Apa sih Whizer ? atau Whizzer ?

Apa sih Whizer ? atau Whizzer kali?

Katanya sih pekerjaan ini lagi ngetrend bagi para Blogger (Narablog).

Masih sulit dicari deskripsi detilnya nya, baik di internet maupun dimedia cetak, bahkan saya sudah cari di wikipedia, dictionary, google, yahoo dan google translate pun ngak ketemu (setidaknya pada saat tulisan ini di posting)… Yang muncul justru komunitas sepeda motor!

Bermula pada saat membaca Koran Tempo, minggu 10/01/2010, silahkan juga dapat dilihat di versi on the web nya: http://www.korantempo.com

Sangat menarik! saya mencoba memaparkannya menurut pemahaman saya, setelah membaca di Koran Tempo dan mencari penegtian kamus nya http://dictionary.reference.com

Whiz menurut arti kamusnya adalah membuat suara bising atau menderu, seperti sebuah sepeda motor yg melintasi kita dalam kecepatan tinggi.

Whiz dari yg saya baca di Koran tempo tadi adalah pelaku atau pegiat media sosial didunia maya, terutama di weblog, facebook dan twitter.

Singkatnya Whiz atau profesinya disebut Whizer/Whizzer adalah seseorang yg berperan mengangkat (memberitakan) hal-hal positive tentang suatu produk baik hardware, software bahkan apa saja, yang dituliskannya di Weblog (Blog), Facebook, twitter, forum, millist dll…  Dalam bahasa lain ini juga di sebut dengan membuat review suatu product.

Nah menariknya ternyata product dari perusahan ternama seperti BlackBerry, Coca-Cola, Microsoft, Nokia, dan Toyota ternyata sudah menggunakan Whizer ini dalam strategi marketingnya… inilah yang ternyata menjadi peluang pekejaan sambilan (part time) bahkan full time yang lagi ngetrend saat ini…

hayooo!!! blogger, fizbukiyah & twikker… mari raih peluang ini….  silahkan lihat disini.

Kalau saya boleh menyimpulkan sebagaimana pernah saya baca dalam sebuah buku….  gaya marketing ini disebut  “Marketing Dari Mulut Ke Mulut”

Katanya cara ini jauh lebih effektif dari pada marketing satu arah sebagaimana yang biasa dilakukan oleh iklan-iklan konvensional baik di media elektronik maupun cetak saat ini.

Wallahu a’lam.

Berikut adalah kliping Koran Tempo tsb:

(1) Menjadi Whizer Anda

Pitra Satvika tak menyangka, hobinya berselancar di dunia maya dan membuat blog sejak lima tahun lalu kini menuai berkah. Brand atawa merek terkenal menggandengnya, memberi tambahan pekerjaan. Tentu saja dengan imbalan yang menggiurkan.

Sejak pertengahan 2009, beberapa merek terkenal meminta Pitra me-review produk mereka untuk ditulis di blog pribadinya. Dalam kurun enam bulan, sekitar 15 merek terkenal meminta produknya diulas. Namun tak semua ia terima. “Hanya beberapa,” kata Pitra kepada Tempo di Menara BNI, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, pada Rabu lalu.

Berkah jagat maya tak hanya dinikmati Pitra. Sejumlah blogger (narablog) lainnya juga menikmatinya, seiring dengan mulai getolnya brand terkenal menggandeng mereka. Fenomena ini dikenal dengan social media whiz. Di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, gejala ini sudah merebak sejak sekitar tiga tahun lalu dan, belakangan, mulai menular ke Indonesia, yang pertumbuhan jumlah pengguna Internetnya cukup fantastis.

Whizer, sebutan untuk pegiat social media whiz, telah menjadi profesi di Negeri Abang Sam. Sebuah perusahaan merekrut secara khusus seorang whizer, biasanya dia seorang narablog, untuk menghidupkan brand account mereka. Tugasnya saban hari membuka situs jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter, menjawab komentar, melempar topik, dan memonitor sejumlah masukan.

Lalu, setiap pekan mendiskusikannya dengan pemilik brand. Pemilik brand ingin tahu apa saja yang dibicarakan orang tentang produk mereka dan bagaimana kemudian menjawabnya, sehingga menciptakan citra positif terhadap produk tersebut. Seorang whizer bisa menerima imbalan puluhan hingga ratusan juta rupiah per bulannya.

Hanya, di Indonesia, profesi ini masih menjadi pekerjaan sampingan. Pitra dan para narablog lainnya memiliki pekerjaan utama masing-masing. Pitra, misalnya, mendirikan sebuah konsultan media online.

