Jangan Meniru Kejadian di Medan

Minggu, 08 Pebruari 2009

Masyarakat Madani Anti-Kekerasan

BATAM (BP) – Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tiffatul Sembiring mengatakan, aksi demonstrasi yang disertai kekerasan, seperti yang terjadi di kantor DPRD Sumatera Utara, telah menciderai demokrasi. Untuk itu, masyarakat diminta jangan mudah terprovokasi melakukan kekerasan yang bertentangan dengan makna madani.
“Boleh saja menyuarakan aspirasi, tapi harus santun. Demokrasi berarti harus menghargai orang lain. Aksi kekerasan bertentangan dengan makna madani,” kata Tiffatul dalam diskusi Silaturrahim dan Temu Tokoh se-Kota Batam, Menuju Batam Bandar Dunia Madani di Hotel Pusat Informasi Haji (PIH), Sabtu (7/2) malam.
Dalam acara ini, Tiffatul juga menampilkan kebolehannya berpantun. Ia mengklaim dirinyalah yang membawa pantun ke tingkat nasional. Tokoh-tokoh nasional saat ini mulai terbiasa membaca pantun. “Lama tak bertemu SBY, saya beri dia pantun. Ditegur Bawaslu, saya juga balas dengan pantun. Mbak Mega pernah saya kirim pantun, tapi tak dibalas,” ujarnya.
Mantan Wali Kota Batam Nyat Kadir yang juga jadi pembicara dalam diskusi ini sependapat dengan Tiffatul, bahwa kekerasan berlawanan dengan prinsip madani. Pemko Batam dan DPRD Batam, katanya mencetuskan ide visi Kota Batam, Mewujudkan Batam Menuju Bandar Dunia Madani juga berdasarkan kondisi masyarakat Batam saat itu. Tahun 1999 dan 2000, katanya di Batam sering terjadi aksi kekerasan yang dilatarbelakangi masalah suku agama dan ras (Sara).
“Batam madani bukan mimpi. Saya senang walikota setelah saya mempertahankan visi Kota Batam ini. Meski ditambah lokomotif ekonomi nasional,” ujar Nyat.
Ia berharap agar walikota selanjutnya terus mempertahankan visi Kota Batam ini. Soal sampai kapan Batam madani terwujud, kata Nyat, tak bisa dicapai dalam waktu singkat. “Jangan bandingkan dengan Madinah di zaman nabi. Kalau di Batam mungkin terwujud 20 tahun atau bahkan mungkin lebih. Tak ada yang tak mungkin,” katanya.
Pembicara lain, Pemimpin Redaksi Batam Pos Hasan Aspahani menguraikan pers juga berperan dalam mendorong terwujudnya masyarakat yang madani, melalui pemberitaan yang kritis, berimbang dan sesuai fakta. Ia mencontohkan dua liputan yang ditulis Batam Pos yang bisa jadi bahan pelajaran. Ia pernah menulis apa yang dilakukan sebuah partai politik di Singapura yang sangat memperhatikan kondisi konstituennya. Kondisi ini perlu ditiru parpol yang ada di Indonesia, khususnya Batam.
Selain kiprah parpol di Singapura, ia juga memaparkan liputan proyek transmigrasi yang gagal di Pulau Air Raja, Batam.

Transmigran dikirim ke sana, tapi kehidupannya semakin sulit. Pertanian tak berkembang karena berbagai kondisi.
Liputan yang ditulis Muhammad Nur menyabet penghargaan jurnalistik Adinegoro 2008 untuk kategori pembangunan kemanusiaan. “Kita tak menyalahkan siapa-siapa. Kita harus belajar dari kasus Air Raja,” ujarnya.
Acara silaturrahim dan temu tokoh se-Kota Batam juga dihadiri Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan, Wawako Ria Saptarika, Ketua DPW PKS Kepri, Wildan Hadi Purnama, Ketua DPD PKS Batam, Riky Indrakari, dan sejumlah anggota DPRD Kepri dan DPRD Batam dari PKS. (dea)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s