pemko Batam juga telah mengantisipasi ledakan pendatang. Karena lapangan pekerjaan yang semakin sempit, diupayakan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang kependudukan segera disahkan paling lambat awal tahun depan.

Di tengah kondisi yang carut-marut seperti ini, banyak alternatif yang bisa dilakukan. Perusahaan yang selama ini menjadi gantungan hidup, harus bisa mendorong pekerjanya untuk kreatif dan inovatif.

Anggota DPRD Fisman Gea mengatakan, Pemko harus bisa menyikapi ancaman PHK dari perusahaan karena dampaknya akan sangat luas.
“Pengusaha juga jangan asal main PHK saja. Jangan hanya bisa mengorbankan pekerja. Pengusaha seharusnya sadar bahwa tanpa pekerja suatu perusahaan tak akan mampu melakukan apa-apa,” kata Firman.(yan/dri/elc/nix/man)

Advertisements

One thought on “Dari Mengojek hingga Jual Keripik

  1. hal ini bisa tidak terjadi bila UMK batam tidak MURAH spt skg ini, buruh hanya bergantung dg lembur, no lembur no uang mungkin yg pas bagi buruh batam saat ini.

    untung ada monetizing blog 🙂 halah
    ———–
    Itu cuma berlaku bagi Bloger atau BBC member!
    hallah! 🙂

    Wassalam
    Ria

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s