Namun, ke depan, menurut seorang konsultan kehumasan Radityo Djajuri, prospek profesi ini akan semakin bagus. Ini didukung jumlah pengguna Internet di Indonesia yang terus meningkat, kemudahan akses Internet melalui ponsel, dan tarif yang kian murah. “Bahkan akses gratis melalui hotspot dan Wi-Fi,” kata Radityo pada Kamis lalu.

Merebaknya pengguna Internet di Indonesia mau tak mau mendorong dunia kehumasan ikut berkembang. Kini dunia kehumasan memasuki era Public Relations 2.0. Aktivitas media relations-nya tak lagi sebatas di ranah media tradisional, tapi kini memasuki media baru. Masuk ke berbagai situs jejaring sosial.

Social media whiz menjadi salah satu bagian kegiatan Radityo sebagai konsultan humas. Sebelum ramai jejaring sosial di Internet, sejak awal 2001 Radit dan tim memoderasi lebih dari 40 mailing list di Internet. Dengan maraknya weblog, Radit mengelola setidaknya 20 weblog. Dengan pekerjaan ini, ia memperoleh pendapatan kotor Rp 50-70 juta per bulan. ERWIN DARIYANTO

Agar Dilirik Brand

Menjadi blogger atawa narablog yang dilirik brand terkenal boleh dibilang bukan perkara gampang. Umumnya, sejumlah brand akan menggandeng narablog yang sudah terkenal dan punya kemampuan mempengaruhi pembacanya.

Berikut ini beberapa kiat agar bisa menjadi incaran brand terkenal.

1. Mampu berinteraksi secara aktif di dalam social media. Melempar topik dan memberikan komentar atas topik yang dilempar narablog lain.

2. Hidup di dunia narablog, sehingga terbiasa melakukan apa yang menjadi budaya di lingkungan tersebut.

3. Menguasai bidang yang sedang dibicarakan dan memahami karakter calon audiens yang menjadi sasarannya. Misalnya, brand Acer atau Microsoft akan memilih narablog yang mengerti tentang teknologi.

4. Mempunyai kemampuan menulis yang baik dan menjawab komentar dengan menarik sehingga pembaca terus mengikuti kelanjutannya.

5. Memiliki kredibilitas di mata target brand/.

6. Selain aktif di dunia maya, narablog harus sering ikut acara “kopi darat” alias tatap muka. Biasanya job diberikan atas saran dari narablog senior. ERWIN | Pelbagai sumber

Seiring dengan pertumbuhan jumlah penggila Internet, profesi social media whiz atawa whizer mulai banyak dilirik.

(2) Ramai-ramai Menggandeng Whizer

Pesatnya perkembangan Internet telah melahirkan perubahan cukup dahsyat di jagat maya. Situs jejaring sosial–seperti Facebook dan Twitter–yang penggilanya dari hari ke hari terus menggunung, belakangan memunculkan sebuah fenomena yang sungguh menarik: social media whiz, pegiat aktif media sosial dunia maya.

Fenomena itu lantas memacu perusahaan-perusahaan di sejumlah negara, termasuk Indonesia, ramai-ramai menggandeng whizer, demikian sebutan social media whiz, untuk mengelola dan menghidupkan account brand mereka. Sejumlah perusahaan di negara maju bahkan rela merogoh koceknya hingga ratusan juta rupiah untuk membayar seorang whizer-nya.

Ya, sejak maraknya situs jejaring sosial, berbagai brand terkenal merasa perlu menggandeng whizer untuk menyapa konsumennya di jagat maya. Boleh dibilang, langkah itu ditempuh demi sejumlah tujuan: pangsa pasarnya bertambah luas, citra brand kian kinclong, dan laba perusahaan makin berlipat.

Suatu hari di ambang Desember 2009. Sebuah pesan mampir di blog pribadi Fany Ariasari, http://blog.faniez.net/. Pesan itu datang dari http://twitter.com/anakcerdas, milik Pitra Satvika–rekan Fany, 26 tahun, yang juga seorang narablog (blogger).

Isi pesan itu, Pitra menawarkan kepada Fany untuk ikut jalan-jalan dan mengikuti workshop ke Gili Trawangan, Lombok, Nusa Tenggara Barat, bersama sebuah perusahaan vendor PT Acer Indonesia. Selain Fany, Pitra mengajak dua narablog lainnya, Aulia Halimatussadiah (http://www.Ollie’s blog.com) dan Wicaksono (http://www.ndorokakung.com).

