Jalan untuk Kepentingan Bersama

Selasa, 03 Pebruari 2009

PERTEMUAN warga Basecamp row Jalan Brigjen Katamso, dengan pihak kecamatan dan Lurah Tanjunguncang, Rosmanela, kemarin. BATAM (BP) – Pembangunan dan pelebaran Jalan Brigjen Katamso di depan Balai Latihan Kerja (BLK) atau Rumah Sakit umum Daerah (RSUD) di Batuaji terhambat. Pasalnya puluhan kepala keluarga (KK) yang mendiami lahan yang akan dibangun row jalan enggan pindah ke lokasi lain, karena bersikeras meminta ganti rugi.
Wakil Wali Kota Batam, Ria Saptarika, Senin (2/2), menyayangkan sikap masyarakat RT.03/RW.IV Kelurahan Tanjunguncang tersebut.
“Kan (lahan) itu akan dibuat fasilitas umum. Kita sangat berharap masyarakat punya kesadaran. Sebab, akan dipergunakan buat kepentingan yang lebih luas,” kata Ria. Dijelaskan Ria, pembanguan dan pelebaran Jalan Brigjen Katamso itu sangat bermanfaat luas bagi masyarakat umum. “Tidak saja buat kelancaran industri dan ekonomi masyarakat disekitar. Pembangunan dan pelebaran jalan itu juga untuk mereka,” jelasnya
Mengenai rencana dilakukan penggusuran terhadap penghuni row jalan itu, Ria enggan berkomentar. Terlepas dari gusur mengusur, kata Ria, masyarakat harus sadar lahan yang mereka huni untuk kepentingan pembangunan. “Soal gusur mengusur tentu ada tim yang membahas. Yang jelas masyarakat harus memahami,” tegasnya.
Mengenai tuntutan ganti rugi terhadap tempat hunian liar mereka, kata Ria, Pemko tidak akan memberikan ganti rugi.
Kemarin, warga yang akan digusur menggelar pertemuan. Mereka mengundang Wali Kota dan Ketua DPRD Kota Batam untuk mencari solusi terkait rencana penggusuran mereka, Rabu (4/2). Namun kedua pejabat itu tidak datang. Hanya staf dari kecamatan Batuaji dan Lurah Tanjunguncang yang hadir. Akhirnya tidak ada solusi apa pun yang mereka peroleh dalam pertemuan yang didominasi anak-anak dan ibu-ibu itu. Baik pihak kecamatan maupun kelurahan tidak bisa mengambil keputusan atau pun menjanjikan solusi.
Lurah Tanjunguncang, Rosmanela, pada pertemuan di lahan kosong dan bertenda itu hanya bisa menyampaikan keprihatinannya. Ia mengaku tidak bisa berbuat banyak terhadap ratusan warganya itu. “Saya turut prihatin. Sedih. Ke mana harus pindah. Saya tidak bisa berikan janji-janji. Keputusan bukan pada lurah, tapi pada pemerintahan yang lebih tinggi,” kata Rosmanela dihadapan ratusan warga, kemarin.
Karena sama sekali tida ada solusi dan keputusan, warga yang hadir kian gusar. Mereka bingung dan tak tahu lagi harus bagaimana. Sementara penggusuran sudah di depan mata. Tinggal dua hari lagi mereka punya kesempatan. Sementara itu, koordinator warga yang sekaligus pimpinan pertemuan antar warga B Siagian menyampaikan pernyataan sikap warga yang dihasilkan pada pertemuan, Jumat (30/1) lalu. “Kami bersedia digusur, tapi ada solusi,” katanya. (amr/uma)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s