Belum Direspon Gubernur

Sabtu, 21 Pebruari 2009

Permohonan Peninjauan Pelni di Pelabuhan Beton

Pemerintah Kota (Pemko) Batam mengaku belum mendapat respon dari Gubernur perihal surat permohonan peninjauan keberadaan Pelni di Pelabuhan Beton Sekupang. Padahal, surat itu sudah dilayangkan saat terjadi kerusuhan akhir tahun lalu.
Selama ini, Pemko masih menunggu dan masih tidak dapat berbuat banyak. Pasalnya, pemindahan lintas daerah bukan lagi kewenangan pemko, melainkan pemerintah pusat melalui permohonan yang diajukan gubernur. Pemko, kata Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika juga tidak mungkin menyurati Dirjen langsung.
“Memang tidak menyalahi aturan, cuma tidak sopan saja,” kata Ria kepada wartawan usai penandatanganan MoU SMS online pengecekan status KTP dan KK di lantai V Kantor Wali Kota Batam, kemarin.
Terkait aksi premanisme yang kerap terjadi di Pelabuhan Beton Sekupang, Ria berjanji akan menjadikan ini sebagai perhatian. Dulu, katanya, sempat dilakukan penertiban di pelabuhan ini, namun tidak berjalan efektif. Untuk menghindari aksi negatif di pelabuhan, disiapkan pula tim terpadu. “Kalau sudah gitu, tidak ada lagi backing siapa pun,” katanya.
Ria yang juga ketua Komunitas Intelijen Daerah (Kominda) Batam ini, berjanji akan memperhatikan razia yang akan digelar. Yakni, tidak di hari sepi saat kapal meninggalkan pelabuhan, melainkan saat kapal masuk seperti Hari Rabu. “Kita akan jadikan ini (hari masuknya kapal) sebagai masukan dan tidak di hari sepi,” kata Ria.

Aktivitas di Pelabuhan Sepi
Kemarin (20/2), suasana di Pelabuhan Beton Sekupang terlihat sepi. Padahal, biasanya sehari sebelum kapal Pelni bersandar mulai sibuk dengan aktivitas bongkar. Hanya tiga kapal kayu yang bersandar di pelabuhan tersebut. “Biasanya sudah ada kesibukan ringan di sini seperti bongkar muat dari kapal kayu untuk diangkut keesokan harinya. Tapi mungkin besok pagi kali baru mulai ramai,” ujar Samsudin Lubis (48), warga yang tinggal di kawasan tersebut ketika ditanya Batam Pos, kemarin.
Ketika disinggung soal aksi premanisme yang kerap terjadi di pelabuhan itu setiap kali kapal tiba, dia hanya menjawab itu sudah sering terjadi. “Namanya juga aktivitas di pelabuhan dan ramai. Porter sering berebut barang, ya pasti sering terjadi keributanlah,” ujarnya.
Sementara itu, Kapolsek Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KPPP) Poltabes Barelang, AKP Furqon Budiman mengatakan, tidak ada penambahan personel di pelabuhan pasca kejadian tindakan premanisme, berupa pemukulan terhadap dua wartawan oleh porter, beberapa waktu lalu.
“Seperti biasa saja, kita hanya menurunkan 22 personel setiap kapal turun. Itu pun 2/3 penggunaan dari jumlah kekuatan kita yang ada sekarang,” ujarnya. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s