Pitra adalah narablog pertama yang dihubungi PT Acer untuk terlibat dalam kegiatan perusahaan komputer tersebut. Atas permintaan Acer, Prita–lajang lulusan Institut Teknologi Bandung–lantas mengajak tiga rekan blogger lainnya. Keempat narablog itu dilibatkan dalam kegiatan workshop Acer bersama beberapa jurnalis media cetak dan elektronik.

Pelibatan narablog seperti Pitra dan rekan-rekannya dalam aktivitas sebuah perusahaan dalam mengelola brand-nya bukan yang pertama terjadi sepanjang 2009. Sebelumnya, sejumlah perusahaan besar–seperti, AXE, Bask, BlackBerry, Centro, Coca-Cola, Microsoft, Nokia, dan Toyota–juga melakukan langkah serupa: melibatkan narablog dalam kegiatan bisnisnya.

Sejak maraknya situs jejaring sosial di jagat maya–seperti Facebook dan Twitter–belakangan mulai muncul fenomena social media whiz. Sejumlah perusahaan membutuhkan profesi baru yang disebut social media whiz atawa biasa dikenal sebagai whizer–pelaku atau pegiat media sosial untuk mengelola account brand mereka. Whizer biasanya seorang narablog. Bisa blogger, pengguna Facebook, atau pegiat situs jejaring sosial lainnya. Intinya, seseorang yang secara aktif berinteraksi di social media.

Tugas seorang whizer kira-kira begini. Saban hari dia membuka situs jejaring sosial (seperti Facebook dan Twitter), menjawab komentar, melempar topik, serta memonitor masukan-masukan yang masuk. Lalu, setiap pekan mendiskusikannya dengan pemilik brand. Pemilik brand ingin tahu apa saja yang dibicarakan orang tentang produk mereka dan bagaimana kemudian menjawabnya, sehingga menciptakan citra positif terhadap produk tersebut.

Menurut Pitra, fenomena whizer tersebut salah satunya didorong oleh kian pesatnya pertumbuhan pengguna Internet. Data terakhir hingga Desember 2009, di Indonesia pengguna Internet telah mencapai sekitar 25 juta orang. Hampir separuhnya adalah pengguna aktif di situs jejaring sosial, seperti Facebook, Kaskus, dan Twitter. Sebuah survei menyebutkan, jumlah pengguna Facebook di Indonesia menduduki peringkat ketujuh terbesar di dunia. Sebagian besar dari pengguna jejaring sosial tersebut, termasuk Facebook, berstatus karyawan dengan rentang usia 18-40 tahun.

Jumlah itu diperkirakan akan terus naik seiring dengan semakin banyaknya telepon seluler murah dengan promosi Facebook sebagai andalannya. “Jejaring sosial pasti akan jadi semakin popular,” ujar Pitra, yang juga menjadi interactive communications manager sebuah perusahaan konsultan media online PT Strategi Optima, Jakarta,

Pitra menyatakan, sekitar dua-tiga tahun yang lalu brand-brand selalu membuat microsite untuk kampanye aktivitas bisnis mereka di jagat maya, memusatkan promosi melalui situs yang dikembangkan sendiri. Promosi dilakukan seluruhnya dalam microsite. Kondisi itu sekarang berbalik, bukan masyarakat yang mengunjungi microsite sebuah brand, “Tapi brand-brand membuat aplikasi di Facebook.”

Setiap brand, tutur Pitra, akan semakin berkreasi memanfaatkan Facebook dan situs jejaring sosial lainnya untuk membangun brand dan komunitasnya. Percakapan horizontal terus dilakukan dengan memposisikan brand sebagai teman.

Brand semakin butuh influencer (pemberi pengaruh) di ranah bisnisnya di dunia maya. Brand yakin ia tak bisa hidup sendirian di ranah tersebut. Ia butuh teman dan komunitas untuk ikut membuat produknya hidup dan dibicarakan di jagat maya. “Brand butuh blogger, pengguna Facebook, Twitter, atau Kaskus,” Pitra menjelaskan.

Lebih jauh, menurut Prita, peran narablog ikut mempromosikan sebuah produk lewat blognya cukup berpengaruh. Review seorang narablog di blognya bisa mempengaruhi orang lain. Khususnya seorang blogger yang sudah masuk kategori influencer, memiliki banyak pengikut, dan bisa mempengaruhi kawan atau pembaca blognya.

Ketika seorang influencer mengkritik sebuah produk, pembaca akan setuju untuk membenci produk tersebut. “Sebaliknya, jika seorang influencer menyenangi sebuah produk, dia akan dengan senang hati meracuni pembaca blognya untuk ikut menggunakannya,” ujar Pitra.

Lontaran Prita boleh jadi ada benarnya. Setidaknya, ulasan para narablog di blognya bisa menjadi pertimbangan brand dalam melakukan strategi promosinya. Itu pula yang mendorong langkah Microsoft ketika peluncuran produk Windows 7 pada Oktober tahun lalu.

Menurut Business Marketing Organizations PT Microsoft Indonesia Lukman Susetio, beberapa hari sebelum launching, pihaknya telah meminta beberapa blogger mengulas Windows 7 di blognya masing-masing. Dalam penulisan, Microsoft tak melakukan intervensi. Narablog dipersilakan menulis sesuai dengan kenyataan, apa adanya. “Ini akan menjadi masukan buat kami,” kata Lukman kepada Tempo di Jakarta, Selasa lalu.

Strategi itu terbilang efektif untuk memasarkan produk ketimbang beriklan dengan menggunakan media lain. Umumnya narablog menulis dengan jujur, sesuai dengan yang mereka alami. Keuntungan lainnya, akan terjadi dialog dua arah, antara yang mengulas dan pembaca. Sehingga perusahaan tahu apa keinginan masyarakat saat itu. “Ini berbeda dengan ketika beriklan di media cetak, komunikasinya hanya satu arah,” Lukman menerangkan.

Perilaku konsumen belakangan juga mulai berubah. Marketing communication department sebuah perusahaan online, Astrid Irawati Warsito, menyatakan para konsumen sekarang umumnya lebih berpengetahuan, memiliki narasumber dan akses ke informasi, vokal, serta memiliki kultur untuk berbagi informasi. “Banyak potential buyer kami mencari referensi secara online, melalui milis, Facebook, atau Twitter,” kata Astrid.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, Astrid menambahkan, berbagai brand terkenal, seperti Acer dan Microsoft, mau tak mau harus membangun kredibilitas dan membuka dialog dua arah dengan konsumen lewat situs jejaring sosial di dunia maya.

Dari sisi anggaran, baik Lukman maupun Astrid belum bisa memastikan besarnya biaya yang bisa dipangkas dengan berpromosi lewat jejaring sosial. “Namun, itu membantu kami mendapatkan reach atau jangkauan dengan biaya rendah,” ujar Astrid.

Begitulah. Dalam perkembangannya, tak hanya brand yang gencar menggunakan situs jejaring sosial sebagai media promosinya. Belakangan ini sejumlah konsultan media online yang menjadi partner instansi pemerintah juga menggunakan situs jejaring sosial untuk membangun citra dan mempromosikan kegiatan mereka.

Konsultan kehumasan Radityo Djajuri mengatakan, saat ini dunia kehumasan sudah memasuki era Public Relations 2.0, di mana aktivitas media relations-nya tak lagi melulu di ranah media tradisional, tapi kini memasuki new media: merambah ke berbagai situs jejaring sosial. “Kami langsung menyapa masyarakat luas, baik konsumen brand tersebut maupun bukan,” kata Radityo.

Yang pasti, ke depan, social media whiz akan semakin marak. Itu seiring dengan kian meningkatnya pengguna Internet di Indonesia, kemudahan akses Internet melalui handphone, dan tarif yang kian murah. “Bahkan akses gratis melalui hot spot dan wi-fi,” Radityo menjelaskan.

Kondisi itu juga akan memacu kian maraknya profesi whizer di sini. Memang, saat ini di Indonesia whizer belum menjadi profesi utama. Pitra dan rekan blogger lainnya masih menjadikan profesi ini sebagai sampingan.

Meski sampingan, profesi itu cukup menambah tebal kantong para narablog tersebut. Khususnya ketika mereka mendapat tawaran untuk mengulas sebuah produk merek terkenal. Seorang narablog menyatakan, untuk satu kali ulasan, mereka mendapat upah sekitar Rp 1-1,5 juta.

Sebagai perbandingan, di Amerika dan di negara-negara maju lainnya seorang whizer yang direkrut khusus oleh sebuah perusahaan mendapat gaji puluhan hingga ratusan juta rupiah per bulan. Baru-baru ini sebuah perusahaan wine di Amerika membuka lowongan whizer dengan tawaran gaji US$ 10.000 atau sekitar Rp 100 juta per bulan. Sungguh menggiurkan.ERWIN DARIYANTO

Membangun Komunitas Brand

Membangun komunitas penggemar di Facebook Fan Page tak bisa dibilang mudah. Memang belum ada aturan bakunya. Namun, menurut Pitra, setidaknya ada tiga pola yang bisa dilakukan untuk membangun komunitas sebuah brand.

1. Conversation

Brand memancing penggemar memberikan komentar atas suatu topik atau menyampaikan pendapat mereka tentang brand itu sendiri. Dari sini bisa diketahui siapa saja penggemar yang loyal atau yang mempunyai keluhan terhadap brand.

Beberapa masalah dalam pola ini adalah ketika harus menanggapi kritik, yang harus sesegera mungkin direspons sebelum isu melebar lebih jauh. Masalah lainnya, masuknya kompetitor yang ikut bergabung sebagai penggemar dan menjelekkan nama brand. Brand perlu pintar memilah mana kritik yang membangun dan mana yang murni celaan tanpa argumentasi penunjang.

2. Creation

Melalui Facebook Fan Page, brand mengundang penggemar berkreasi dan mengirim hasilnya ke Facebook. Biasanya kegiatan ini diikuti dengan iming-iming hadiah bagi pengirim terbaik. Hal ini sempat dilakukan oleh PT Acer Indonesia, yang mengundang penggemarnya untuk mengirim foto mereka beraksi di depan layar webcam sambil memegang lembaran augmented reality. Lalu, Gery Chocolatos juga melakukan kegiatan serupa, mengajak penggemarnya berfoto dengan pose selucu mungkin dengan produk Chocolatos.

3. Collaboration

Belum banyak yang melakukan pola ini. Melalui pola ini, para penggemar brand saling berbagi cerita atau manfaat. Info dari satu orang bisa jadi bermanfaat bagi orang lain. Atau bahkan para penggemar brand bisa saling bekerja sama dan menciptakan nilai baru melalui Facebook Fan Page-nya. Brand membuat infrastruktur dan membiarkan penggemar memberikan kontribusi di dalamnya. Brand bisa pula membuat kegiatan sosial di mana setiap penggemar baru yang melakukan kontribusi tertentu memicu brand untuk ikut pula menyumbang donasi.

Ambil contoh Coca-Cola. Lewat program “Buka Semangat Baru”, brand ini memberi donasi melalui Facebook Fan Page-nya. Para penggemarnya diminta men-tweet (di Twitter) ucapan semangat bernada positif. Setiap tweet yang memenuhi syarat akan dikonversi menjadi sejumlah rupiah oleh Coca-Cola untuk didonasikan.

ERWIN/Sumber: Pitra Satvika dan Media-ide.com

9 thoughts on “Apa sih Whizer ? atau Whizzer ?

  1. *gatel ada yg nyebut2 nama saya*

    Ada yg nyebutnya whizzer, ada yg bilang rainmaker, ada yg bilang influencer, atau catalyst. Macam2, tapi prinsipnya sama, sbg pemengaruh. Kasus terakhir yg menarik: film Rumah Dara yg membangun buzz di kalangan anak muda pengguna social media Kaskus, FB, Twitter, Koprol, dan berhasil. Efek positifnya film itu terus menjadi bahan omongan, sehingga orang lain terekomendasikan scr otomatis utk ikut menontonnya. Tulisan terakhir di blog saya sedikit membahas ttg hal itu.
    .-= Pitra´s last blog ..Kontes Rumah Dara di Social Media =-.

  2. lapor pak,ada pt sunrise yang berlokasi di komp eksekutive industrial park batam centre ,yang memberlakukan jak kerja tidak sesuai dengan aturan disnaker.contohnya: masuk jam 07.00 yang seharusnya pulang jam 15.00 .kok jasi pulang jam 16.00 danitu tidak dihitung lembur pak.dengan alasan operatornya tidk dapet target,oya pak..di PT teraebut telah terindikasi ada nepotisme pak soalnya orang officernya semua sanak saudara pak…..tolong diperiksa menegementnya…..trims pak sumber nya jelas…..istri saya bekerja disitu sebagai operator..trims

  3. Bapak.. salam hangat.. Ulasan tentang whizer sangat bagus pak.. Saya mohon ijin untuk membuat tulisan dengan tema dan model tulisan yang agak mirip dengan artikel ini..🙂

    Terima kasih, dan salam kenal dari Blogger Bogor…🙂

  4. Asslm,saya ingin bertanya,untuk ukuran Mahasiswa yang masih duduk di bangku kuliah apakah bisa mendaftar CPNS?
    Mohon penjelasan dari Bapak.

    Wassalm

    Linda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s